"Bang, Abang mau apa dengan gunting itu?" tanya Nabilah dari ambang pintu.
Robin terlonjak kaget. Ia menoleh dengan wajah seperti orang yang tertangkap basah. "Bilah. Abang kira kamu masih di dapur."
Nabilah melangkah masuk. Sejak aturan rumah mereka diubah, ia sudah beberapa kali masuk ke kamar itu untuk mengambil buku atau mengantar teh. Namun, kali ini rasanya berbeda.
"Abang mau memotong brewok?" tanya Nabilah sambil menatap gunting di tangan suaminya.
Robin menggaruk dagunya. "Abang lagi berpikir. Dulu kamu pernah tanya kenapa Abang brewokan. Abang jawab supaya gadis-gadis tidak jatuh cinta."
Nabilah tertawa kecil. Ia masih ingat percakapan di warung soto itu. "Terus?"
"Sekarang Abang tidak takut lagi ada yang jatuh cinta," jawab Robin sambil tersenyum malu. "Yang Abang mau sudah memilih Abang. Tapi Abang tidak mau mencukur kalau kamu lebih suka Abang yang begini. Kamu menikah dengan wajah yang ini."
Nabilah memandangi wajah suaminya lama. Brewok yang lebat, rambut gondrong yang dikuncir karet gelang, mata yang tajam. Wajah yang dulu membuatnya takut, dan kini membuatnya tenang.
"Itu wajah Abang. Abang yang memutuskan," ujar Nabilah. "Bilah akan tetap memilih Abang, mau berbrewok atau tidak."
Robin menatap cermin sekali lagi. Lalu ia mengangguk dengan mantap. "Abang mau orang-orang melihat wajah Abang waktu akad nanti. Wajah yang sebenarnya."
***
Keesokan paginya Robin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang bersih. Brewoknya sudah dicukur habis, dan rambut gondrongnya dipotong rapi oleh tukang cukur di ujung gang sejak subuh. Ia berdiri di depan Nabilah yang sedang menata sarapan di meja.
Nabilah menjatuhkan sendok yang dipegangnya.
Wajah di depannya tampak jauh lebih muda. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan tanpa brewok yang menutupi, senyumnya ternyata manis sekali. Hanya matanya yang masih sama, tajam dan hangat.
"Jelek ya?" tanya Robin dengan cemas.
Nabilah tidak bisa menjawab. Pipinya memerah sampai ke telinga. Ia buru-buru memungut sendok dan pura-pura sibuk menuang teh.
"Bilah?"
"Abang benar," gumam Nabilah tanpa menatap suaminya. "Brewok itu memang ada gunanya."
Robin tertawa keras, tawa yang membuat burung-burung di pohon mangga sampai beterbangan.
***
Kabar bahwa Robin Hood mencukur brewoknya menyebar lebih cepat daripada kabar penangkapan Beno. Ketika Robin mengantar Nabilah ke madrasah pagi itu, ibu-ibu yang biasa duduk di teras rumah langsung berdiri. Beberapa sampai menutup mulut dengan tangan.
"Itu Robin? Robin yang preman itu?" bisik seorang ibu berbaju merah.
"Ya Allah, ganteng begitu kok dulu ditutupi," sahut ibu yang lain.
"Pantas saja Nabilah betah," timpal ibu ketiga. "Kalau begini, saya tidak usah lagi bermimpi sama Shahrukh Khan."
Nabilah menunduk dalam-dalam sambil menahan tawa. Robin berjalan di sampingnya dengan wajah datar, tetapi telinganya merah seperti cabai.
Di gerbang madrasah, Tegar dan teman-temannya berdiri terpaku. Bocah itu menatap Robin dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Bang Robin ke mana brewoknya?" tanya Tegar dengan polos.
"Disimpan di lemari," jawab Robin asal.
Tegar mengangguk serius, seolah jawaban itu masuk akal sekali.
***
Siang harinya sebuah mobil mewah berhenti di depan kontrakan. Risa turun dari mobil itu, dan Remon menyusul dari kursi kemudi. Nabilah yang baru pulang mengajar membukakan gerbang. Kali ini ia mempersilakan mereka duduk di teras, dan Robin keluar dari dalam rumah.
Risa menatap wajah Robin yang bersih dengan terkejut, lalu tersenyum pahit. "Sepuluh tahun aku memintamu mencukur brewok itu."
"Bukan karena siapa pun," sahut Robin.
"Aku tahu," jawab Risa. Ia lalu menoleh kepada Nabilah dan menunduk. "Mbak Nabilah, aku datang untuk minta maaf. Foto yang dikirim ke Mbak dulu, aku yang memberikannya kepada Beno. Aku cemburu. Aku ingin Mbak pergi."
Nabilah menatap perempuan cantik di depannya. Ada rasa perih yang masih tersisa, tetapi tidak lagi ada amarah.
"Bilah sudah memaafkan, Mbak," ujar Nabilah. "Bilah juga pernah salah sangka sama Mbak."
Risa mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Bulan depan aku ikut Papa mengurus usaha di luar pulau. Mungkin agak lama. Aku tidak mau pergi sebelum minta maaf."
"Hati-hati di sana, Ris," ujar Robin dengan tulus.
Remon yang sejak tadi diam akhirnya bicara. Ia menatap Risa, bukan Robin. "Aku tidak akan menyusulmu ke sana, Ris. Tapi kalau suatu hari kamu pulang dan mau minum kopi, kabari aku. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa."
Risa menatap Remon dengan heran, seolah baru pertama kali mendengar pria itu bicara tanpa meminta sesuatu. "Aku belum tahu, Mon."
"Itu jawaban yang jujur," sahut Remon sambil tersenyum tipis.
Setelah mereka pergi, Nabilah menatap mobil yang menjauh itu dan merasa sesuatu yang lama mengganjal di hatinya akhirnya selesai.
***
Malam harinya, Bu Asma menyeberang ke kontrakan membawa rantang berisi rendang daging. Ia mengetuk gerbang, menunggu dibukakan, lalu berdiri ragu di depan pintu.
"Masuk, Bu," ujar Robin sambil membuka pintu lebar-lebar.
Bu Asma melangkah masuk ke rumah itu, kali ini karena dipersilakan menantunya sendiri. Ia memandangi ruang tamu yang rapi, buku iqra di atas meja, dan foto keluarga Robin di Surabaya yang kini dipajang di dinding.
"Ibu masak rendang buat kamu, Robin. Bilah bilang kamu suka," ujar Bu Asma dengan canggung. Ia menatap wajah menantunya yang tanpa brewok, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa tidak dari dulu dicukur? Ibu jadi malu sudah memanggilmu tampang penjahat."
"Biar Ibu punya alasan untuk minta maaf dua kali," sahut Robin, membuat Bu Asma tertawa sambil memukul lengannya pelan.
Bu Asma lalu menatap foto di dinding, foto sepasang suami istri tua di depan rumah berdinding papan. "Ini orang tuamu?"
"Iya, Bu. Mereka datang hari Kamis naik kereta," jawab Robin.
"Nanti tidur di rumah Ibu saja. Kamar Bilah yang dulu kosong," ujar Bu Asma dengan cepat, seolah takut tawarannya ditolak. "Besan tidak boleh tidur di losmen."
Robin menatap ibu mertuanya dengan haru. "Terima kasih, Bu."
Malam itu, setelah Bu Asma pulang, Nabilah membuka lemari plastik di kamarnya. Di bagian paling bawah tersimpan sebuah kotak berlapis kain. Isinya seperangkat alat salat, mahar dari akad tiga bulan yang lalu. Mukena putih itu masih terlipat rapi, hampir tidak pernah ia pakai karena dulu ia merasa itu bukan miliknya.
Nabilah mengeluarkan mukena itu dan memeluknya erat-erat.