Letnan Surya datang ke parit dengan peta yang dilipat rapi di bawah ketiaknya. Sudah berbulan ia memimpin posisi ini sejak tiba di Bukit 88, dan lumpur telah mulai menggerus kilau seragamnya—tapi belum kilau keyakinannya. Bara mengamatinya dari balik karung pasir, dan mengenali sesuatu di sorot mata itu: sisa keangkuhan akademi yang belum sepenuhnya diserut oleh kematian, keyakinan yang sudah retak sekali di senja saat penembak jitu menyambar topinya, tapi belum sembuh menjadi kerendahan hati.
"Sersan Bara," kata Surya, meski Bara tak pernah secara resmi menyandang pangkat apa pun selain yang diwariskan oleh keadaan. Ia membentangkan petanya di atas peti amunisi. "Aku sudah pelajari posisi musuh. Garis depan mereka di seberang sana tipis. Kalau kita serang siang ini, saat matahari di belakang kita dan menyilaukan mereka, kita bisa rebut parit garis pertama dan dorong mereka mundur tiga ratus meter. Aku sudah hitung. Secara taktik, ini bisa."
Bara menatap peta itu. Garis-garis bersih, panah-panah rapi, jarak yang dihitung dengan penggaris. Tinta hitam di atas kertas kuning, rapi seperti soal ujian. Lalu ia menatap tanah tak bertuan yang sebenarnya: hamparan terbuka tanpa naungan, kawat berduri yang tak terlihat di peta, kawah-kawah lama yang menganga, dan di seberang sana, di titik yang ditandai Surya sebagai "tipis", Bara tahu ada dua sarang senapan mesin yang saling melindungi dalam pola silang. Ia tahu karena ia sudah dua bulan menatapnya setiap fajar, menghapal kapan mereka berganti penjaga, menghitung berapa detik jeda di antara rentetan mereka. Di peta itu tak ada satu pun dari semua itu. Di peta itu, perang adalah geometri. Di tanah, perang adalah daging.
"Dengan segala hormat, Pak Letnan," kata Bara pelan, "kalau kita maju siang hari di tanah terbuka itu, kita tidak merebut apa-apa. Kita cuma mengirim anak-anak ini jadi pupuk."
Wajah Surya mengeras. "Aku tidak menanyakan pendapatmu soal apakah ini berbahaya. Tentu berbahaya. Perang itu berbahaya. Aku memberitahumu rencananya."
"Senapan mesin mereka ada dua, bukan satu," kata Bara, jarinya menunjuk titik di tanah, bukan di peta. "Di sana, dan di sana. Yang satu menjaga yang lain. Begitu orang pertama kita keluar dari parit, peluru dari dua arah ketemu di tengah lapangan. Tak ada yang sampai ke kawat berduri, apalagi ke parit mereka. Saya sudah lihat hal yang sama di Bukit 88, Pak. Saya yang menyeret yang tersisa kembali."
"Bukit 88 direbut," kata Surya tajam.
"Direbut," Bara mengulang, dan suaranya jadi dingin. "Dengan harga separuh kompi. Dengan harga Kopral Jaya yang sekarang sekarat di rumah sakit belakang. Bukit itu kami beli dengan nyawa, bukan dengan rumus di kertas. Dan itu serangan fajar, bukan siang. Bedanya antara hidup dan mati cuma di mana matahari berdiri."
Hening menggantung di parit. Beberapa prajurit yang mendengar menundukkan kepala, pura-pura sibuk dengan senapan masing-masing. Tapi Bara melihat bahu mereka menegang, melihat cara mereka mencuri pandang ke arahnya—seperti orang menatap satu-satunya jembatan di atas jurang. Mereka mendengarkan. Mereka tahu nyawa mereka sedang ditimbang di antara dua lelaki di atas peti amunisi ini. Wira berdiri kaku di sudut, matanya bergerak dari Bara ke Surya dan kembali, rahangnya mengeras.
"Kau tahu apa konsekuensi menolak perintah perwira di garis depan?" suara Surya bergetar, antara marah dan takut bahwa ia goyah. "Itu pembangkangan. Itu bisa diadili. Bisa ditembak."
"Saya tahu, Pak," kata Bara. Ia tak mengangkat suara. Ia hanya menatap lurus. "Dan saya juga tahu apa konsekuensinya kalau saya menyuruh sebelas anak muda yang masih punya ibu memanjat keluar parit menuju dua senapan mesin di siang bolong, cuma supaya garis di peta bergeser tiga ratus meter yang besok pagi direbut balik. Saya sudah menggali terlalu banyak kuburan, Pak. Saya tidak mau menggali yang ini karena rumus."
Surya menatapnya lama. Di matanya Bara melihat pergulatan—keyakinan akademi yang berbenturan dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang gentar. Bara mengenali pergulatan itu; ia pernah melihatnya di cermin air parit, di hari-hari pertama, saat dunianya yang sederhana bertabrakan dengan dunia yang tak masuk akal. Surya bukan orang jahat. Ia hanya muda dengan cara yang berbeda dari Bara—muda dengan kepala penuh teori, bukan muda dengan tangan penuh padi. Tapi keangkuhan seorang muda yang takut terlihat lemah di hadapan anak buahnya lebih kuat malam itu, dan Bara melihat momen ketika rasa takut akan kehilangan muka mengalahkan rasa takut akan kehilangan nyawa orang lain. Itu selalu jadi momen yang paling mematikan dalam perang—bukan saat orang berani, tapi saat orang terlalu takut untuk mengaku takut.
"Kita serang siang ini, pukul dua," kata Surya akhirnya, melipat petanya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Itu perintah. Persiapkan orang-orangmu, Sersan."
Ia berbalik dan pergi menyusuri parit, langkahnya cepat, terlalu cepat, seperti orang yang melarikan diri dari suaranya sendiri.
Bara berdiri lama menatap punggung itu menghilang di tikungan parit. Wira mendekat, suaranya tercekik. "Bang, kita... kita beneran maju siang ini? Bang Bara bilang sendiri itu—"
"Aku tahu apa yang kubilang," potong Bara, dan ia menutup matanya. Di kelopak matanya ia melihat wajah Jaya, mendengar suaranya: kau bawa anak-anak ini pulang. Ia membuka mata. Tanah tak bertuan terhampar di bawah matahari yang mulai naik, terang dan tak berampun, menanti pukul dua seperti menanti panen yang ditabur dengan tulang.
"Kumpulkan yang lain," kata Bara akhirnya, suaranya datar dan keras seperti besi yang sudah terlalu sering ditempa. "Aku akan bicara dengan mereka. Dan dengarkan aku baik-baik, Wira. Apa pun yang terjadi di lapangan itu nanti—kau jangan keluar dari parit sampai aku yang menyuruh. Kau dengar? Sampai aku."