Nabilah memperlihatkan pesan Abas kepada Robin malam itu, sebelum pelajaran mengaji dimulai. Robin membacanya lama, lalu mengembalikan ponsel itu tanpa ekspresi.
"Temui dia," ujar Robin.
"Abang ikut?" tanya Nabilah.
Robin menggeleng. "Kalau Abang di sana, nanti kamu menjawab sambil memikirkan perasaan Abang. Abang tidak mau begitu. Bapak dan Ibu cukup."
Nabilah menatap suaminya. Ia tahu betapa sulitnya kalimat itu keluar dari mulut seorang pria yang dulu melarangnya menemui tamu di gerbang madrasah.
"Baik, Bang," jawab Nabilah pelan.
***
Hari Kamis siang, sepulang mengajar, Nabilah membantu ibunya menyiapkan kue di dapur. Bu Asma mengaduk adonan dengan gerakan yang terlalu cepat, tanda ia sedang gelisah.
"Bilah, nanti waktu Nak Abas datang, Ibu tidak akan ikut bicara," ujar Bu Asma tanpa menoleh. "Ibu cuma mau bilang satu hal sekarang, supaya tidak tertahan di dada."
"Apa, Bu?"
Bu Asma meletakkan sendok adonannya. "Dulu Ibu pikir Ibu tahu laki-laki seperti apa yang baik untukmu. Ternyata Ibu cuma tahu laki-laki seperti apa yang membuat Ibu tidak malu di depan tetangga." Ia menghela napas panjang. "Pilih yang membuatmu tenang, Bilah. Bukan yang membuat Ibu tenang."
Nabilah memeluk ibunya dari belakang. Tepung di tangan Bu Asma menempel di gamisnya, tetapi ia tidak peduli.
Sore harinya, Abas datang ke rumah Pak Jamal. Ia memakai baju koko putih dan duduk di ruang tamu dengan sikap yang tenang. Pak Jamal dan Bu Asma duduk di ruang tengah, cukup dekat untuk menjadi saksi, tetapi cukup jauh untuk memberi ruang.
Nabilah duduk di kursi di seberang Abas. Ia memakai gamis hijau tua dan kerudung yang senada. Kedua tangannya dilipat di pangkuan.
"Terima kasih sudah mau menemui saya," ujar Abas membuka pembicaraan.
"Bilah yang harus berterima kasih, Mas," sahut Nabilah. "Mas Abas sudah jujur dari awal. Mas tidak pernah mendekati Bilah diam-diam. Itu membuat Bilah bisa berpikir dengan tenang."
Abas tersenyum tipis. Ia tampak sudah bisa membaca arah pembicaraan dari kalimat pertama itu, tetapi ia tetap menunggu.
Nabilah menarik napas dalam-dalam. Ia sudah menyiapkan kata-kata ini berhari-hari, menulisnya di buku catatan, mencoretnya, menulisnya lagi.
"Mas Abas, dulu Bilah selalu berdoa supaya diberi suami yang seperti Mas. Yang suaranya bagus waktu mengimami, yang ilmu agamanya baik, yang tutur katanya terjaga," ujar Nabilah dengan suara yang bergetar sedikit. "Waktu Mas pulang dan mengimami magrib di mesjid, Bilah sempat berpikir, ini dia jawaban doa-doa Bilah dulu."
Abas mendengarkan tanpa memotong.
"Tapi selama tiga bulan ini Bilah belajar sesuatu," lanjut Nabilah. "Bilah dulu menilai orang dari yang terlihat. Dari brewok, dari pakaian, dari apakah dia terlihat di mesjid atau tidak. Ternyata Bilah salah. Suami Bilah salat di surau papan di belakang tempat rongsokan. Dia menyekolahkan empat belas anak tanpa pernah mau dipanggil juragan. Dia mengaku salah di depan Ibu waktu dia sebenarnya bisa diam. Dia menunggui Ibu semalaman padahal Ibu yang paling sering menghinanya. Dan setiap malam dia belajar membaca huruf ain sampai sepuluh kali, karena tidak mau malu di depan Allah."
Mata Nabilah basah, tetapi suaranya semakin tegas.
"Bilah memilih Bang Robin, Mas. Bukan karena takut, bukan karena kasihan, bukan karena malu pada orang kampung. Bilah memilih dia karena Bilah sudah mengenalnya."
Ruang tamu itu sunyi untuk beberapa saat. Dari ruang tengah terdengar Bu Asma menahan isak.
Abas mengangguk perlahan. Wajahnya tidak menunjukkan marah, hanya sedikit sedih yang ia simpan baik-baik.
"Saya sudah menduga," ujar Abas sambil tersenyum. "Waktu kamu menyebut nama suamimu, matamu berbeda, Nabilah. Saya menerima jawabanmu dengan ikhlas."
"Maafkan Bilah, Mas."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Saya yang dulu pergi tanpa kabar," sahut Abas. Ia lalu berdiri dan berpamitan kepada Pak Jamal dan Bu Asma. Di ambang pintu ia menoleh sekali lagi. "Sampaikan salam saya untuk Bang Robin. Bilang padanya, dia laki-laki yang beruntung."
Setelah mobil Abas pergi, Bu Asma keluar dari ruang tengah dan memeluk putrinya erat-erat. Ia tidak berkata apa-apa. Pelukan itu sudah cukup.
***
Nabilah menyeberang jalan dengan langkah yang terasa ringan sekaligus berat. Matahari sore menyinari pohon mangga di halaman. Di teras kontrakan, Robin duduk di kursi plastik dengan peci di kepala, pura-pura membaca buku iqra jilid lima. Bukunya terbalik.
Nabilah menahan senyum. Ia membuka gerbang dan menutupnya kembali, lalu berdiri di depan suaminya.
"Bukunya terbalik, Bang," ujar Nabilah.
Robin buru-buru membalik bukunya, lalu menyerah dan menutupnya. Ia menatap istrinya dengan wajah tegang yang tidak bisa disembunyikan brewoknya. "Sudah?"
"Sudah."
"Lalu?"
Nabilah duduk di kursi di sebelah suaminya. Ia memandangi wajah pria itu lama, wajah yang dulu membuatnya gemetar di kamar mandi kontrakan lama.
"Bang Robin," panggil Nabilah dengan suara yang jernih. "Bilah mau jadi istri Abang. Istri yang sungguhan, bukan istri sementara, bukan istri rasa teman. Bukan karena Bilah takut, bukan karena Bilah merasa berutang, dan bukan karena Bapak atau Ibu. Bilah mau karena Bilah memilih Abang."
Robin terdiam. Ia menatap istrinya seolah tidak percaya pada telinganya sendiri.
"Kamu yakin, Bilah?" tanyanya dengan suara yang nyaris berbisik. "Abang tidak mau kamu menyesal. Abang cuma preman yang baru bisa membaca iqra jilid lima."
"Bilah yakin," jawab Nabilah tanpa ragu. "Dan Bilah tidak menikah dengan preman. Bilah menikah dengan Robin."
Mata Robin memerah. Ia memalingkan wajah ke arah jalan sebentar, mengusap matanya dengan punggung tangan, lalu kembali menatap istrinya.
"Bilah," ujarnya pelan. "Boleh Abang memegang tanganmu?"
Pertanyaan itu membuat Nabilah tertegun. Selama tiga bulan menikah, suaminya tidak pernah menyentuhnya tanpa alasan. Dan kini, setelah ia menyatakan pilihannya, Robin masih meminta izin.
Nabilah mengangguk, lalu mengulurkan tangannya lebih dulu. Robin menggenggamnya dengan hati-hati, seperti memegang sesuatu yang mudah pecah. Tangannya kasar dan hangat.
Mereka duduk seperti itu sampai azan magrib berkumandang dari mesjid Nur Ikhlas. Tidak ada yang bicara. Nabilah merasa hatinya penuh sampai hampir tumpah.
"Abang," ujar Nabilah sebelum mereka bangkit untuk mengambil wudu. "Bilah sudah bilang ke Abang. Tapi Bilah mau Bapak mendengarnya sendiri, di hari yang Bapak janjikan."