Beberapa bulan kemudian, ruang sidang pengadilan negeri di kota penuh oleh pengunjung. Sebagian besar datang dari kampung Rantau, kampung Santri, dan kampung Jawara. Pak RT duduk di barisan kedua bersama Pak Jamal. Robin duduk di sebelah mereka dengan kemeja yang rapi dan rambut pendek yang mulai tumbuh lagi sedikit.
Nabilah tidak ikut masuk. Ia sudah memberikan kesaksiannya dua minggu sebelumnya, di ruangan yang sama, dengan suara yang tidak gemetar. Hari ini ia memilih mengajar seperti biasa. Robin yang memintanya begitu, dan Nabilah setuju. Ia tidak ingin wajah Beno menjadi hal terakhir yang ia ingat dari urusan ini.
Beno duduk di kursi terdakwa dengan kemeja putih. Wajahnya pucat dan tirus, jauh berbeda dari pria yang dulu tersenyum ramah di meja makan Bu Asma. Ia tidak menoleh ke bangku pengunjung sekali pun. Di barisan depan, juragan Kasim duduk membungkuk dengan tangan memegang tongkat.
Hakim membacakan putusan dengan suara datar. Beno dinyatakan bersalah karena menyuruh penyekapan Sofyan, pembakaran tempat pengepul, perusakan rumah, dan membawa Nabilah dari pasar dengan tipu daya. Ia dijatuhi hukuman penjara bertahun-tahun. Baron, yang mengaku dan menyerahkan rekaman sejak awal, mendapat hukuman yang lebih ringan. Anak buah Baron yang ikut menyekap Sofyan juga dihukum.
Ketika palu diketuk, juragan Kasim menunduk dalam-dalam. Robin memandangi pria tua itu dari kejauhan dan tidak merasakan kemenangan sedikit pun. Hanya lega, dan sedikit iba.
Di halaman pengadilan, Baron yang digiring ke mobil tahanan berhenti sebentar ketika melihat Robin.
"Pemulung-pemulungku?" tanya Baron singkat.
"Semua jual di tempatku. Harganya biasa," jawab Robin.
Baron mengangguk sekali, lalu naik ke mobil tanpa berkata apa-apa lagi.
***
Di kampung Rantau, pengepul yang dulu terbakar kini lebih ramai daripada sebelumnya. Antrean pemulung mengular setiap pagi. Papan harga di dekat timbangan ditulis ulang oleh Sita setiap minggu, dan tidak pernah ada yang diubah diam-diam. Tigor membeli timbangan kedua dari keuntungan bulan lalu dan memamerkannya kepada siapa pun yang lewat seolah itu mobil baru.
Kodir sekarang bekerja tetap di bagian timbang. Istrinya membuka warung kopi di depan pagar, dan warung itu selalu penuh oleh pemulung yang beristirahat. Wulan tidak lagi bekerja di empang juragan Kasim. Ia membantu Sita di bagian pembukuan sambil mengikuti kursus komputer di kota. Utang ayahnya dicicil sedikit demi sedikit dengan cara yang wajar.
Surau papan di belakang pengepul kini beratap seng dan berlantai keramik. Setiap sore, Tegar dan beberapa anak lain mengaji di sana. Kadang Nabilah datang mengajar mereka sepulang dari madrasah, dibonceng Robin dengan sepeda motor yang baru ia beli dengan nama Nabilah di surat-suratnya.
"Bu Guru, hari ini Tegar sudah sampai juz amma!" seru Tegar suatu sore dengan bangga.
"Bang Robin sampai mana?" tanya Nabilah sambil melirik suaminya yang sedang membetulkan engsel pintu surau.
"Sudah Al-Quran, Bu! Tapi masih surat Al-Baqarah, pelan sekali kayak siput," jawab Tegar dengan polos.
Robin melempar peci kepada bocah itu, dan anak-anak tertawa riuh.
***
Di kampung Santri, rumah kontrakan di depan rumah Pak Jamal sudah bukan lagi kontrakan. Robin membelinya dari pemiliknya dengan sisa tabungan, setelah berunding panjang dengan Nabilah. Mereka memilih tetap tinggal di sana, persis di seberang rumah orang tua Nabilah.
"Biar Ibu bisa mengirim sayur tanpa menyeberang jauh," ujar Robin waktu itu.
"Biar Ibu tidak bisa bilang kita sombong," sahut Nabilah sambil tertawa.
Bu Asma kini menyeberang hampir setiap hari, kadang membawa sayur, kadang hanya untuk duduk di teras dan mengobrol. Ia tidak pernah lagi membuka pintu kamar putrinya tanpa mengetuk, dan tidak pernah lagi menyebut kata preman kecuali untuk bercanda. Setiap kali ada ibu-ibu pengajian yang membicarakan menantu orang lain, ia selalu menyela dengan kalimat yang sama.
"Menantu saya bisa mengaji sampai Al-Baqarah. Belajarnya umur tiga puluh lebih. Coba anak Ibu bisa begitu?"
Pak Jamal hanya geleng-geleng kepala setiap mendengarnya.
Suatu sore Bu Asma menyeberang membawa selembar undangan berwarna krem. Ia meletakkannya di meja teras dengan wajah berseri-seri.
"Nak Abas mau menikah bulan depan," ujar Bu Asma. "Dengan putri guru mengaji dari kampung sebelah. Anaknya hafal tiga juz, Ibu dengar."
Nabilah membaca nama di undangan itu, lalu tersenyum lega. "Alhamdulillah. Mas Abas memang pantas mendapat yang baik."
"Kita datang?" tanya Robin yang baru pulang dari pengepul.
"Tentu datang, Bang. Abang pakai kemeja putih yang itu," jawab Nabilah.
Bu Asma melirik menantunya dengan senyum jahil. "Jangan sampai brewokmu tumbuh lagi sebelum hari itu. Ibu mau pamer menantu."
Robin hanya bisa menggaruk dagunya yang mulai kasar.
Kamar yang dulu terlarang kini menjadi ruang kerja Robin. Buku-buku kas, map kuitansi sekolah yang jumlahnya bertambah menjadi dua puluh anak, dan foto keluarga dari Surabaya tersusun rapi di sana. Pintunya tidak pernah dikunci lagi. Kadang Nabilah masuk tanpa permisi untuk meletakkan teh di meja, dan Robin hanya tersenyum.
***
Pada suatu subuh, azan berkumandang dari mesjid Nur Ikhlas. Robin bangun lebih dulu dan menyiapkan sajadah hijau yang warnanya sudah pudar di ruang tengah. Di belakangnya, ia membentangkan sajadah kedua.
Nabilah keluar dari kamar memakai mukena putih yang dulu menjadi mahar akad pertama mereka. Mukena yang dulu ia simpan di dasar lemari karena merasa itu bukan miliknya.
"Hari ini Abang yang jadi imam?" tanya Nabilah sambil tersenyum.
"Kalau makmumnya mengizinkan," jawab Robin dengan gugup.
"Makmumnya mengizinkan," sahut Nabilah sambil berdiri di sajadah kedua. "Tapi kalau bacaannya salah, makmumnya akan menegur."
"Abang tahu," ujar Robin sambil tertawa kecil.
Robin berdiri tegak menghadap kiblat. Ia mengangkat kedua tangannya dan bertakbir. Suaranya pelan, sedikit bergetar, dan sama sekali tidak semerdu imam mana pun yang pernah Nabilah dengar.
Namun, setiap huruf Al-Fatihah keluar dari tempatnya dengan benar.
Di belakangnya, Nabilah memejamkan mata. Ia teringat doanya di hari akad pertama, di kamar pengantin dengan mata yang sembab. Ya Allah, jika pria itu adalah jodoh yang Engkau takdirkan, hamba ikhlas menerimanya. Tapi kalau bukan, tolong pisahkan kami secepatnya.
Allah tidak memisahkan mereka. Allah memberinya waktu untuk memilih.
Dan Nabilah memilih pria di depannya ini, setiap pagi, tanpa paksaan siapa pun.
TAMAT