Pukul tujuh pagi, Baron sudah menunggu di depan gerbang kontrakan dengan motornya. Wajahnya kusut seperti orang yang tidak tidur semalaman. Beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman langsung masuk ke rumah begitu melihat ketua preman kampung Rantau bagian barat itu berdiri di jalan kampung Santri.
Nabilah mengantar suaminya sampai ke gerbang. Ia menatap Baron sekilas, lalu menunduk. Pria inilah yang anak buahnya membawa ponselnya ke rumah kosong.
"Kau istrinya?" tanya Baron dengan suara serak.
"Iya," jawab Nabilah pelan.
Baron terdiam sebentar. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk kaku dan menyalakan mesin motornya. "Ayo, Robin. Sebelum aku berubah pikiran."
Robin membonceng di belakang Baron. Pemandangan itu membuat Udin yang sedang ronda pagi sampai menjatuhkan senternya.
***
Di Polsek, Baron menyerahkan ponsel tuanya kepada petugas berkumis tipis. Rekaman-rekaman suara di dalamnya diputar satu per satu di ruang pemeriksaan. Robin tidak diizinkan masuk, tetapi suara dari pengeras ponsel itu cukup keras untuk terdengar samar dari bangku tunggu.
Suara Beno. Tidak salah lagi.
'Ustad itu jangan dilepas sebelum akad lewat. Sebut nama Robin di dekatnya, biar dia ingat.'
'Bakar saja tempatnya. Biar Robin sibuk dan istrinya ketakutan.'
'Wulan akan bawa Nabilah ke lorong belakang. Ponselnya kalian bawa ke rumah kosong, biar Robin ke sana. Aku yang antar Nabilah pulang.'
Robin mengepalkan kedua tangannya di atas lutut. Ia menunduk dalam-dalam, berusaha mengatur napas. Pak RT yang duduk di sampingnya menepuk punggungnya pelan.
"Sabar, Robin. Sebentar lagi selesai," bisik Pak RT.
Pemeriksaan Baron berlangsung sampai siang. Setelah itu petugas memberitahu bahwa Baron akan ditahan. Ketika digiring melewati bangku tunggu, Baron berhenti sebentar di depan Robin.
"Pemulung-pemulung itu. Kau sudah janji," ujar Baron.
"Aku ingat," jawab Robin.
Di ujung bangku tunggu, Wulan yang datang untuk melengkapi keterangannya menunduk ketakutan ketika Baron lewat. Pria bertubuh besar itu berhenti di depannya.
"Kau anak yang dulu menunggu di mobil," ujar Baron pelan. "Kalau juragan muda menagih utang bapakmu, bilang saja ke polisi. Mereka sudah dengar semua."
Wulan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dengan mata yang basah.
Setelah Baron dibawa masuk, Robin mengirim pesan kepada istrinya.
'Baron sudah menyerahkan diri. Rekamannya diputar. Abang baik-baik saja.'
Balasan Nabilah datang tidak sampai semenit kemudian, padahal ia sedang mengajar.
'Alhamdulillah. Bilah tunggu Abang di gerbang madrasah jam satu.'
***
Kabar penangkapan Beno datang menjelang magrib. Petugas menemukannya di rumah seorang kerabat di kampung sebelah, sedang bersiap pergi ke luar kota dengan tas besar. Juragan Kasim datang ke Polsek bersama pengacaranya, tetapi tidak bisa membawa putranya pulang.
Pak RT sendiri yang menyampaikan kabar itu ke rumah Pak Jamal. Robin dan Nabilah ikut duduk di ruang tamu. Pak RT menceritakan semuanya dengan pelan: rekaman suara Beno, foto-foto mobilnya, keterangan Wulan, Kodir, dan Sofyan. Beno yang membiayai penculikan Sofyan sebelum akad. Beno yang menyuruh membakar pengepul dan merusak kontrakan lama. Beno yang mengatur Nabilah dibawa dari pasar, lalu berpura-pura menemukannya di pinggir jalan.
Bu Asma mendengarkan dengan wajah yang semakin lama semakin pucat. Tangannya mencengkeram ujung kerudung.
"Jadi waktu Nak Beno membawa Bilah pulang, dan Ibu memeluknya, dan Ibu mengundangnya makan..." Bu Asma tidak sanggup melanjutkan. Suaranya tersangkut di tenggorokan.
"Bu," panggil Nabilah dengan cemas.
"Dan Ibu yang memberitahu dia soal Kodir," lanjut Bu Asma dengan napas yang mulai tersengal. Ia memegangi dadanya. "Ya Allah, Ibu yang..."
Tubuh Bu Asma tiba-tiba lunglai ke samping. Pak Jamal menangkapnya sebelum kepalanya membentur lengan kursi.
"Ibu!" pekik Nabilah sambil berlutut di depan ibunya.
"Penyakit jantungnya," ujar Pak Jamal dengan wajah panik. "Obatnya di kamar. Bilah, cepat ambil!"
Robin sudah berdiri sebelum siapa pun menyuruhnya. "Puskesmas, Pak. Sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, ia membopong tubuh ibu mertuanya dengan kedua tangannya. Bu Asma tidak berat, dan Robin melangkah cepat melewati halaman, melewati pohon mangga, menuju jalan raya di ujung gang. Pak RT berlari mendahului untuk menghentikan angkot. Nabilah menyusul dengan obat dan tas ibunya, sementara Pak Jamal mengunci rumah dengan tangan yang gemetar.
Di dalam angkot, Robin memangku kepala Bu Asma dengan hati-hati agar tidak terbentur. Wanita itu sempat membuka mata sebentar, melihat wajah brewok di atasnya, lalu kembali terpejam.
***
Di puskesmas, dokter jaga memeriksa Bu Asma dan memintanya dirawat semalam untuk diawasi. Pak Jamal duduk di samping ranjang, memegangi tangan istrinya. Nabilah menangis di bangku lorong, dan Robin duduk di sebelahnya tanpa berkata apa-apa. Hanya bahunya yang sedikit dimiringkan, kalau-kalau istrinya membutuhkan sandaran.
"Ini salah Bilah, Bang," isak Nabilah. "Kalau Bilah tidak pernah menolak Beno dulu..."
"Ini salah Beno, Bilah. Bukan salah kamu, bukan salah Ibu," potong Robin dengan lembut. "Ibu cuma dibohongi oleh orang yang pandai berbohong."
Nabilah menyeka matanya. Untuk beberapa lama mereka duduk berdua dalam diam di lorong yang berbau obat itu. Lampu neon berkedip di langit-langit.
Menjelang pukul sebelas malam, Pak Jamal keluar dari ruangan.
"Ibumu sudah tenang, sudah tidur. Kata dokter tidak apa-apa, cuma kaget," ujar Pak Jamal dengan lega. "Bilah, kamu pulang saja dulu sama Robin. Besok kamu mengajar."
"Bilah mau di sini, Pak."
"Saya yang menunggu di sini, Pak," sahut Robin. "Bapak dan Bilah pulang saja istirahat. Bapak juga besok mengajar."
Pak Jamal menatap menantunya dengan ragu. "Kamu yakin?"
"Yakin, Pak. Saya sudah biasa tidak tidur," jawab Robin.
Setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya Pak Jamal dan Nabilah pulang dengan ojek yang dipesan Robin. Pria itu kembali duduk di kursi plastik di depan ruang rawat. Sesekali ia mengintip dari jendela kaca untuk memastikan ibu mertuanya masih bernapas teratur. Ia membuka ponselnya dan membaca ulang sebuah halaman iqra yang difoto Nabilah untuknya, lalu menggerakkan bibirnya tanpa suara.
***
Bu Asma terbangun ketika azan subuh terdengar dari mesjid di dekat puskesmas. Kepalanya masih terasa ringan. Ia menoleh ke kursi di samping ranjang, berharap melihat suaminya.
Kursi itu kosong. Namun, dari jendela kaca di pintu, ia melihat seseorang tertidur dengan kepala bersandar ke dinding lorong. Rambut gondrongnya terurai dari karet gelang, dan kedua tangannya terlipat di dada.
Robin.
Bu Asma menatap menantunya itu lama sekali. Air matanya jatuh membasahi bantal puskesmas yang tipis.