Sarang senapan mesin pertama bersembunyi di balik tumpukan karung pasir, separuh jalan ke bibir bukit. Dari sana, moncongnya menyapu ladang dalam busur lebar yang tak memberi celah, dan setiap kali ia menyapu, ada lebih sedikit orang yang berdiri di lerengnya.
Bara berlindung di balik bangkai sebuah meriam musuh yang telah lama hancur, besi yang dingin dan keropos, sambil mempelajari ritme tembakan itu. Ia telah belajar, dalam bulan-bulan ini, bahwa bahkan kematian punya irama. Senapan mesin tak menembak selamanya. Ia berhenti — untuk berganti sabuk peluru, untuk mendinginkan laras, untuk menarik napas seperti makhluk hidup mana pun. Celah itu kecil, hanya beberapa detak jantung. Tapi di tempat ini, beberapa detak jantung adalah selisih antara pulang dan tidak.
"Bidin!" panggilnya, separuh berteriak, pada veteran bertubuh tegap yang berlindung di kawah sebelah. Lelaki itu bergabung beberapa minggu lalu, dari kompi lain yang habis, dan jarang bicara kecuali untuk mengeluh. Tapi ia tahu apa yang dilakukannya. "Lihat sarang itu? Aku butuh kau dan dua orang menahan tembakan ke moncongnya. Bukan untuk membunuh mereka. Cuma untuk membuat kepala mereka menunduk. Sepuluh detik. Bisa?"
Bidin mengeluarkan ludah berlumpur ke samping. "Dan kau mau ngapain selama sepuluh detik itu?"
"Aku mau dekat." Bara melepas dua granat dari sabuknya. "Cukup dekat."
Bidin menatapnya lama, ekspresinya tak terbaca, lalu mengangguk sekali. "Kau gila. Tapi kau jenis gila yang bikin orang ikut." Ia memutar tubuh, memanggil dua prajurit di dekatnya, dan menjelaskan dengan kata-kata pendek.
Bara berbalik pada Wira, yang meringkuk di sisinya. "Kau di sini. Kau lindungi punggungku, tapi jangan keluar dari balik besi ini. Mengerti? Jangan."
"Tapi Bang—"
"Jangan." Suaranya keras, lalu melunak sekejap. "Aku butuh kau hidup, Wira. Itu tugasmu. Tetap hidup."
Ketika Bidin membuka tembakan, dunia berubah lagi. Tiga senapan menyalak dari kawah-kawah berbeda, memuntahkan timah ke arah karung pasir, dan Bara melihat moncong senapan mesin musuh tersentak, kepala-kepala di baliknya merunduk. Ia berlari. Tak ada pikiran lagi, hanya tubuh dan napas dan tanah yang berderap di bawah sepatunya. Lima langkah. Tujuh. Peluru kawan bersiul di atas kepalanya, terlalu dekat, tapi ia tak melambat. Sepuluh.
Ia menjatuhkan diri di belakang gundukan rendah, mencabut pin granat dengan giginya seperti yang dulu diajarkan Pak Darmo, melempar yang pertama tinggi melengkung, lalu yang kedua mengikuti. Ia menekan wajahnya ke tanah.
Dua ledakan, beruntun, mengguncang bumi di bawah perutnya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak fajar, senapan mesin itu diam.
Keheningan mendadak itu hampir menyakitkan. Bara mengangkat kepala. Karung pasir telah runtuh, dan dari baliknya tak ada lagi gerakan. Ia merasa mual, perasaan lama yang tak pernah benar-benar pergi — kesadaran bahwa di balik karung itu tadi ada manusia, dengan ibu di suatu tempat, dengan nama yang dipanggil seseorang dengan sayang. Tapi ia menelan rasa itu, mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa ia bawa, dan bangkit.
Pak Darmo pernah berkata, di malam-malam yang lebih tenang, sambil mengukir kayu dengan pisaunya, bahwa tangan yang sibuk tidak gemetar. Bara mengerti sekarang apa yang sebenarnya dimaksud lelaki tua itu. Bukan tentang kayu, bukan tentang ukiran. Tentang tetap bergerak, tetap melakukan hal berikutnya yang harus dilakukan, agar pikiran tak punya ruang untuk melihat terlalu jelas apa yang baru saja dilakukan tangan itu. Maka Bara membuat tangannya sibuk. Ia memberi aba-aba.
"Sarang jatuh!" teriaknya, dan suaranya bergema di lereng. "Maju! Sekarang, selagi mereka kalut! MAJU!"
Mereka datang dari kawah-kawah, dari balik bangkai, dari mana pun mereka bersembunyi — sisa-sisa kompi yang compang-camping, didorong oleh momentum dan oleh suara Bara yang menarik mereka ke atas. Mereka merebut bibir bukit dengan bayonet dan teriakan, jatuh ke dalam parit pertahanan dangkal musuh, dan untuk beberapa menit yang brutal tak ada strategi, tak ada taktik, hanya tangan dan baja dan kehendak untuk bertahan hidup satu detik lagi.
Lalu, sekonyong-konyong, parit itu menjadi milik mereka.
Bara berdiri di dasarnya, terengah, lututnya gemetar. Di sekelilingnya, anak-anak muda yang tersisa menatap satu sama lain dengan mata melebar, tak percaya bahwa mereka masih bernapas. Bidin tiba dengan dua orangnya, salah satunya memegangi lengan yang berdarah. Wira merangkak masuk, pucat tapi utuh, dan Bara merasakan sesuatu mengendur di dadanya saat melihatnya.
Tapi kelegaan itu berumur pendek. Bara mengintip ke atas, ke arah puncak yang masih menjulang, dan ke bawah, ke ladang yang baru saja mereka seberangi. Mereka telah merebut bibir bukit. Tapi mereka tak bisa maju — puncak masih bersarang senapan dan ranjau. Dan mereka tak bisa mundur — ladang terbuka di belakang kini diawasi penembak jitu yang menempati posisi tinggi.
Matahari naik, membakar kabut pagi, menyinari tempat mereka terperangkap dari segala arah. Panasnya mulai terasa, menyengat tengkuk mereka yang berlindung rendah di parit, dan lalat-lalat pertama datang mengendus darah yang menggenang di dasar lumpur. Di kejauhan, dari balik bukit, terdengar suara terompet dan teriakan musuh yang berkumpul ulang. Mereka punya waktu, tapi tak banyak.
Bara berjalan menyusuri parit, dari satu prajurit ke prajurit berikutnya, menyentuh pundak masing-masing, menyebut nama yang ia tahu, bertanya nama yang belum. Ia membenahi perban yang terlepas, membagi air dari kantongnya sendiri, mendengarkan napas yang masih tersengal. Ia melakukan apa yang dulu Jaya lakukan untuknya — menghadirkan diri, agar tak seorang pun merasa sendirian di tempat yang dirancang untuk membuat orang merasa paling sendiri di dunia.
"Kita di mana sekarang, Bang?" tanya Wira pelan, saat Bara sampai di sisinya.
Bara menatap parit musuh yang baru mereka rebut, parit yang tak pernah dijanjikan pada siapa pun, yang ditebus dengan nama-nama yang bahkan belum sempat ia hafal. Lalu ia menatap ke atas, ke puncak yang masih menjulang, dan ke bawah, ke ladang yang masih menanti.
"Di tengah," jawabnya lirih. "Kita di tengah-tengah. Belum sampai, tapi tak bisa kembali. Dan satu-satunya jalan keluar dari tengah-tengah adalah terus maju." Ia menggenggam senapannya lebih erat. "Kita akan bertahan sampai jalan terbuka. Dan saat terbuka, kita akan jadi yang pertama melewatinya."