Matahari telah meninggi sepenggalah ketika Kopral Jaya akhirnya tiba di parit yang telah direbut, merangkak masuk dengan napas tersengal dan lumpur menutupi separuh wajahnya. Bara merasakan beban yang tak ia sadari ia panggul terangkat sedikit begitu melihat lelaki tua itu masih hidup.
"Bagus, Nak," kata Jaya, menepuk pundaknya keras. Matanya menyapu parit, menghitung. Bara melihat sesuatu meredup di wajah sang kopral saat hitungan itu selesai. Terlalu sedikit. Mereka berangkat belasan; kini tak sampai sepuluh yang masih bisa berdiri. "Bagus sekali. Tapi belum selesai."
"Puncaknya," kata Bara. "Masih ada satu sarang lagi. Dan ranjau di lereng atas. Aku lihat seseorang menginjaknya tadi."
Jaya mengangguk berat. Ia mengeluarkan peta lusuh dari dalam mantelnya, membentangkannya di lutut sambil sesekali mengintip ke atas. "Artileri kita akan menghantam puncak ini begitu kita kuasai. Tapi mereka tak bisa menembak selama kita masih di lereng — terlalu rapat, kita yang kena. Maka kita harus naik dulu. Kita harus rebut puncak itu dengan tangan kita sendiri." Ia melipat peta. "Dan harus cepat. Sebelum mereka kirim bala bantuan dari balik bukit."
Bara menatap puncak. Jaraknya tak jauh — mungkin tiga puluh langkah dari bibir parit. Tapi tiga puluh langkah itu adalah lereng terbuka, miring, bertabur ranjau, di bawah moncong sarang terakhir. Tiga puluh langkah yang bisa jadi yang terpanjang dalam hidup seseorang. Atau yang terakhir.
"Aku akan memimpin lonjakan," kata Jaya, dan ada sesuatu dalam suaranya yang membuat dada Bara dingin, sesuatu yang ia ingat dari malam sebelumnya, dari foto yang kini ada di sakunya. "Aku yang paling tua di sini. Aku sudah hidup paling banyak."
"Pak—"
"Dengarkan dulu." Jaya menggenggam lengannya. "Aku yang di depan. Kalian ikuti jejakku — persis jejak kakiku, paham? Di mana aku menginjak, di situ aman. Aku tahu cara membaca tanah yang berranjau. Kalian tinggal mengikuti. Bara, kau di belakang, kau jaga yang muda-muda. Kau dorong mereka naik."
Bara ingin membantah, ingin berkata bahwa ia saja yang di depan, bahwa Jaya terlalu berharga, bahwa anak-anak ini membutuhkan komandan mereka hidup. Tapi ia melihat mata Jaya dan tahu tak ada argumen yang akan menang. Maka ia hanya mengangguk, dan menelan ketakutan yang baru.
Mereka menunggu sampai awan tipis menutupi matahari, melembutkan bayangan, mengaburkan siluet. Lalu Jaya bangkit, menarik napas, dan berbisik, "Untuk mereka yang tak bisa pulang." Dan ia melompat keluar.
Apa yang terjadi berikutnya terjadi dalam pecahan-pecahan yang akan Bara putar ulang ribuan kali dalam ingatannya. Jaya berlari menanjak, lincah dan pasti untuk lelaki seusianya, menari di antara titik-titik tanah yang hanya ia yang bisa baca. Anak-anak mengikuti di jejaknya, kaki di atas kaki, seperti barisan semut menyusuri jalur yang tak terlihat. Sarang terakhir membuka tembakan, dan Bidin serta dua penembak terbaik membalas dari bawah, menahan kepala musuh menunduk. Bara mendorong yang termuda naik, satu per satu, tangannya di punggung mereka, suaranya tak henti — "jejaknya, ikut jejaknya, jangan menyimpang sejengkal pun" — memecah kepanikan menjadi langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan.
Lereng itu terjal dan terbuka, dan setiap langkah adalah taruhan yang dipertaruhkan dua kali: sekali pada ranjau di bawah kaki, sekali pada peluru di udara. Seorang prajurit di depan Bara tersentak dan terjatuh, tertembak bahunya, dan Bara menariknya kembali ke jalur, mendorongnya tetap merangkak naik. Keringat dan debu membuat segalanya kabur. Tapi jejak kaki Jaya tetap di depan, jelas dan pasti, seperti tanda yang ditinggalkan agar mereka tak tersesat, dan selama jejak itu ada, mereka punya jalan untuk diikuti.
Lalu ia melihat granat itu. Dilemparkan dari sarang, jatuh berputar, mendarat di tanah persis di sisi Wira, yang terpaku menatapnya seperti kelinci menatap ular.
Bara tak berpikir. Tubuhnya bergerak sebelum otaknya sempat memutuskan. Ia melemparkan diri, menabrak Wira jatuh ke samping, menendang granat itu menjauh dengan sepatunya sekuat tenaga. Benda itu menggelinding tiga langkah dan meledak, dan dunia menjadi putih dan berdengung, dan sesuatu yang panas mengoyak betis dan punggungnya, dan ia jatuh dengan wajah ke tanah, telinganya dipenuhi suara lonceng.
Untuk beberapa saat yang panjang ia tak tahu apakah ia masih utuh. Tubuhnya terasa jauh, seperti milik orang lain, dan dunia menyusut menjadi dengungan rata dan rasa hangat yang menyebar di punggung bawahnya. Ia menggerakkan jari kaki — masih ada. Menggerakkan jari tangan — masih ada. Wira terbaring di sampingnya, mengerjap, hidup, mulut anak itu bergerak membentuk kata-kata yang tak bisa Bara dengar di balik lonceng yang berdentang di telinganya. Hidup. Ia menyelamatkannya. Sesuatu di dalam dadanya melonggar walau seluruh tubuhnya menjerit.
Ketika dengungan itu mereda, ia mendengar teriakan. Sorak. Mereka telah sampai di puncak. Ia mengangkat kepala, dan melalui kabut rasa sakit ia melihatnya — bayonet-bayonet berkilau, sarang terakhir runtuh, bendera kotor musuh dirobohkan. Bukit 88 telah jatuh.
Dan di puncak itu, berdiri tegak menghadap kemenangan yang baru ia menangkan, Kopral Jaya tiba-tiba terhuyung. Tangannya menekan dadanya. Lalu lelaki itu jatuh berlutut, perlahan, hampir anggun, dan roboh ke samping di atas tanah yang baru ia rebut.
"PAK!" Bara berteriak, dan rasa sakit di tubuhnya lenyap, terbakar habis oleh ketakutan yang jauh lebih besar. Ia bangkit dan merangkak dan berlari menanjak, tak peduli pada ranjau lagi, tak peduli pada apa pun. "PAK JAYA!"
Di puncak Bukit 88, di bawah matahari yang akhirnya menembus awan, kemenangan dan kehilangan tiba dalam napas yang sama.