Abas datang ke rumah Pak Jamal keesokan sorenya, tepat setelah salat ashar. Ia membawa sekeranjang buah untuk Bu Asma yang baru pulang dari puskesmas. Nabilah sudah mengabari Robin sejak siang, dan Robin pulang lebih cepat dari pengepul. Mereka berdua menyeberang bersama.
Di ruang tamu, Bu Asma menyambut Abas dengan ramah. Namun, tidak seperti malam pertama Abas datang, kali ini ia tidak memuji-muji. Ia hanya menyuguhkan teh, lalu duduk di samping suaminya dengan tangan terlipat di pangkuan.
"Alhamdulillah Ibu sudah sehat," ujar Abas dengan sopan.
"Alhamdulillah, Nak. Menantu Ibu yang menunggui semalaman di puskesmas," sahut Bu Asma sambil melirik Robin.
Nabilah hampir tersedak tehnya. Robin menunduk dengan telinga yang memerah.
Abas tersenyum, lalu meletakkan cangkirnya. Wajahnya berubah serius.
"Pak Jamal, Bu Asma, Bang Robin, dan Nabilah," ujar Abas. "Saya sudah dengar semuanya. Soal Beno, soal apa yang menimpa keluarga ini. Saya ikut lega semuanya terbongkar."
"Terima kasih, Nak Abas," sahut Pak Jamal.
"Saya juga dengar dari Bapak saya, pernikahan Nabilah dan Bang Robin akan dibicarakan lagi ketika genap tiga bulan," lanjut Abas dengan hati-hati. "Saya tidak mau ada yang disembunyikan. Jadi saya katakan di depan semuanya. Kalau nanti Nabilah memilih berpisah dengan cara yang baik, saya akan datang bersama keluarga saya untuk melamar dengan benar. Tapi kalau Nabilah memilih tetap bersama Bang Robin, saya tidak akan datang lagi dengan maksud itu."
Ruang tamu itu langsung hening. Pak Jamal menatap Abas dengan kagum sekaligus cemas. Bu Asma menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak bicara.
"Nabilah," ujar Abas sambil menoleh kepada Nabilah, "jangan pilih saya karena kasihan pada Ibu, atau karena malu pada orang kampung. Saya tidak mau dipilih dengan cara seperti itu."
Nabilah mengangguk pelan. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Robin yang sejak tadi diam akhirnya bicara. "Terima kasih sudah bicara terang di depanku. Tidak semua laki-laki mau melakukan itu."
"Saya hanya tidak mau jadi seperti Beno, Bang," sahut Abas.
Setelah Abas pamit, Bu Asma menatap putrinya. Biasanya ia akan langsung mendesak. Namun, kali ini wanita itu hanya menghela napas panjang.
"Ibu tidak mau ikut campur lagi, Bilah," ujar Bu Asma. "Ibu sudah cukup membuat kesalahan. Kamu yang memilih."
***
Malam itu Nabilah tidak bisa tidur. Ia berbaring di kasurnya sambil memandangi langit-langit kamar. Suara Abas yang mengimami salat magrib terngiang di telinganya, merdu dan sempurna. Abas yang saleh, mapan, sopan, dan jujur. Abas yang dulu pernah hampir menjadi jodohnya. Abas yang persis seperti doa-doanya dulu.
Lalu terngiang suara lain. Suara yang terbata-bata mengeja huruf hijaiah jam tiga dini hari. Suara yang tersangkut berkali-kali pada huruf ain dan berbisik ya Allah susah sekali.
Nabilah memejamkan mata. "Ya Allah, jangan biarkan hamba memilih karena takut, atau karena malu, atau karena ingin menang dari siapa pun," doanya dalam hati.
***
Malam-malam berikutnya, pelajaran mengaji di ruang tamu kontrakan berjalan setiap selesai isya. Robin selalu datang tepat waktu dengan peci hitam yang ia beli khusus di pasar, dan buku iqra yang ujung-ujungnya mulai lecek. Nabilah duduk di seberangnya dengan pensil di tangan.
Robin belajar dengan keras kepala yang sama seperti ketika ia menjaga kampung. Kalau satu baris salah, ia mengulanginya sepuluh kali tanpa diminta. Kadang Nabilah harus menahan tawa ketika suaminya terlalu bersemangat sampai suaranya terdengar ke rumah seberang. Kadang pula ia harus menahan haru ketika Robin akhirnya berhasil membaca satu halaman penuh tanpa kesalahan, lalu menatapnya dengan bangga seperti Tegar di kelas.
Pada malam keempat, Pak Jamal yang pulang dari pengajian berhenti di depan gerbang kontrakan karena mendengar suara orang membaca. Ia berdiri di sana cukup lama, lalu mengetuk pelan.
"Assalamualaikum. Boleh Bapak ikut duduk?" tanya Pak Jamal dari luar.
Robin langsung berdiri dengan gugup, seperti murid yang kedatangan kepala sekolah. Nabilah membukakan gerbang untuk ayahnya.
Pak Jamal duduk di kursi di samping meja, mendengarkan menantunya membaca satu baris. Ketika Robin memendekkan bacaan yang seharusnya panjang, Pak Jamal tidak menegur. Ia hanya ikut membaca baris itu dengan suara pelan, memanjangkan bagian yang terlewat, lalu memberi isyarat agar Robin mengulang.
Robin mengulang, dan kali ini benar.
"Bagus," ujar Pak Jamal sambil tersenyum. "Bapak dulu juga belajar dari jilid satu, Robin. Bedanya, Bapak waktu itu umur enam tahun dan sering dijewer guru ngaji."
"Kalau Bilah boleh menjewer, Bang Robin sudah merah kupingnya dari minggu lalu," sahut Nabilah, membuat ayahnya tertawa.
Sebelum pulang, Pak Jamal menepuk bahu menantunya dua kali tanpa berkata apa pun. Robin memandangi punggung mertuanya yang menyeberang jalan sampai pria tua itu masuk ke rumah.
Suatu malam, setelah menyelesaikan halaman terakhir jilid tiga, Robin menutup bukunya dan terdiam lama.
"Bilah," panggilnya.
"Iya, Bang?"
"Abang mau bilang sesuatu, dan Abang mau kamu dengar baik-baik," ujar Robin sambil menatap meja, bukan wajah istrinya. "Kalau nanti kamu memilih Abas, Abang akan melepaskan kamu dengan baik. Di depan Bapak, dengan cara yang benar. Abang tidak akan marah, dan tidak akan menyalahkanmu."
Nabilah merasakan sesuatu yang tajam menusuk dadanya. "Abang mau Bilah pergi?"
"Bukan," jawab Robin dengan cepat. Ia akhirnya mengangkat wajah. "Abang mau kamu memilih. Selama ini semua orang memilihkan untukmu. Bapak, Ibu, Pak RT, Beno, bahkan Abang sendiri. Kali ini Abang tidak mau ikut memilihkan."
Nabilah menatap suaminya lama. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak menangis.
"Bilah dengar, Bang," ujarnya pelan.
Robin mengangguk, lalu mengambil buku iqra jilid empat yang sudah ia beli sejak minggu lalu. Ia meletakkannya di atas meja dengan hati-hati.
"Besok mulai yang ini?" tanyanya.
Nabilah tertawa kecil di sela matanya yang basah. "Besok mulai yang ini."
***
Keesokan siangnya, ketika Nabilah keluar dari kelas, Tegar sudah menunggunya di depan pintu dengan napas terengah-engah. Bocah itu memegang selembar kertas yang dilipat-lipat.
"Bu Guru, ini dari Bang Tigor," ujar Tegar sambil menyodorkan kertas itu. "Katanya kayu sama seng buat atap sudah datang. Pengepul mau dibangun lagi. Bang Robin malu ngajak, jadi Bang Tigor yang ngajak. Bu Guru disuruh datang hari Minggu."
Nabilah membuka kertas itu. Tulisan tangan Tigor besar-besar dan miring.
'Neng Nabilah, datanglah lihat. Suamimu tak akan bilang, tapi dia mau sekali kau lihat.'