Sepekan kemudian, mesjid Nur Ikhlas kembali dihias sederhana. Karpet hijau digelar di serambi, beberapa rangkaian bunga melati dari halaman Bu Asma diletakkan di sudut-sudutnya, dan sebuah meja kecil disiapkan untuk penghulu dari KUA.
Orang tua Robin sudah tiba dua hari sebelumnya. Bapak Robin adalah pria tua bertubuh kurus dengan punggung yang sedikit bungkuk, bekas bertahun-tahun memikul barang di pelabuhan. Ibunya perempuan kecil berkerudung cokelat yang terus memegangi tangan Nabilah sejak turun dari angkot, seolah takut menantunya hilang. Keduanya menginap di rumah Pak Jamal, dan dalam dua hari saja Bu Asma sudah bertukar resep sambal dengan besannya.
Pagi itu Nabilah duduk di kamar lamanya di rumah orang tuanya, kamar yang sama tempat ia menangis membaca pesan Sofyan tiga bulan lebih yang lalu. Bu Asma membetulkan kerudung putih di kepala putrinya dengan tangan yang gemetar.
"Bilah, kamu yakin?" tanya Bu Asma pelan.
"Bilah yakin, Bu," jawab Nabilah sambil tersenyum.
"Ibu tidak bertanya karena ragu sama Robin," ujar Bu Asma cepat-cepat. "Ibu bertanya karena dulu Ibu tidak pernah bertanya. Ibu mau menebusnya."
Nabilah menggenggam tangan ibunya. "Terima kasih sudah bertanya, Bu."
Sementara itu di kontrakan seberang jalan, bapak Robin membantu putranya mengancingkan baju koko. Jari-jarinya yang kasar dan bengkok bergerak lambat, tetapi Robin tidak menyela.
"Le," ujar bapaknya dengan logat Surabaya yang berat. "Dulu Bapak tidak bisa mengajarimu mengaji. Bapak sendiri tidak bisa. Bapak cuma bisa mengajarimu memikul barang."
"Itu juga berguna, Pak," sahut Robin pelan.
"Ibumu cerita, sekarang kamu belajar dari istrimu," lanjut bapaknya sambil merapikan kerah baju putranya. "Bapak malu, tapi Bapak juga bangga. Nanti kalau sudah lancar, ajari Bapak ya. Umur Bapak enam puluh lima, masih belum terlambat kan?"
Robin menatap bapaknya lama, lalu memeluk pria tua itu erat-erat. Ia tidak berkata apa-apa, karena tenggorokannya terasa tersumbat.
***
Serambi mesjid penuh oleh tamu. Pak RT duduk di barisan depan sebagai saksi bersama seorang tetua kampung. Supri dan Udin memakai baju koko baru yang warnanya sama persis, membuat Mpok Ijah tertawa sampai terbatuk. Tigor datang dengan kemeja batik yang kekecilan, ditemani Sita dan Kodir beserta istrinya. Mpok Tini membawa dua bakul nasi uduk tanpa ada yang memesan. Di barisan anak-anak, Tegar duduk paling depan dengan peci yang kebesaran.
Robin duduk di depan meja penghulu dengan baju koko putih dan peci hitam. Wajahnya yang kini bersih tanpa brewok tampak pucat karena gugup. Pak Jamal duduk di seberangnya sebagai wali.
Ketika Nabilah keluar dari rumah dan berjalan menuju serambi bersama ibunya dan ibu Robin, para tamu terdiam. Robin menoleh, dan untuk beberapa detik ia lupa caranya bernapas.
Penghulu, seorang pria setengah baya berkacamata, membuka acara dengan salam dan doa. Lalu ia menoleh kepada Nabilah yang duduk di belakang Robin, sedikit ke samping.
"Sebelum akad dilaksanakan, saya mau bertanya langsung kepada calon mempelai perempuan," ujar penghulu itu dengan suara yang jelas. "Saudari Nabilah Putri binti Jamal, apakah Saudari bersedia dinikahkan dengan Saudara Robin, atas kemauan Saudari sendiri, tanpa paksaan dari siapa pun?"
Serambi itu hening. Bahkan anak-anak berhenti bergerak. Nabilah merasakan semua mata tertuju kepadanya. Tiga bulan yang lalu, tidak ada seorang pun yang menanyakan hal ini kepadanya.
"Saya bersedia," jawab Nabilah dengan suara yang jernih dan tegas. "Atas kemauan saya sendiri."
Bu Asma terisak di sampingnya. Ibu Robin memegangi lengan Bu Asma, dan kedua perempuan itu menangis bersama.
Penghulu mengangguk, lalu mempersilakan Pak Jamal. Pria paruh baya itu menggenggam tangan menantunya. Tangannya dingin, dan tangan Robin lebih dingin lagi.
"Saudara Robin, saya nikahkan engkau dengan putriku, Nabilah Putri binti Jamal, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan bacaan surat Al-Asr, dibayar tunai!" ujar Pak Jamal dengan suara yang bergetar.
"Saya terima nikahnya Nabilah Putri binti Jamal dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" jawab Robin dengan lancar dan lantang.
"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu.
"Sah!" jawab para saksi serentak, disusul seruan hamdalah dari seluruh serambi. Supri dan Udin menjawab paling keras, sampai Pak RT menoleh dan memelototi mereka.
Setelah doa dibacakan, penghulu mempersilakan Robin menunaikan maharnya. Robin menarik napas panjang. Ia menoleh sebentar kepada Nabilah, lalu kepada Tegar yang mengacungkan kedua jempolnya dari barisan depan.
Lalu Robin mulai membaca.
Suaranya pelan, tidak merdu seperti suara Abas. Ada sedikit getar di setiap ayat, dan bacaannya lebih lambat daripada orang kebanyakan. Namun, setiap huruf keluar di tempatnya. Ketika sampai pada huruf ain yang dulu selalu membuatnya tersangkut, ia mengucapkannya dengan benar.
Nabilah menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. Pak Jamal mengusap matanya dengan ujung sarung. Di barisan bapak-bapak, beberapa orang yang dulu menuduh Robin maling di depan mesjid ini menunduk dalam-dalam.
Robin menyelesaikan bacaannya dan menutup dengan shadaqallahul azim. Tegar melompat dari duduknya dan bertepuk tangan, lalu buru-buru duduk lagi ketika ditegur gurunya yang sedang menangis.
***
Setelah acara selesai, ponsel Nabilah bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang dulu pernah membuatnya menangis.
'Barakallahu lakuma wa baraka alaikuma. Semoga sakinah, mawaddah, warahmah. Salam untuk Bang Robin. Sofyan.'
Nabilah memperlihatkan pesan itu kepada suaminya. Robin membacanya, lalu tersenyum. "Dia orang baik."
"Semua orang baik hari ini, Bang," sahut Nabilah.
Sore harinya, setelah tamu-tamu pulang dan orang tua Robin beristirahat di rumah Pak Jamal, Robin dan Nabilah berjalan berdua menyeberang jalan menuju kontrakan. Daun-daun mangga berguguran di bawah kaki mereka. Untuk pertama kalinya, Robin menggandeng tangan istrinya di depan seluruh tetangga yang masih berdiri di teras-teras rumah.
Ibu-ibu yang dulu bergunjing di hari akad pertama kini hanya tersenyum. Salah satunya, ibu berbaju merah, bahkan melambai.
Di depan gerbang kontrakan, Robin berhenti. Ia menatap istrinya dengan mata yang hangat dan sedikit ragu.
"Bilah," panggilnya pelan.
"Iya, Bang?"
"Malam ini Abang tidur di mana?" tanya Robin dengan suara yang hampir berbisik, telinganya memerah seperti cabai.
Nabilah menunduk, pipinya merona. Ia membuka gerbang, lalu menoleh kepada suaminya dengan senyum malu.
"Pintu kamar Bilah tidak dikunci, Bang," jawabnya pelan.
Robin tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar. Ia mengikuti istrinya masuk, menutup gerbang di belakang mereka, dan untuk pertama kalinya, tidak ada lagi pintu yang memisahkan keduanya.