Hari Minggu pagi, Nabilah memberitahu Robin bahwa ia ingin ikut ke kampung Rantau. Robin yang sedang mengikat tali sepatu langsung menegakkan punggung.
"Siapa yang bilang?" tanya Robin dengan curiga.
"Bang Tigor. Lewat Tegar," jawab Nabilah sambil memperlihatkan kertas lecek itu.
Robin membaca tulisan Tigor dan menggerutu pelan. Namun, sudut bibirnya terangkat. "Dulu Abang minta kamu janji tidak ke sana lagi."
"Dulu Bilah pergi diam-diam dan tersesat," sahut Nabilah. "Sekarang Bilah minta izin, dan perginya sama Abang. Itu beda, kan?"
Robin menatap istrinya lama, lalu mengangguk. "Itu beda."
Mereka berangkat dengan sepeda motor Pak Jamal yang dipinjam. Nabilah duduk menyamping di boncengan, memegang ujung jaket Robin. Ketika memasuki gang-gang sempit kampung Rantau, beberapa warga menyapa Robin dari depan rumah mereka. Ada ibu-ibu yang sedang memilah botol plastik, ada bapak-bapak yang mengikat kardus, ada anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki.
"Bang Robin bawa Bu Guru!" teriak seorang anak, dan dalam sekejap belasan bocah sudah mengikuti motor mereka seperti rombongan arak-arakan.
***
Tanah bekas pengepul itu tidak lagi sunyi. Puluhan orang bekerja membersihkan puing. Beberapa tiang besi baru sudah ditanam, dan tumpukan seng serta kayu tersusun di pinggir pagar. Di tengah keramaian itu, Supri dan Udin sedang mengangkut pasir dengan ember, wajah mereka basah oleh keringat.
"Neng Nabilah!" seru Udin sambil melambaikan tangan. "Lihat Neng, kami menjalani hukuman!"
"Masih berapa ember lagi, Bang?" tanya Nabilah sambil tertawa.
"Kata Pak RT sampai atapnya berdiri," keluh Supri.
Tigor menghampiri dengan topi caping di kepala. Ia menatap Nabilah dan Robin bergantian sambil tersenyum lebar.
"Alamak, akhirnya datang juga kau, Neng. Si beruang gondrong ini tiap hari menatap jalan, berharap kau muncul," ujar Tigor.
"Gor," tegur Robin.
"Apa? Aku cuma bilang yang benar," sahut Tigor sambil mengedipkan mata kepada Nabilah.
Sita datang membawa buku besar bersampul plastik. Perempuan itu tersenyum ramah kepada Nabilah. "Mbak Nabilah, ini daftar harga yang nanti ditempel di papan depan. Bang Robin mau harganya sama seperti sebelum kebakaran, padahal kas kita belum pulih."
"Pemulung sudah cukup rugi," ujar Robin singkat. "Kita yang menanggung dulu."
Nabilah membaca daftar itu. Harga botol plastik, kardus, kaleng, besi ringan. Ia tidak mengerti semuanya, tetapi ia mengerti satu hal: suaminya memilih untung yang tipis supaya orang-orang ini bisa membeli beras.
"Lapak Baron bagaimana?" tanya Nabilah.
"Tutup sejak Baron ditahan," jawab Tigor. "Sebagian anak buahnya sudah pulang ke kampung. Kodir bilang mau kerja di sini lagi kalau atapnya sudah jadi."
Menjelang zuhur, Tegar menarik ujung gamis Nabilah dan mengajaknya ke sebuah bangunan kecil di belakang pengepul. Bangunan itu hanya berdinding papan dengan atap terpal, tetapi lantainya bersih dan beralaskan tikar. Di dindingnya tergantung beberapa sarung.
"Ini surau Bang Robin, Bu," ujar Tegar dengan bangga. "Di sini Tegar ngajarin Bang Robin."
Nabilah tertawa kecil. Ia melihat sebuah termos besar dan tumpukan piring plastik di sudut surau itu.
"Itu buat apa?" tanya Nabilah kepada Robin yang menyusul di belakang.
"Malam-malam, pemulung yang mengambil barang dari kota pulang ke sini. Mereka setor barang, lalu makan dan minum dulu sebelum pulang," jawab Robin. "Lima bungkus nasi uduk Mpok Tini tiap pagi juga buat bapak-bapak tua yang tidur di sini kalau sudah terlalu lelah pulang."
Nabilah teringat malam pertama ia mendengar Robin menelepon dari kamarnya di kontrakan lama. Kami sudah kumpul semua di tempat biasa. Kasih mereka minum dan makanan. Waktu itu ia mengira suaminya seorang gembong perampok.
"Bilah dulu salah sangka sama Abang," ujarnya pelan.
"Semua orang salah sangka sama Abang," sahut Robin sambil tersenyum. "Abang sudah biasa."
"Tapi Bilah tidak mau biasa," balas Nabilah.
Robin tidak menjawab, tetapi ia menatap istrinya dengan cara yang membuat pipi Nabilah terasa hangat.
***
Sebulan kemudian, atap pengepul sudah berdiri. Seng-seng baru berkilauan ditimpa matahari, dan papan harga ditempel di dekat timbangan, ditulis besar-besar dengan cat hitam oleh Sita. Antrean pemulung kembali memanjang setiap pagi. Kodir bekerja di bagian timbang, dan istrinya membuka warung kopi kecil di depan pagar.
Pada hari pertama pengepul dibuka kembali, Kodir menimbang karung pertama dengan tangan yang gemetar. Ia lalu menoleh kepada Robin dan berkata pelan, "Bang, terima kasih sudah tidak membiarkan saya jadi orang jahat."
"Kau sendiri yang memilih, Dir," jawab Robin sambil menepuk bahunya.
Kontrakan lama milik Pak Jali juga sudah selesai diperbaiki. Robin membayar seluruh biayanya seperti yang ia janjikan. Pak Jali sampai datang ke rumah depan Pak Jamal membawa dua sisir pisang sebagai tanda terima kasih.
Di kontrakan, pelajaran mengaji terus berjalan. Robin sudah sampai di jilid lima. Ia mulai ikut salat berjamaah di mesjid Nur Ikhlas, berdiri di saf paling belakang dengan peci hitamnya. Pertama kali ia datang, beberapa bapak-bapak menoleh dengan heran. Ada yang berbisik, ada yang pura-pura tidak melihat. Robin berdiri kaku di saf belakang, menunduk sepanjang salat, dan buru-buru hendak pulang begitu salam selesai.
Pak Jamal menahan lengannya di teras mesjid. "Besok datang lagi?"
"Saya malu, Pak. Orang-orang melihat saya seperti melihat hantu," jawab Robin dengan suara pelan.
"Mereka juga dulu melihat Bapak seperti itu waktu pertama kali Bapak jadi imam di sini. Umur Bapak dua puluh tiga, suara Bapak gemetar," sahut Pak Jamal sambil tersenyum. "Lama-lama mereka bosan melihat, dan mulai ikut salat."
Keesokan harinya Robin datang lagi. Dan lusa. Pada minggu kedua, Udin yang biasanya datang terlambat sampai menggeser tempat supaya bisa berdiri di samping Robin.
"Biar kebagian pahala orang tobat, Bang," bisik Udin, yang langsung disenggol Supri dari sebelah kanan.
Kabar dari Polsek pun datang bergiliran. Beno dan Baron sudah diserahkan ke kejaksaan, dan sidangnya akan digelar bulan depan. Wulan menjadi saksi, dan utang ayahnya kepada juragan Kasim tidak lagi bisa dipakai untuk mengancam.
Pada suatu sore, ketika Nabilah pulang dari madrasah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Abas.
'Assalamualaikum Nabilah. Minggu depan genap tiga bulan. Sebelum hari itu, bolehkah saya bertemu sekali lagi, di rumah Pak Jamal? Saya tidak akan memaksa jawaban. Saya hanya ingin mendengarnya dari kamu sendiri.'