Hari yang dijanjikan Pak Jamal tiba pada hari Jumat. Selepas salat Jumat, Robin pulang dari mesjid bersama mertuanya. Untuk pertama kalinya mereka berjalan berdampingan dari pintu mesjid sampai ke halaman rumah, dan beberapa warga yang melihat sampai berhenti mengobrol.
"Nanti malam habis isya ya, Robin," ujar Pak Jamal di depan pagar. "Bapak juga mengundang Pak RT. Dia saksi waktu akad kalian. Sudah sepantasnya dia ikut mendengar."
"Iya Pak," jawab Robin.
Sore itu Robin gelisah seperti orang yang akan diuji. Ia mandi dua kali, mengganti baju tiga kali, dan akhirnya memilih kemeja putih lengan panjang yang dibeli Nabilah di pasar minggu lalu. Nabilah memperhatikan suaminya dari pintu kamar sambil menahan tawa.
"Abang kenapa?" tanya Nabilah.
"Abang lebih takut malam ini daripada waktu dikeroyok anak buah Baron," jawab Robin dengan jujur.
***
Ruang tamu rumah Pak Jamal disiapkan sederhana. Di atas meja ada teh manis, kurma, dan kue lapis buatan Bu Asma. Pak RT duduk di kursi rotan dengan peci hitam. Bu Asma duduk di samping suaminya, kali ini tanpa wajah masam. Nabilah dan Robin duduk berdampingan di sofa panjang, tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak lagi berjauhan seperti dulu.
Pak Jamal membuka pertemuan itu dengan basmalah.
"Tiga bulan yang lalu, di mesjid Nur Ikhlas, Bapak menikahkan Nabilah dengan Robin," ujar Pak Jamal dengan suara tenang. "Pernikahan itu dilakukan dengan terburu-buru dan dengan paksaan. Bapak sudah mengakui kesalahan itu di depan kalian. Malam ini Bapak menepati janji. Bapak tidak akan memutuskan apa pun. Bapak cuma ingin mendengar dari kalian berdua."
Pak RT mengangguk. "Saya juga ikut bersalah waktu itu. Malam ini saya cuma mau mendengar."
Pak Jamal menoleh kepada putrinya. "Bilah, kamu dulu."
Nabilah menegakkan punggungnya. Ia menatap ayahnya, lalu ibunya, lalu Pak RT.
"Pak, Bu, Pak RT. Bilah mau melanjutkan pernikahan ini," ujar Nabilah dengan jelas. "Bilah mau menjadi istri Bang Robin dengan sungguh-sungguh. Bilah sudah memikirkannya berminggu-minggu. Bilah sudah menolak Mas Abas dengan baik. Dan Bilah memilih ini bukan karena takut tidak ada yang mau menikahi Bilah lagi, atau karena Bang Robin pernah menolong Bilah. Bilah memilih karena Bilah sudah melihat siapa dia sebenarnya."
Bu Asma menyeka matanya dengan ujung kerudung. Pak Jamal mengangguk pelan, lalu menoleh kepada menantunya.
"Robin?"
Robin menatap tangannya sendiri yang bertaut di atas lutut. Lalu ia mengangkat wajah dan menatap Pak Jamal.
"Pak, waktu itu saya dibohongi untuk datang ke mesjid. Saya menikah karena merasa berutang budi pada Bapak," ujar Robin dengan suara berat. "Tapi malam pertama di kontrakan lama, saya keluar dari kamar dan melihat Bilah tidur di kasur busa di ruang tamu. Dia kelaparan dan memasak mi sendiri karena takut minta. Saya menyelimuti dia, dan saya berdoa, ya Allah kenapa Engkau jodohkan saya dengan perempuan sebaik ini."
Nabilah menoleh dengan terkejut. Jadi selimut di pagi pertama itu memang dari Robin.
"Sejak malam itu saya sudah tahu, saya tidak mau melepaskannya," lanjut Robin. "Tapi saya juga tahu, saya tidak berhak menahannya kalau dia tidak mau. Jadi saya menunggu. Sekarang Bilah sudah bilang mau. Saya juga mau, Pak. Dengan sepenuh hati."
Ruang tamu itu hening. Bu Asma menangis tanpa suara. Pak RT berdeham beberapa kali, pura-pura terbatuk.
Pak Jamal tersenyum. Matanya berkaca-kaca. "Alhamdulillah."
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah jendela samping, disusul bunyi "aduh" yang tertahan. Pak RT bangkit dan menyibak gorden. Di luar jendela, Supri dan Udin berjongkok di antara pot bunga Bu Asma, salah satu pot sudah terguling.
"Kalian ngapain di situ?" tanya Pak RT dengan geram.
"Ronda, Pak," jawab Udin dengan cepat.
"Ronda kok jongkok di bawah jendela orang?"
"Rondanya sambil mendengarkan, Pak. Biar kalau Neng Nabilah bilang tidak, kami siap menghibur Bang Robin," sahut Supri dengan wajah tanpa dosa.
Robin menutup wajahnya dengan kedua tangan. Nabilah tertawa sampai keluar air mata, dan Bu Asma yang tadinya menangis ikut terkekeh sambil menunjuk potnya yang terguling.
"Pot itu ganti besok," ujar Bu Asma.
"Siap, Bu," jawab Supri dan Udin bersamaan sebelum kabur ke arah gang.
"Tapi Bapak mau mengusulkan sesuatu," lanjut Pak Jamal setelah menenangkan diri. "Akad kalian dulu cuma siri, tidak tercatat. Dan dilakukan tanpa kalian sempat memilih. Bagaimana kalau kalian menikah ulang secara resmi di KUA? Kali ini Bilah ditanya dulu apakah dia bersedia, dan Robin datang bukan karena dibohongi."
Nabilah dan Robin saling berpandangan. Nabilah mengangguk lebih dulu, lalu Robin.
"Saya setuju, Pak," ujar Robin. "Dan kalau boleh, saya ingin orang tua saya datang dari Surabaya."
"Tentu boleh," sahut Pak Jamal. "Sudah sepantasnya besan kami datang."
Bu Asma akhirnya angkat bicara dengan suara yang serak. "Robin, telepon ibumu sekarang. Ibu mau bicara."
Robin tampak terkejut, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menekan sebuah nomor dan menyalakan panggilan video. Beberapa saat kemudian muncul wajah seorang perempuan tua berkerudung cokelat di layar, dengan latar dinding papan.
"Assalamualaikum, Le. Ada apa malam-malam?" tanya perempuan itu dengan logat Jawa Timur yang kental.
"Waalaikumsalam, Bu," jawab Robin dengan suara yang tiba-tiba berubah lembut, seperti anak kecil. "Ini, Bu. Robin mau menikah lagi."
"Lho? Menikah lagi? Kamu mau poligami?" seru ibu Robin dengan panik.
Semua orang di ruang tamu tertawa. Robin buru-buru menjelaskan, wajahnya merah sampai ke telinga. Nabilah mengambil ponsel itu dari tangan suaminya dan memperkenalkan diri dengan sopan.
"Assalamualaikum, Bu. Saya Nabilah, istri Bang Robin. Kami mau menikah ulang di KUA, Bu. Supaya resmi," ujar Nabilah sambil tersenyum.
Ibu Robin memandangi wajah menantunya di layar lama sekali. Lalu ia menangis.
"Ya Allah, Le. Akhirnya ada yang mau sama kamu," isaknya.
Tawa kembali pecah di ruang tamu itu, kali ini bercampur air mata.
***
Malam itu, setelah semua orang pulang, Nabilah membereskan gelas-gelas di dapur kontrakan. Ketika ia kembali ke ruang tengah, pintu kamar Robin terbuka setengah. Ia melihat suaminya berdiri di depan cermin lemari, memandangi wajahnya sendiri dengan serius.
Di tangan kanannya, Robin memegang sebuah gunting.