Sumur tua itu berdiri di antara dua garis seperti batu nisan yang lupa siapa yang dikuburnya. Bara merangkak mendekat di bawah cahaya bulan yang kurus, ember kulit di punggungnya, tiga prajurit di belakangnya menahan napas. Tanah tak bertuan itu bau besi dan bangkai, tapi di lubang gelap sumur itu ada satu hal yang lebih berharga dari amunisi: air.
Mereka sudah dua malam datang ke sini. Kemarau telah mengeringkan tong-tong di parit sampai dasar, dan disentri membuat tubuh yang kehausan jadi cangkang yang gemetar. Maka sumur ini menjadi gencatan diam yang tak pernah ditandatangani siapa pun. Musuh datang dari sisi utara. Mereka datang dari selatan. Tak ada yang menembak selama timba diturunkan. Sebuah perjanjian tanpa kata yang dijaga oleh rasa haus yang sama.
Bara menurunkan ember, mendengar gema tipis saat dasar menyentuh air. Ia menarik tali perlahan, dan saat itulah ia mengangkat wajah, dan jantungnya berhenti sejenak.
Di seberang bibir sumur, tak lebih dari empat langkah, berdiri seorang serdadu musuh. Helm baja menutupi sebagian dahinya, tapi cahaya bulan jatuh tepat di tulang pipi dan rahang yang menonjol karena lapar. Mata itu. Bara mengenalnya seketika, dengan kepastian yang dingin dan ganjil. Lelaki muda yang dulu terjerat kawat berduri, yang ia beri air dan roti dan ia lepaskan. Lelaki yang menyelipkan foto ibu dan adiknya ke tangan Bara, sebagai gantinya tak ada apa-apa selain hidup.
Si Wajah.
Lelaki itu juga mengenalinya. Bara melihatnya di sana, di sekejap matanya yang melebar, di tangan yang membeku di gagang ember sendiri. Mereka berdua tak bergerak. Di belakang Bara, ia mendengar Wira menarik kokang dengan pelan, dan ia mengangkat tangan ke bawah, isyarat untuk menahan. Jangan. Diam.
Waktu mengental. Di kejauhan, seekor anjing liar melolong pada sesuatu yang tak ada. Air menetes dari ember Bara, satu tetes, dua tetes, jatuh kembali ke kegelapan sumur dengan bunyi yang terdengar terlalu keras.
Si Wajah tidak mengangkat senapannya. Bara tidak mengangkat senapannya. Mereka saling memandang melintasi lubang gelap yang memisahkan dua bangsa yang dikirim untuk saling membunuh, dan dalam tatapan itu ada sesuatu yang lebih tua dari perang—pengakuan bahwa di seberang sana, yang berdiri bukan monster, melainkan seseorang yang juga punya ibu yang menanti, juga punya tenggorokan yang kering, juga akan mati kalau diperintahkan dan tak tahu untuk apa.
Si Wajah perlahan menundukkan kepalanya. Bukan tanda menyerah. Tanda mengenang. Sebuah anggukan yang berat, seakan mengakui bahwa mereka berdua membawa beban yang sama dan tak satu pun bisa meletakkannya.
Bara membalas anggukan itu. Kerongkongannya tercekat. Ia ingin mengatakan sesuatu—tapi mereka tak punya bahasa yang sama, dan kalaupun punya, tak ada kata yang muat untuk semua ini. Maka ia hanya mengangkat embernya yang penuh, lalu mundur, satu langkah, dua langkah, matanya tak pernah lepas dari mata si Wajah. Dan di seberang, si Wajah pun mundur, menarik timbanya, melebur kembali ke dalam bayangan parit musuh seakan ia tak pernah ada.
Tak ada tembakan. Tak ada darah. Hanya dua orang yang kembali ke lubang masing-masing, membawa air dan sesuatu yang jauh lebih berat dari air.
Di parit, Wira menatapnya dengan mata bertanya. "Bang, itu tadi... kita bisa habisi dia, Bang. Sumber air mereka jadi cuma punya kita."
Bara menurunkan ember, menatap permukaan air yang bergetar memantulkan bulan. "Dan besok malam mereka habisi kita di sini sebagai balasan, dan sumur ini jadi kuburan dua-duanya. Lalu kita semua mati kehausan sambil saling menjaga, sampai tak ada yang tersisa untuk menimba." Ia menyeka mulutnya. "Ada hal-hal yang tak boleh kita rebut, Wira. Bukan karena kita lemah. Karena kalau kita rebut juga, kita berhenti jadi manusia, dan kita tetap kalah."
Wira diam lama. Lalu ia menunduk. "Bang Bara kenal dia, ya?"
Bara tidak menjawab. Ia memandang ke utara, ke arah parit musuh yang gelap, dan untuk sekejap ia membayangkan si Wajah di sana, meminum air yang sama dari sumur yang sama, di bawah bulan yang sama. Foto ibu dan adik lelaki itu masih ada di kotak kalengnya, di samping bungkus kunyit dari ibunya sendiri dan foto istri-putri Jaya. Tiga keluarga, tiga doa, dari tiga sisi medan yang sama. Bara menutup mata.
"Pernah," katanya akhirnya, suaranya nyaris bisik. "Dulu sekali. Di kehidupan yang rasanya bukan punyaku lagi."
Ia membagikan air pada anak-anak, menetes-neteskan ke bibir yang pecah, dan setiap teguk terasa seperti pinjaman dari musuh yang juga kehausan. Malam itu Bara tak bisa tidur. Ia berbaring menatap langit penuh bintang yang tak peduli, dan untuk pertama kalinya sejak Bukit 88, ia merasa bukan dirinya yang berubah, melainkan dunia yang semestinya berubah dan tak mau.
Menjelang fajar, kurir berkuda datang dari arah belakang, lumpur kering di sepatunya. Ia membawa secarik kertas perintah dari Letnan Surya. Bara membacanya dua kali, dan rahangnya mengeras. Sejak peluru penembak jitu menyambar topinya di Bukit 88, sang letnan memang sudah mulai mendengarkan tanah—tapi perintah yang satu ini ditulis dengan tinta lama, tinta akademi, seolah pelajaran itu belum sepenuhnya meresap. Bara melipat kertas itu, menatap air di tong mereka, lalu menatap wajah-wajah muda yang tidur kelelahan di sekelilingnya, dan ia tahu hari yang akan datang tak ada hubungannya dengan haus, dan segalanya dengan seseorang yang masih belajar memilih antara kertas dan nyawa.