Bara tidur di lantai gereja itu, di samping ranjang Jaya, kepalanya bersandar di tepi besi yang dingin. Sepanjang malam ia terjaga setiap kali napas sang kopral tersendat, mendengarkan dengan jantung berdebar sampai dada itu kembali naik. Lilin-lilin di ujung lorong menyala redup. Suara-suara dari ranjang lain mengisi kegelapan—erangan, gumaman, satu suara yang terus memanggil nama seseorang bernama Lestari yang tak pernah datang.
Bara tak tahu kapan ia tertidur, tapi ia tahu persis kapan ia terbangun. Menjelang dini hari, saat cahaya pertama menyusup lewat jendela kaca patri yang separuh pecah—membaurkan warna merah dan biru pucat ke atas selimut-selimut kelabu—Bara merasakan jari-jari di tangannya bergerak. Lemah, hampir tak terasa, seperti getaran sayap kupu-kupu, tapi nyata. Ia menegakkan kepala seketika, kantuk lenyap dari tubuhnya seperti air yang ditumpahkan.
"Pak?" bisiknya.
Mata Jaya terbuka setengah, kabur dan kebingungan, mencari-cari di langit-langit gereja seakan tak tahu di mana ia berada. Lalu mata itu menemukan wajah Bara, dan sesuatu menyala tipis di sana—pengenalan yang menembus kabut demam.
"Bara," suaranya hanya hembusan, kering seperti daun mati. "Kau... kenapa kau di sini. Kau harusnya... di front. Sama anak-anak."
Bara tertawa, dan tawa itu pecah jadi sesuatu yang lain di tengah jalan. "Saya cuma sebentar, Pak. Besok pagi saya balik. Saya cuma mau lihat Bapak."
Jaya menutup mata sejenak, mengumpulkan tenaga yang nyaris tak ada. Saat ia membukanya lagi, sorot itu lebih jernih, lebih dalam, seakan demam mundur sejenak untuk memberinya satu jendela kecil. "Berapa... yang tersisa?"
Bara menelan. "Sebelas, Pak. Kemarin dua belas. Kami kehilangan satu. Namanya Sahid." Ia tak bisa berbohong pada Jaya. Ia tak pernah bisa.
Jaya mengangguk pelan, dan di matanya ada duka yang sudah terlalu sering ia kenal hingga tak lagi mengejutkannya, hanya melukainya lebih dalam tiap kali. "Sahid," ulangnya, menyimpan nama itu seperti orang menyimpan kerikil di saku, satu lagi untuk ditimbang sepanjang sisa hidupnya. "Sebelas." Ia memejamkan mata sejenak, dan Bara melihat sang kopral menghitung di balik kelopak itu—bukan yang mati, melainkan yang masih bisa diselamatkan, kalkulus yang sama yang menghidupinya selama bertahun-tahun. Jari-jarinya mengencang di tangan Bara dengan sisa kekuatan terakhir. "Bawa mereka pulang, Bara. Kau dengar aku? Sebelas itu... kau bawa pulang. Jangan kau kasih jadi sepuluh demi peta siapa pun. Jangan kau dengar orang yang menyuruh dari belakang meja kalau hatimu bilang itu membunuh sia-sia. Kau yang di lumpur. Kau yang tahu."
Air mata Bara jatuh ke tangan mereka yang bertaut. "Saya janji, Pak. Saya janji. Bapak juga harus pulang. Bapak ada di daftar saya. Bapak salah satu yang harus saya bawa pulang."
Sesuatu yang nyaris seperti senyum bergerak di bibir Jaya yang pecah. "Aku sudah tua, Nak. Yang muda yang harus pulang. Aku cuma harus... lihat kalian sampai di sana." Ia menarik napas yang berat. "Foto itu. Masih kau simpan?"
Bara mengeluarkan kaleng dari dadanya, membukanya dengan tangan gemetar, mengangkat foto kecil seorang wanita dan gadis kecil yang tersenyum. Jaya menatapnya, dan untuk waktu yang lama matanya hanya berada di sana, di wajah-wajah yang sudah lama tiada, dan Bara melihat seluruh dunia lelaki itu terkandung dalam tatapan itu—kehilangan yang menjadi alasan ia bertahan hidup, dan alasan ia tak takut mati.
"Selama kau ingat namanya," bisik Jaya, "dia belum benar-benar mati."
"Selama saya ingat namanya," Bara mengulang, suaranya retak, "dia belum benar-benar mati."
Jaya menutup mata, kelelahan oleh percakapan sependek itu. Napasnya kembali memanjang dan dangkal, kabut demam merangkak kembali. Tapi sebelum ia jatuh, bibirnya bergerak sekali lagi, hampir tak terdengar.
"Pergi sekarang. Anak-anak menunggumu. Mereka lebih butuh kau hidup daripada aku butuh kau di sini." Sebuah jeda. "Aku bangga, Bara. Sejak hari pertama kau menangis setelah menembak orang... aku tahu kau tak akan jadi pembunuh. Kau jadi penjaga. Itu lebih sulit. Itu lebih berani." Matanya terkatup. "Sekarang pergi."
Bara berlutut di sana lama setelah Jaya kembali tidur, menggenggam tangan itu, tak sanggup melepasnya. Ia mendengarkan napas sang kopral memanjang dan memendek, naik turun seperti pasang surut yang tak ia kuasai, dan ia berdoa dengan kata-kata yang ia susun sendiri karena ia tak hapal doa yang panjang—berdoa pada apa pun yang masih mungkin mendengar di tempat seperti ini, agar lelaki ini diberi waktu, agar daftar yang ia jaga tak bertambah satu nama lagi yang paling ia sayang. Di luar, fajar merekah di atas Kota Garda, dan untuk pertama kali sejak Bukit 88, fajar tak terasa seperti ancaman. Hanya cahaya yang menua, yang pergi dan datang, tak peduli siapa yang ia tinggalkan. Lonceng pagi berdentang di kejauhan, dan suara itu—suara kota yang hidup, yang punya hari biasa, yang punya pagi yang tak diukur dengan peluit serangan—terasa seperti dari dunia lain yang sudah lama ia tinggalkan.
Akhirnya Bara berdiri. Ia membungkuk dan mencium dahi Jaya yang panas, seperti seorang anak pada ayahnya. "Saya kembali, Pak," bisiknya. "Saya selalu kembali."
Di stasiun, kereta menuju front sudah mengepulkan asap. Bara naik dengan ransel di pundak dan harapan yang rapuh di dada—harapan yang lebih menyakitkan daripada putus asa, karena ia bisa pecah kapan saja. Kota Garda menjauh di belakang, utuh dan damai dan asing, dan di depan menanti lumpur yang membesarkannya, anak-anak yang menunggunya, dan janji yang harus ia bayar dengan setiap napas yang tersisa. Roda kereta berdentang ke utara, ke utara, ke utara, membawanya kembali ke tempat di mana ia tahu siapa dirinya.