Bara mencapainya dan jatuh berlutut di sisinya, tangannya bergetar saat menyingkap mantel sang kopral. Ada darah, banyak sekali darah, merembes dari luka di dada bawah, kain seragam menempel gelap dan basah. Jaya masih bernapas — pendek, parau, setiap tarikan adalah perjuangan — tapi matanya terbuka dan jernih, mencari wajah Bara dan menemukannya.
"Jangan bicara, Pak," kata Bara, tangannya menekan luka, mencoba membendung sungai itu dengan kain robekan dari bajunya sendiri. "Jangan bicara. Kita bawa Bapak ke belakang. Bidin! Bidin, ke sini! Cari mantri, cari siapa saja—"
"Tidak ada mantri di bukit ini, Nak," kata Jaya, dan suaranya tenang, terlalu tenang, dengan ketenangan seseorang yang sudah berkali-kali melihat luka seperti ini di tubuh orang lain dan tahu persis apa artinya. "Dan kau tahu itu."
"Diam, Pak. Tolong. Diam saja." Air mata mengaburkan pandangan Bara. Betis dan punggungnya sendiri berdenyut, panas dan basah dari pecahan granat tadi, tapi ia tak merasakannya — atau lebih tepatnya, ia menyingkirkannya, mendorongnya ke suatu tempat di belakang kesadaran tempat rasa sakit harus menunggu giliran. Ia menyeret Jaya dengan hati-hati, sedikit demi sedikit, ke balik sebongkah batu besar di puncak, jauh dari garis tembak, sementara di sekelilingnya anak-anak yang tersisa membentuk lingkaran pertahanan, senapan mengarah ke balik bukit dari mana bala bantuan musuh bisa datang kapan saja. Wira ada di antara mereka, hidup, utuh karena tendangan Bara tadi, dan anak itu menatap dengan wajah hancur pada sosok yang terbaring, tak tahu harus berbuat apa selain menjaga garis.
Jaya mencengkeram pergelangan tangan Bara dengan sisa kekuatannya. "Dengar aku. Aku tak punya banyak waktu, jadi kau dengar baik-baik." Napasnya menggelegak. "Bukit ini sudah kita rebut. Kau pegang. Kau jangan lepaskan. Artileri kita akan datang, mereka akan menghancurkan apa pun yang mencoba merebutnya kembali. Tapi sampai mereka datang, ini tanggung jawabmu. Kau dengar?"
"Saya dengar, Pak. Saya pegang. Tapi Bapak harus—"
"Komandonya kuserahkan padamu." Mata Jaya berkilat, perintah seorang prajurit bahkan di ambang kematian. "Bukan karena pangkat. Karena mereka percaya padamu. Aku lihat tadi, di parit, mereka mengikutimu sebelum mereka mengikutiku. Itu bukan sesuatu yang bisa diajarkan, Bara. Itu kau."
Bara menggeleng, kepalanya, air matanya jatuh ke tanah berdebu. "Saya tidak bisa tanpa Bapak. Saya tidak tahu caranya."
"Kau sudah melakukannya seharian ini." Senyum lemah menyentuh bibir Jaya. "Kau cuma belum sadar." Cengkeramannya melonggar sedikit. "Bara. Anak-anak ini. Kau bawa mereka pulang. Sama seperti dulu kau menjanjikannya. Itu satu-satunya yang kuminta. Itu satu-satunya yang pernah berarti. Bawa mereka pulang."
"Bapak ikut pulang," bisik Bara, suaranya pecah. "Bapak ikut. Kita bawa Bapak pulang juga. Istri dan anak Bapak menunggu—"
Sesuatu melintas di wajah Jaya, sesuatu yang dalam dan jauh dan hampir damai. "Mereka sudah menunggu lama," katanya pelan. "Mungkin sudah waktunya aku menyusul." Lalu, lebih tegas, seakan menarik dirinya kembali sekali lagi: "Foto itu. Simpan. Selama kau ingat namanya..."
"...dia belum benar-benar mati," Bara menyelesaikan, tenggorokannya tercekat.
Jaya tersenyum, dan untuk sesaat ia tampak muda, tampak utuh, tampak seperti seseorang yang akhirnya boleh beristirahat. Lalu matanya menutup perlahan, dan napasnya melambat, dan tangannya yang menggenggam pergelangan Bara menjadi longgar, walau tak sepenuhnya lepas. Dadanya masih bergerak, samar, naik dan turun. Belum. Belum sepenuhnya.
"Pak?" Bara mengguncangnya lembut. "Pak Jaya?"
Tak ada jawaban, hanya napas yang dangkal dan tak teratur, kesadaran yang tenggelam ke suatu tempat yang jauh.
Bara masih membungkuk di atasnya ketika tanah mulai berguncang. Bukan ranjau. Bukan granat. Sesuatu yang lebih besar, datang dari kejauhan dengan jeritan parau di udara — artileri kawan, akhirnya, menggempur lereng bawah dan balik bukit, mengoyak setiap jalan pendekatan yang bisa dipakai musuh untuk merebut kembali apa yang telah mereka tebus dengan begitu mahal. Bumi berdentum, debu naik, dan di tengah hujan besi kawan itu, Bara menundukkan kepala di atas tubuh mentornya dan menahan diri agar tidak hancur.
Ia tak boleh hancur. Belasan orang menatapnya sekarang, menunggu, takut, di puncak bukit yang dikepung. Ia adalah satu-satunya yang tersisa di antara mereka dan kekacauan. Ia teringat malam itu, di parit pertamanya, ketika ia menangis setelah membunuh dan Jaya merangkulnya seperti ayah; teringat bagaimana lelaki itu selalu tampak tahu apa yang harus dilakukan, selalu tampak lebih besar dari ketakutan. Bara dulu mengira Jaya memang terlahir begitu. Kini ia mengerti — sambil menatap wajah pucat lelaki yang masih menggenggam pergelangannya — bahwa Jaya pun pasti pernah berdiri di tempat ini, menahan diri agar tidak hancur demi orang-orang yang menatapnya. Keberanian bukan ketiadaan takut. Itu yang diajarkan lelaki ini, berulang kali, dengan kata dan dengan tubuhnya. Keberanian adalah takut yang tetap berdiri, demi yang lain.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengusap matanya dengan punggung tangan yang berlumpur, dan bangkit menghadap mereka.
"Marsudi, ranjaunya tandai," katanya, suaranya entah bagaimana mantap. "Pakai apa saja — kain, batu, apa pun. Tandai tiap titik yang Pak Jaya hindari tadi, supaya tak ada yang menginjaknya. Bidin, atur jaga. Bagi dua kelompok, gantian, jangan ada yang tertidur di pos." Anak-anak itu menatapnya, dan untuk sesaat ia melihat keraguan di mata mereka — keraguan apakah ia, yang sebaya mereka, yang masih berlumur darahnya sendiri, sungguh bisa memimpin. Bara menahan tatapan itu, tak menghindar, dan ia mengeraskan suaranya hanya secukupnya. "Kita pegang bukit ini sampai pagi. Kita tidak lepaskan satu jengkal pun." Ia menelan ludah, dan menatap ke arah batu tempat Jaya terbaring. "Untuk dia, kita tidak lepaskan."
Mereka bergerak. Satu per satu, ragu-ragu pada awalnya, lalu lebih pasti, mereka menjalankan perintahnya. Dan Bara berdiri sejenak di tengah puncak yang baru direbut itu, di antara mayat dan asap dan bendera musuh yang terinjak lumpur, dan menyadari dengan dingin yang aneh bahwa seseorang telah meletakkan beban di pundaknya yang takkan pernah bisa ia letakkan kembali.