Pukul dua, matahari berdiri di puncak langit seperti mata yang tak mengedip. Bara berbaris di garis loncat bersama anak-anak, jari di pelatuk, dan di ujung parit, Letnan Surya mengangkat peluitnya dengan tangan yang berkilat oleh keringat. Bara sudah memutuskan. Ia tak bisa menolak perintah tanpa membuat anak-anak ditembak sebagai pembangkang. Tapi ia bisa memimpin serangan ini dengan caranya sendiri—dengan cara yang menyisakan sebanyak mungkin nyawa.
Malam sebelumnya ia telah berbicara pada mereka, pelan dan jujur. Ia tak menjanjikan kemenangan. Ia menjanjikan satu hal saja: bahwa ia akan keluar lebih dulu, bahwa mereka akan bergerak dalam regu kecil dari satu lubang kawah ke lubang kawah berikutnya, tidak berlari tegak menyongsong peluru, dan bahwa begitu ia memberi isyarat mundur, mereka harus mundur tanpa malu. "Tak ada kehormatan dalam mayat," katanya. "Kehormatan ada di membawa pulang yang hidup."
Sebelum peluit berbunyi, Bara berbalik sekali lagi pada anak-anak di garis loncat. Wajah-wajah itu pucat, bibir-bibir komat-kamit oleh doa atau nama ibu. "Ingat," katanya pelan, cukup keras hanya untuk mereka. "Dari kawah ke kawah. Jangan tegak. Jangan jadi pahlawan. Kalau aku angkat tangan begini, kalian mundur, dan tak ada yang akan menyebut kalian pengecut. Aku yang pertama keluar. Aku yang terakhir masuk. Kita pulang bersama atau kita tahan diri bersama." Beberapa mengangguk. Marsudi, di barisan belakang sesuai perintah Bara, menatapnya dengan mata yang basah.
Peluit Surya melengking. Bara melompat keluar lebih dulu, dan dunia langsung pecah jadi suara.
Senapan mesin musuh membuka mulut dari dua arah, persis seperti yang ia katakan, peluru menjalin tirai di atas tanah setinggi lutut. Bara menjatuhkan diri ke kawah pertama, menyeret seorang prajurit muda bersamanya. "Tetap rendah! Jangan berdiri! Merangkak ke kawah berikutnya saat aku tembak!" teriaknya, suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh. Ia menembakkan beberapa peluru ke sarang kanan, memaksa kepala-kepala musuh menunduk, dan dalam jeda sedetik itu ia melambai. Dua orang melesat ke kawah berikutnya. Hidup.
Tapi tidak semua menurut. Di sayap kiri, seorang prajurit bernama Sahid—baru, terlalu bersemangat membuktikan diri—berdiri dan berlari tegak menyongsong garis, mungkin karena panik, mungkin karena ia masih percaya pada gambaran perang yang heroik. Bara berteriak, suaranya serak, "SAHID, MERUNDUK!" tapi suara itu tenggelam. Senapan mesin menemukannya di tengah lapangan. Tubuh muda itu terhenti seakan menabrak dinding kaca, lalu terlipat ke tanah dan tak bergerak lagi.
Bara menutup matanya sekejap, lalu membukanya. Tak ada waktu untuk duka. Hanya ada waktu untuk menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan.
Serangan itu mati separuh jalan, persis seperti yang ia ramalkan. Matahari di belakang punggung mereka tak berarti apa-apa bagi peluru; cahaya tak menghentikan timah. Tak ada yang sampai ke kawat berduri. Bara mengangkat tangannya tinggi—isyarat yang sudah mereka sepakati—dan satu per satu, di bawah perlindungan tembakannya, anak-anak merangkak kembali ke parit, menyeret yang terluka, dada menempel ke tanah, gigi mengatup menahan teror. Ia keluar terakhir, menarik tubuh Sahid sejauh yang ia bisa di bawah hujan peluru. Tubuh muda itu berat dengan cara yang tak masuk akal—berat bukan karena daging, tapi karena segala hal yang tak akan pernah lagi dilakukannya. Bara menariknya sejengkal demi sejengkal sampai peluru memuntahkan tanah ke wajahnya dan ia tahu, dengan kepahitan yang dingin, bahwa kalau ia memaksa lebih jauh ia akan jadi mayat kedua yang tergeletak di sebelahnya. Ia terpaksa melepaskan tangan Sahid di tengah lapangan, di tanah tak bertuan yang sama yang menelan Reno dulu. "Maaf," bisiknya, suaranya hilang dalam gemuruh. "Maaf. Maaf." Air matanya bercampur lumpur dan keringat saat ia berguling kembali ke dalam parit.
Mereka menghitung. Satu tewas. Tiga terluka. Bisa jauh lebih buruk. Seharusnya jauh lebih buruk—kalau mereka maju dengan cara Surya, berbaris tegak, mungkin tak satu pun kembali.
Letnan Surya berdiri di parit, wajahnya pucat sepucat kapur. Ia menatap tanah tak bertuan, menatap tubuh Sahid yang tergeletak sendirian di sana, lalu menatap tangannya sendiri yang masih memegang peluit. Sesuatu retak di wajahnya. Keyakinan akademi itu, panah-panah rapi di peta, rumus matahari di belakang punggung—semuanya hancur di hadapan satu mayat muda yang tak akan pulang.
"Aku..." Surya membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar.
Bara melewatinya tanpa berhenti, membawa seorang yang terluka di pundaknya menuju lubang perlindungan. Ia tak punya tenaga untuk amarah. Hanya kelelahan yang sangat tua.
Malam itu Surya datang ke sudut Bara, duduk di lumpur tanpa peduli pada seragamnya yang mengilap. Untuk waktu yang lama ia tak bicara. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar: "Kau benar. Kau benar dan aku tidak mendengar." Ia menatap tangannya. "Namanya Sahid. Aku bahkan belum hapal namanya sebelum hari ini."
"Sekarang kau hapal," kata Bara, tanpa menoleh. "Ingat terus. Selama kau ingat namanya, dia belum benar-benar mati. Dan ingat juga harganya. Supaya tak ada Sahid lagi karena rumus."
Surya menunduk, dan untuk pertama kali bahunya berguncang seperti anak kecil.
Esok paginya, kurir datang lagi. Kali ini perintah itu bukan untuk Surya. Ia mencari Bara secara langsung. Bara dipanggil ke markas batalion di kota garnisun belakang—Kota Garda—untuk "menghadap". Wira menatapnya cemas. "Bang, mereka mau hukum Abang karena kemarin?"
Bara melipat surat itu dan menyelipkannya ke kantong dada, di samping kaleng berisi tiga keluarga yang ia jaga. "Entah," katanya. Ia memandang ke arah belakang, ke arah kota yang tak pernah ia lihat, tempat para perwira tinggal jauh dari lumpur. "Tapi kalaupun mereka mau adili aku, aku akan tidur di sel dengan tenang. Sebelas anak masih bernapas malam ini. Itu cukup." Ia mengencangkan tali ranselnya. "Jaga mereka selagi aku pergi, Wira. Tetap rendah. Aku akan kembali."