Keterangan Wulan dicatat di Polsek sampai menjelang zuhur. Perempuan itu menceritakan semuanya sekali lagi, kali ini di depan petugas berkumis tipis yang sudah mengenal wajah Robin dan Pak RT. Nabilah ikut memberikan keterangan sebagai korban, lalu duduk di bangku panjang dengan wajah yang lelah. Ayah Wulan, seorang pria kurus bertopi lusuh, sudah dijemput Supri dan dititipkan di rumah saudara Pak RT.
Siang itu juga beberapa petugas berangkat ke kampung Jawara. Robin tidak diizinkan ikut. Ia menunggu di Polsek dengan gelisah, sesekali berdiri dan berjalan mondar-mandir di halaman.
"Duduklah, Bang. Abang membuat Bilah ikut pusing," ujar Nabilah sambil menepuk bangku di sampingnya.
Robin duduk, tetapi lututnya terus bergerak.
Menjelang ashar, petugas berkumis tipis kembali dengan wajah kecewa. Ia menghampiri Pak RT dan Robin.
"Rumah kecil di ujung empang itu kosong," ujar petugas itu. "Masih ada asbak penuh puntung dan kasur lipat. Penjaga bilang Saudara Beno pergi tadi pagi naik mobil. Sepertinya dia tahu Saudari Wulan tidak masuk kerja hari ini."
Robin mengepalkan tangannya. Nabilah langsung memegang lengannya dengan erat.
"Abang sudah janji, Bang," bisik Nabilah. "Lewat jalur yang benar."
"Abang ingat," jawab Robin sambil menghela napas panjang.
***
Malam itu, untuk pertama kalinya, Robin belajar mengaji bersama Nabilah. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu dengan meja kecil di antara keduanya. Pintu depan dibiarkan terbuka dan lampu dinyalakan terang.
"Coba Abang baca baris ini," ujar Nabilah sambil menunjuk halaman iqra dengan ujung pensil.
Robin membaca dengan suara pelan dan kaku. Ketika sampai pada huruf ain, suaranya tersangkut lagi. Ia menggaruk brewoknya dengan malu.
"Jangan dari mulut, Bang. Dari sini," ujar Nabilah sambil menyentuh lehernya sendiri. "Seperti orang mau menelan, tapi bersuara."
Robin mencoba sekali, dua kali. Pada percobaan kelima, bunyi itu keluar dengan benar. Ia menatap istrinya dengan mata yang membulat seperti anak kecil.
"Nah, itu dia," ujar Nabilah sambil tersenyum lebar.
Namun, Robin tetap tidak bisa duduk tenang malam itu. Setelah pelajaran selesai, ia meminta izin keluar sebentar.
"Abang mau ke pengepul. Tigor bilang ada yang mau ketemu Abang di sana," ujar Robin sambil memperlihatkan pesan Tigor kepada istrinya.
'Bin, Baron datang ke tanah pengepul. Sendirian. Katanya mau bicara sama kau.'
Nabilah menatap pesan itu dengan cemas. "Bilah takut, Bang."
"Abang tidak sendirian, ada Tigor. Abang juga tidak akan berkelahi," janji Robin. "Kalau dalam satu jam Abang tidak memberi kabar, telepon Pak RT."
Nabilah mengangguk dengan berat hati. Ia mengunci gerbang setelah suaminya pergi, lalu duduk di ruang tamu dengan ponsel di pangkuan dan buku iqra yang masih terbuka di atas meja.
***
Tanah bekas pengepul itu gelap dan sunyi. Hanya ada cahaya dari sebuah lampu bohlam yang digantung Tigor di tiang besi yang melengkung. Bau abu yang basah masih tercium. Di tengah tanah gosong itu, Baron duduk di atas tumpukan seng bekas dengan rokok di tangan. Tidak ada anak buah di sekitarnya.
"Akhirnya kau datang juga, Robin," ujar Baron tanpa berdiri.
"Kau yang memanggil," sahut Robin sambil berdiri beberapa langkah di depannya. Tigor menunggu di dekat pagar seng, cukup dekat untuk mendengar.
Baron mengisap rokoknya dalam-dalam. "Juragan muda meneleponku tadi siang. Dia bilang polisi sudah tahu dari Wulan. Lalu dia menyuruhku mengaku semuanya ideku sendiri. Penculikan ustad itu, kebakaran ini, kontrakanmu, istrimu di pasar. Katanya dia akan membayar pengacaraku dan memberi uang untuk keluargaku."
"Lalu?"
"Lalu aku sadar, aku cuma kayu bakar buat dia," ujar Baron sambil membuang puntung rokoknya dengan kesal. "Dia anak juragan. Kalau ketahuan, bapaknya bisa membeli apa saja. Aku? Aku orang Rantau. Masuk penjara, keluar, tidak ada yang peduli."
Robin tidak menjawab. Ia menunggu.
"Aku mau menawarkan sesuatu," lanjut Baron sambil berdiri. Tubuhnya yang besar membuat bayangannya memanjang di tanah. "Aku punya pegangan. Tapi aku mau jaminan. Kau jangan menuntut lapakku. Biarkan aku tetap berdagang setelah semua ini selesai. Dan kau bilang ke polisi, aku yang membantumu."
Robin menggeleng pelan. "Aku tidak mau membuat kesepakatan apa pun denganmu, Baron."
Wajah Baron langsung berubah merah. Ia melangkah maju dan mencengkeram kerah kaos Robin. Tigor bergerak dari pagar, tetapi Robin mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Tigor tetap di tempat.
"Kau pikir kau siapa? Aku datang baik-baik!" bentak Baron tepat di depan wajah Robin.
Robin tidak menepis tangan itu. Ia tetap berdiri tenang, menatap mata Baron lurus-lurus.
"Kau membakar tempat ini, Baron. Tempat empat puluh keluarga pemulung menjual barang. Anak buahmu mengikat seorang ustad di rumah kosong. Istriku dibawa ke dalam mobilmu," ujar Robin dengan suara rendah. "Aku tidak akan menukar itu semua dengan lapakmu. Kalau kau mau menolong dirimu sendiri, serahkan dirimu ke polisi. Bawa peganganmu. Biar mereka yang menimbang."
Baron menatap Robin lama. Napasnya terengah-engah. Perlahan, cengkeramannya pada kerah kaos Robin mengendur, lalu terlepas.
"Kau memang gila," gumam Baron sambil mundur selangkah.
"Mungkin," sahut Robin. "Tapi aku sudah lelah menyelesaikan semuanya dengan tangan. Istriku mengajariku cara lain."
Baron tertawa pendek, tawa yang terdengar getir. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel tua yang retak di sudutnya.
"Aku tidak pernah percaya orang Jawara," ujar Baron. "Setiap kali juragan muda memberi perintah lewat telepon, aku rekam. Setiap kali dia mengantar uang, aku suruh anak buahku memotret mobilnya dari jauh. Semuanya ada di sini."
Tigor yang mendengar dari pagar sampai bersiul pelan. "Alamak."
"Kenapa kau simpan semua itu?" tanya Robin.
"Buat jaga-jaga kalau dia mau mengorbankan aku. Seperti sekarang," jawab Baron sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku. Ia menatap sisa-sisa pengepul yang hitam di sekelilingnya, lalu menunduk. "Pemulung yang jual di lapakku nanti mau jual ke mana?"
"Ke sini," jawab Robin. "Begitu atapnya berdiri lagi. Dengan harga yang biasa."
Baron terdiam cukup lama. Ia kemudian berjalan menuju motornya yang diparkir di luar pagar seng. Sebelum menyalakan mesin, ia menoleh.
"Besok pagi aku ke Polsek. Tapi kau yang antar," ujar Baron. "Kalau aku pergi sendiri, aku takut berubah pikiran di jalan."