Dunia pecah menjadi suara begitu kaki Bara menyentuh tanah lapang. Bumi terbuka di kiri dan kanannya, melontarkan lumpur dan batu dan sesuatu yang lebih hangat ke udara. Ranjau. Mereka berlari di atas ladang yang menyembunyikan gigi-gigi besi di bawah permukaannya, dan setiap langkah adalah lemparan dadu.
Bara tak membiarkan dirinya berpikir tentang itu. Ia hanya berlari, badannya menunduk, senapan ditekan ke dada, paru-parunya membakar. Di depannya, punggung Bukit 88 menjulang gundul dan pucat dalam cahaya fajar yang berdarah, dan dari puncaknya, senapan-senapan mesin musuh mulai bernyanyi.
Suara itu tak seperti yang ia bayangkan dulu. Bukan letusan terpisah-pisah, melainkan satu dengungan rata yang menjahit udara, seperti kain disobek tanpa henti. Bara melihat seorang prajurit di sebelah kirinya — anak yang baru tiba pekan lalu, yang namanya belum sempat ia hafal — terhenti di tengah lari, seakan menabrak dinding kaca yang tak terlihat, lalu jatuh ke depan dan tak bergerak lagi. Bara tak berhenti. Ia tak bisa berhenti. Berhenti berarti mati.
Bau itu menyergapnya bersama setiap tarikan napas: mesiu yang asam, tanah basah, dan sesuatu yang berkarat di belakang lidah, bau yang ia tahu adalah darah orang lain yang tertiup angin. Keringat membanjir ke matanya, mengaburkan dunia menjadi guratan-guratan cahaya dan asap. Sepatunya berat oleh lumpur, dan setiap kali ia menumpu, ada sekejap di mana ia menunggu — tanpa sadar, dengan seluruh tubuhnya yang menegang — apakah tanah di bawah kakinya akan menjawab dengan ledakan. Ia telah belajar bahwa ranjau tak memberi peringatan. Ia hanya menelan, lalu memuntahkan apa yang tersisa.
"Tetap rendah!" teriaknya, dan ia bahkan tak yakin ada yang mendengar di tengah deru itu. "Tetap rendah dan terus maju!"
Di sebelah kanannya, Wira berlari dengan wajah putih dan mulut menganga, menjerit tanpa suara. Bara merentangkan tangan, menyambar kerah baju anak itu, menyeretnya menunduk lebih dalam saat sederet peluru mencabik tanah persis di tempat kepala Wira tadi berada.
"Lihat aku, jangan lihat bukitnya!" Bara setengah menyalak. "Ikuti aku. Kawah itu. Lari ke kawah itu."
Sebuah lubang bekas meriam menganga belasan langkah di depan, sebuah luka di tanah yang bisa jadi pelindung. Bara menariknya ke sana, dan mereka berdua terjun masuk, berguling di dasar lumpur sementara peluru bersiul melintas di atas bibir kawah. Untuk sesaat hanya ada napas mereka, terengah dan kasar, dan bau tanah yang baru dirobek bahan peledak.
Dari belakang, di balik tirai asap dan debu, suara Kopral Jaya menggema, serak tapi tak putus. "Sektor kiri, tahan tembakan kalian! Kelompok dua, ke kawah! Bara! Bara, jaga sayap kanan!"
Suara itu menjadi tali. Selama Bara bisa mendengarnya, ia tahu di mana ia harus berada, dan tahu untuk apa ia masih melangkah. Ia mengintip ke bibir kawah. Tanah lapang di belakangnya bertabur tubuh — sebagian masih bergerak, sebagian tidak. Yang masih bergerak merangkak maju, satu meter demi satu meter, seperti serangga yang menolak mati. Ia mengenali sebagian dari mereka. Ia mengenali terlalu banyak dari mereka.
"Bang," kata Wira di sampingnya, suaranya kecil dan parau. "Kita... kita nggak akan sampai. Itu mustahil."
Bara menoleh padanya. Wajah anak itu berlumpur, dan ada darah tipis menetes dari pelipisnya, goresan saja, tapi matanya adalah mata seekor hewan yang terperangkap. Bara mengenali tatapan itu. Ia pernah memilikinya, di parit, di malam pertamanya, di kehidupan yang lain.
"Dengar," kata Bara, dan ia menahan agar suaranya tetap rendah, tetap mantap, walau dadanya sendiri berdebar seperti genderang. "Kita tidak memikirkan puncaknya. Kita tidak memikirkan mustahil. Kita cuma memikirkan sepuluh langkah ke depan. Sampai di kawah berikutnya, lalu sepuluh langkah lagi. Itu saja. Bisa?"
Wira menelan ludah, lalu mengangguk.
"Kalau aku jalan, kau jalan. Kalau aku berhenti, kau berhenti. Jangan tinggalkan aku, dan aku tidak akan meninggalkanmu." Bara menggenggam bahu anak itu sekejap, keras. "Kita bersaudara di sini. Ingat itu."
Sebuah peluit melengking lagi di belakang. Tanda untuk lonjakan berikutnya. Bara menarik napas yang terasa seperti menelan bara api, lalu menyeruak naik ke bibir kawah.
Saat itulah ia melihatnya — sekilas, di tengah kepulan asap dan cahaya pagi yang menajam. Sosok Kopral Jaya, berdiri tegak di tanah terbuka, tak peduli pada peluru, melambaikan tangannya untuk memanggil anak-anaknya maju, mulutnya terbuka meneriakkan sesuatu yang tenggelam dalam deru senapan mesin. Lelaki tua itu berdiri seperti karang di tengah badai, seperti satu-satunya hal yang tak bergerak di seluruh dunia yang berguncang.
Dan untuk satu detik yang terasa panjang dan jernih, Bara merasakan sesuatu yang lebih kuat dari ketakutan menjalar di dadanya. Bukan keberanian membabi buta. Sesuatu yang lebih sederhana. Ia tak ingin lelaki itu berdiri sendirian.
"Maju," bisik Bara pada dirinya sendiri. Lalu lebih keras, pada Wira, pada siapa pun di sekitarnya yang masih hidup dan masih punya kaki untuk berlari. "MAJU! Ikut aku!"
Ia melompat keluar dari kawah. Untuk sesaat ia merasa telanjang, terbuka di bawah langit yang luas, seekor sasaran kecil di hamparan yang dirancang untuk membunuh. Peluru menggali tanah di kakinya, melontarkan cipratan debu yang menyengat betisnya. Ia mendengar Wira di belakangnya, napas anak itu memburu, langkah-langkahnya menghantam tanah mengikuti langkahnya sendiri, dan entah bagaimana suara itu — bukti bahwa setidaknya satu orang masih hidup dan masih mempercayainya — memberinya kekuatan untuk tidak melambat.
Kakinya menyentuh tanah lapang Bukit 88 sekali lagi, dan fajar di atasnya merah seperti luka yang menolak menutup, dan ia berlari ke dalamnya membawa serta semua orang yang masih sanggup ia bawa.