Robin terbangun karena mendengar namanya dipanggil dengan suara lirih. Ia segera berdiri dan masuk ke ruang rawat. Bu Asma sudah duduk bersandar di ranjang, mukena puskesmas yang dipinjamkan perawat masih menutupi kepalanya.
"Ibu mau minum?" tanya Robin sambil mengambil gelas di meja.
Bu Asma mengangguk. Ia meminum air itu perlahan, lalu mengembalikan gelasnya. Tangannya yang keriput gemetar sedikit.
"Kamu semalaman di luar?" tanya Bu Asma dengan suara serak.
"Iya, Bu. Bapak dan Bilah saya suruh pulang. Mereka mengajar hari ini," jawab Robin sambil duduk di kursi plastik.
Bu Asma memandangi menantunya lama sekali, seolah sedang memperhatikan wajah itu untuk pertama kali. Brewok yang dulu membuatnya bergidik, rambut gondrong yang ia sebut tidak tahu sopan santun, mata tajam yang ia kira mata penjahat.
"Kenapa kamu yang menunggu Ibu?" tanya Bu Asma akhirnya. "Ibu sudah menghinamu berkali-kali. Ibu melempar uangmu. Ibu bilang kamu cuma mau merongrong keluarga kami. Ibu bahkan..." Suaranya pecah. "Ibu bahkan yang membuat Kodir hampir celaka."
Robin menunduk. "Ibu itu ibunya Bilah. Kalau Ibu kenapa-kenapa, Bilah yang paling sedih."
"Cuma karena Bilah?"
Robin terdiam sejenak. "Dan karena Bapak dulu menolong saya waktu tidak ada orang lain yang mau. Saya belum pernah membalasnya dengan benar."
Bu Asma menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. Robin bingung harus berbuat apa. Ia tidak pernah melihat ibu mertuanya menangis seperti ini, kecuali subuh ketika pesannya kepada Beno terbongkar.
"Ibu minta maaf, Robin," ujar Bu Asma di sela tangisnya. "Ibu tidak tahu harus bilang apa lagi. Ibu malu."
"Sudah, Bu. Jangan menangis terus, nanti dokter marah sama saya," sahut Robin dengan canggung.
Mendengar itu, Bu Asma malah tertawa kecil di tengah tangisnya. Tawa yang terdengar aneh dan basah, tetapi tulus.
Tidak lama kemudian Nabilah datang membawa rantang berisi bubur dan teh manis. Ia sengaja datang sebelum berangkat mengajar. Langkahnya terhenti di ambang pintu ketika melihat ibunya dan suaminya duduk berdua, sama-sama dengan mata merah.
"Kenapa kalian berdua menangis?" tanya Nabilah dengan heran.
"Siapa yang menangis? Abang cuma kurang tidur," sahut Robin sambil buru-buru berdiri.
"Ibu juga," ujar Bu Asma sambil mengusap pipinya dengan ujung mukena.
Nabilah memandangi keduanya bergantian, lalu tersenyum diam-diam. Ia menyuapi ibunya bubur, sementara Robin pamit sebentar untuk mandi di rumah dan berangkat ke kampung Rantau. Sebelum keluar, Robin sempat mendengar Bu Asma berkata pelan kepada putrinya, "Suamimu kalau tidur mendengkur, Bilah. Keras sekali."
***
Sore harinya Bu Asma sudah diperbolehkan pulang. Keesokan malamnya, setelah salat isya, Pak Jamal mengumpulkan Nabilah dan Robin di ruang tamu rumahnya. Bu Asma duduk di samping suaminya dengan selimut tipis di pundak. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya lebih tenang.
"Bapak mau bicara, dan Bapak mau kalian mendengar sampai selesai," ujar Pak Jamal membuka pembicaraan.
Nabilah dan Robin saling melirik, lalu mengangguk.
"Hari akad itu, Bapak yang memaksa kalian menikah," ujar Pak Jamal dengan suara berat. "Bapak tidak bertanya apakah Bilah mau. Bapak tidak bertanya apakah Robin siap. Bapak cuma memikirkan malu. Bapak takut digunjingkan sekampung, lebih takut daripada takut berdosa memaksakan pernikahan."
"Pak..." Nabilah hendak menyela.
"Dengarkan dulu, Nak," pinta Pak Jamal sambil mengangkat tangannya. "Waktu itu Bapak bilang ke kamu, ini cuma formalitas. Itu salah. Akad bukan formalitas. Dan Bapak menjadikan Robin penutup aib keluarga kita, padahal dia sendiri dibohongi untuk datang ke mesjid."
Robin menunduk. Ia tidak menyangka mertuanya akan mengatakan itu dengan begitu terang.
"Bapak minta maaf kepada kalian berdua," ujar Pak Jamal dengan mata yang berkaca-kaca. "Kalau ada yang harus menanggung malu atas pernikahan itu, seharusnya Bapak, bukan kalian."
Nabilah tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia bangkit dan memeluk ayahnya erat-erat.
"Bilah sudah memaafkan Bapak dari dulu," bisik Nabilah.
Setelah Nabilah kembali ke kursinya, Pak Jamal menoleh kepada istrinya. "Satu lagi, Bu. Dulu Ibu bilang setelah tiga bulan talak akan jatuh sendiri. Itu tidak benar. Talak tidak jatuh karena waktu. Pernikahan mereka tetap sah sampai mereka sendiri yang memutuskan."
Bu Asma mengangguk pelan. "Ibu salah dengar dari orang pengajian dulu."
"Tiga bulan yang Bapak janjikan kepada Bilah itu bukan batas talak," lanjut Pak Jamal sambil menatap anak dan menantunya bergantian. "Itu cuma waktu untuk kalian berpikir. Tidak lama lagi genap tiga bulan sejak akad. Bapak akan duduk bersama kalian seperti malam ini. Tapi yang memutuskan bukan Bapak, bukan Ibu, bukan Pak RT. Kalian berdua."
Ruang tamu itu sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik dari halaman.
Robin akhirnya angkat bicara. Ia menatap Nabilah, bukan mertuanya.
"Bilah, Abang juga mau minta maaf untuk satu hal," ujarnya dengan suara pelan. "Waktu kita baru pindah ke rumah depan, kamu minta pisah karena tidak mau jadi beban. Abang bilang, jangan buat pengorbanan Abang jadi sia-sia."
Nabilah mengangguk. Ia masih ingat kalimat itu, dan ia ingat bagaimana kalimat itu membuatnya merasa terikat.
"Kalimat itu salah," lanjut Robin. "Abang tidak mau kamu bertahan karena merasa berutang pada Abang. Apa pun yang Abang lakukan untuk menjagamu, itu pilihan Abang sendiri. Kamu tidak perlu membayarnya. Nanti kalau tiga bulan sudah sampai dan kamu mau pergi, Abang tidak akan menagih apa pun."
Bu Asma menatap menantunya dengan mata yang kembali basah. Pak Jamal mengangguk perlahan, seperti seorang guru yang mendengar muridnya menjawab dengan benar.
Nabilah tidak menjawab. Ia hanya menatap suaminya lama, dengan perasaan yang sulit ia beri nama.
***
Dalam perjalanan pulang ke kontrakan, mereka berjalan pelan di bawah pohon mangga. Daun-daun kering berderak di bawah sandal mereka.
"Bang," panggil Nabilah.
"Hemm."
"Iqra kita semalam sampai halaman berapa?"
Robin mengernyitkan dahi. "Halaman dua puluh dua. Kenapa?"
"Malam ini kita lanjut. Bilah tidak mau muridnya bolos cuma karena habis menangis," ujar Nabilah sambil tersenyum tipis.
Robin tertawa kecil, tawa pertama yang Nabilah dengar darinya dalam beberapa hari ini. Ia membukakan gerbang untuk istrinya.
Di dalam rumah, ponsel Nabilah bergetar. Sebuah pesan dari Abas.
'Assalamualaikum Nabilah. Saya dengar kabar soal Beno dan Bu Asma. Alhamdulillah semua selamat. Kalau diizinkan, besok sore saya mau bersilaturahmi ke rumah Pak Jamal. Ada yang ingin saya sampaikan kepada kamu dan Bang Robin.'