Kota Garda mengejutkan Bara dengan keutuhannya. Setelah berbulan-bulan hidup di antara reruntuhan dan parit, melihat sebuah kota yang dindingnya masih berdiri tegak, yang jendelanya masih punya kaca, yang jalanannya tidak berlubang karena meriam—itu terasa hampir tidak senonoh. Anak-anak berlarian di alun-alun. Seorang perempuan menjemur cucian. Bau roti panggang mengambang dari sebuah warung, dan perut Bara mencelos karena rindu pada sesuatu yang tak ia mengerti.
Ia berjalan menyusuri jalan dengan seragam compang-camping dan sepatu yang masih membawa lumpur Sektor Tujuh, dan orang-orang menatapnya—bukan dengan hormat, melainkan dengan semacam ketidaknyamanan, seakan kehadirannya mengingatkan mereka pada sesuatu yang lebih suka mereka lupakan. Bara menyadari, dengan kepahitan yang dingin, bahwa di kota ini perang adalah berita di koran, bukan lumpur di kuku.
Markas batalion menempati sebuah gedung bekas sekolah. Di koridornya, para perwira berlalu-lalang dengan seragam bersih, sepatu mengilap, suara percakapan yang ringan. Di sebuah ruangan, Bara mendengar tawa dan dentingan gelas, dan harum kopi sungguhan—bukan air pahit yang mereka rebus dari ampas yang sama tiga kali di parit. Ia diminta menunggu di bangku kayu, dan ia duduk di sana dengan kaku, merasa seperti binatang yang dibawa masuk dari ladang. Ia memperhatikan lumpur kering rontok dari sepatunya ke lantai ubin yang bersih, dan ia merasa malu, lalu marah pada dirinya sendiri karena merasa malu. Lumpur ini, pikirnya, lumpur ini lebih jujur dari semua kemilau di koridor ini. Di dinding masih tergantung peta dunia tua dari masa gedung ini menjadi sekolah, dengan negeri-negeri berwarna cerah yang batas-batasnya kini ditulis ulang dengan darah anak-anak seusia murid yang dulu duduk di sini.
Mayor Hardi menerimanya di ruangan yang dulu mungkin kelas. Di dinding masih ada papan tulis tua. Di atas meja terbentang peta besar dengan paku-paku berwarna dan bendera-bendera kecil. Hardi adalah lelaki bertubuh tegap dengan kumis terawat dan mata yang menghitung. Ia tak menyuruh Bara duduk.
"Jadi kau yang menolak perintah Letnan Surya," kata Hardi, tanpa mengangkat kepalanya dari peta.
"Saya menjalankan perintah itu, Pak," kata Bara. "Dengan cara yang menyisakan sepuluh nyawa lebih banyak."
Hardi mengangkat kepala, menatapnya dengan ketertarikan yang dingin, seperti orang menimbang barang dagangan. "Surya menulis laporan. Bukan menuntutmu—justru sebaliknya. Ia bilang kau benar dan ia salah, dan ia minta dirinya sendiri yang ditegur." Hardi mendengus pelan, entah geli entah jijik. "Perwira yang menyalahkan diri sendiri. Akademi mencetak orang-orang lembek belakangan ini."
Bara tidak menjawab. Ia menatap peta di meja, dan untuk pertama kali ia melihat perang dari atas—garis-garis, sektor-sektor, panah-panah—dan ia menyadari bahwa di sini, di ketinggian ini, Sektor Tujuh hanyalah sebuah titik kecil. Sahid hanyalah sebuah angka yang berkurang dari sebuah daftar. Dada Bara terasa sesak.
"Aku tidak memanggilmu untuk menghukummu," lanjut Hardi, kembali ke petanya. "Aku memanggilmu karena aku butuh orang yang anak buahnya tidak mati sia-sia. Garis depan butuh orang yang bisa membuat keputusan. Surya punya otak tapi tak punya nyali untuk kotor. Kau punya keduanya." Ia menancapkan sebuah paku ke peta. "Kembalilah ke front. Pertahankan posisimu. Akan ada hari di mana aku butuh sektormu menahan sesuatu yang besar, dan aku ingin orang sepertimu di sana. Mengerti?"
Sesuatu di nada itu membuat bulu kuduk Bara meremang. Pertahankan posisimu. Menahan sesuatu yang besar. Bara mengenali cara seorang lelaki memandang bidak di papan catur. Ia mengangguk pelan, dan menyimpan firasat itu dalam-dalam.
"Boleh saya bertanya, Pak," kata Bara sebelum pergi. "Kopral Jaya. Dari regu saya. Ia dirawat di rumah sakit lapangan di kota ini. Boleh saya menjenguknya?"
Hardi mengibaskan tangan, sudah kehilangan minat. "Lakukan apa maumu sebelum kereta berangkat besok pagi."
Rumah sakit lapangan menempati sebuah gereja tua di tepi kota. Bau di dalamnya menghantam Bara begitu ia masuk—karbol, nanah, dan sesuatu yang manis-busuk yang ia kenal terlalu baik. Deretan ranjang besi memenuhi nave gereja, dan di setiap ranjang berbaring seseorang yang perangnya sudah berakhir dengan cara yang lebih kejam daripada kematian. Yang tak berlengan. Yang tak berkaki. Yang menatap langit-langit dengan mata yang tak melihat apa-apa lagi.
Bara berjalan menyusuri lorong ranjang itu pelan, dan setiap wajah yang ia lewati menancap di ingatannya. Seorang lelaki tua sebelum waktunya menatap ke arah jendela, bibirnya bergerak tanpa suara, menghitung sesuatu yang tak terlihat. Yang lain tertawa sendiri pada lelucon yang tak ada. Seorang anak—tak lebih tua dari Marsudi—berbaring tanpa kedua kaki, matanya kering dan terbuka, sudah berhenti menangis karena air matanya habis. Inilah perang yang tak masuk koran di Kota Garda, pikir Bara. Bukan yang mati. Yang mati sudah selesai. Ini—yang tersisa, yang dipulangkan separuh, yang akan hidup puluhan tahun lagi membawa malam yang tak pernah berakhir—inilah ongkos yang sesungguhnya.
Bara menemukan Jaya di pojok, di dekat jendela yang cahayanya jatuh redup. Sang kopral tampak menyusut, kulitnya kuning, kaki kanannya hanya gundukan rata di bawah selimut. Wajah yang dulu keras seperti batu—yang dulu meneriaki Bara di depot, yang menghiburnya seperti ayah setelah pembunuhan pertamanya—kini kendur dan tua, ditarik ke bawah oleh demam dan rasa sakit. Mata Bara panas seketika.
"Pak," bisiknya, berlutut di samping ranjang. "Pak Jaya. Ini Bara."
Jaya tak bergerak. Napasnya dangkal dan jauh, dada naik-turun seperti orang yang menyeberangi sungai yang terlalu lebar. Seorang mantri berjalan lewat, dan Bara mencengkeram lengannya. "Bagaimana keadaannya?"
Mantri itu, lelah dan muda, menatap Jaya lalu menatap Bara dengan kejujuran yang menyakitkan. "Demamnya naik-turun. Lukanya melawan, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah berperang. Kami tidak tahu, Nak. Kadang yang sekuat ini malah menyerah, dan yang lemah malah bertahan. Perang juga begitu, kan." Ia menepuk pundak Bara dan berlalu.
Bara duduk di lantai dingin gereja itu, di samping lelaki yang telah menjadi ayah baginya, dan ia menggenggam tangan Jaya yang kurus. Di luar, lonceng kota berdentang menandai senja. "Saya bawa anak-anak pulang, Pak," bisiknya pada lelaki yang mungkin tak mendengar. "Saya masih bawa mereka. Saya belum berhenti. Bapak juga jangan berhenti."