Nabilah memandangi pesan itu lama sekali. Sapu lidi yang tadi di tangannya kini tergeletak di lantai teras. Dulu, mungkin ia akan menyimpan pesan itu sendirian dan memikirkannya semalaman. Namun, sejak kejadian di pasar, ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi melangkah tanpa orang lain tahu.
Ia mengetuk pintu kamar Robin yang kini tidak lagi dikunci.
"Bang, lihat ini," ujar Nabilah sambil menyodorkan ponselnya.
Robin membaca pesan itu, lalu menatap istrinya. "Kamu mau ketemu dia?"
"Bilah mau," jawab Nabilah dengan tegas. "Tapi tidak sendirian, dan tidak di tempat yang sepi. Bilah juga mau Pak RT tahu."
Robin tersenyum tipis. Ia melihat perubahan pada istrinya, dan perubahan itu membuatnya bangga sekaligus lega.
Setelah berunding, Nabilah membalas pesan Wulan. Ia mengajak bertemu besok pagi di lapak nasi uduk Mpok Tini di bawah pohon jamblang, tempat yang ramai oleh pembeli. Ia menulis dengan jujur bahwa suaminya akan duduk di warung kopi seberang jalan, cukup jauh untuk tidak mendengar, tetapi cukup dekat untuk melihat.
Balasan datang setengah jam kemudian.
'Baik Mbak. Saya datang jam enam.'
Malam itu juga Pak Jamal dikabari. Ia berjanji memintakan izin ke madrasah untuk Nabilah esok hari, dan Pak RT berjanji tetap di rumah sampai ada kabar.
***
Pagi itu lapak Mpok Tini ramai seperti biasa. Anak-anak berseragam antre membeli gorengan, bapak-bapak duduk di bangku kayu menyantap nasi uduk sambil membaca koran. Nabilah duduk di bangku paling ujung dengan segelas teh manis di depannya. Di seberang jalan, di warung Mpok Ijah, Robin duduk bersama Supri sambil memegang gelas kopi yang tidak diminum.
Pukul enam lewat sepuluh, seorang perempuan berjalan kaki dari arah jalan raya. Ia memakai kerudung hitam dan masker. Ketika sampai di depan Nabilah, ia melepas maskernya.
Wajah itu. Tahi lalat kecil di dagu. Nabilah merasakan jantungnya berdegup kencang, tetapi ia tetap duduk tegak.
"Silakan duduk, Mbak Wulan," ujar Nabilah.
Wulan duduk dengan tangan yang gemetar. Matanya merah dan bengkak, seperti orang yang menangis berhari-hari. Mpok Tini menghampiri dengan ragu, lalu meletakkan segelas teh di depan tamu itu tanpa ditanya.
"Mbak Nabilah, saya minta maaf," ujar Wulan dengan suara serak. "Saya tidak tahu harus mulai dari mana."
"Dari mana saja, Mbak. Bilah dengarkan," sahut Nabilah.
Wulan menarik napas panjang. "Saya kerja di empang juragan Kasim sejak lulus sekolah. Bagian pembukuan. Bapak saya berutang banyak sama juragan Kasim waktu ibu saya sakit dulu. Utang itu belum lunas sampai sekarang. Mas Beno tahu itu."
Nabilah mengangguk, memberi tanda agar ia melanjutkan.
"Sebelum Mbak menikah, Mas Beno sudah sering menyuruh saya mengawasi Mbak. Saya disuruh mencari tahu siapa calon suami Mbak. Lalu waktu Mbak menikah dengan Bang Robin, dia marah sekali. Dia menyuruh saya memotret Mbak dan Bang Robin setiap ada kesempatan. Waktu makan soto ayam itu, saya yang memotret dari warung sebelah."
Nabilah teringat siang itu. Ia menyuapkan sesendok soto kepada Robin untuk menanyakan rasanya. Ternyata ada mata lain yang menyaksikan.
"Lalu Mas Beno menyuruh saya datang ke kontrakan Mbak. Saya harus bilang saya mencintai Bang Robin dan meminta Mbak menjauh. Padahal saya tidak pernah kenal Bang Robin," lanjut Wulan sambil menunduk. "Foto kado dan foto rangkulan itu juga saya yang kirim, pakai nomor baru. Mas Beno yang memberikan fotonya. Dan pesan soal Bang Robin pindah ke depan rumah Mbak, saya juga yang mengirim ke Mas Beno, karena saya disuruh mengawasi."
"Dan di pasar?" tanya Nabilah pelan. Tangannya mencengkeram gelas teh.
Air mata Wulan mulai jatuh. "Saya disuruh mengajak Mbak ke lorong belakang pasar. Ada mobil yang menunggu di sana, mobil anak buah Baron. Saya pura-pura menawarkan kerudung. Mbak ikut tanpa curiga sedikit pun." Ia menggeleng pelan. "Di lorong itu Mbak tiba-tiba diam saja, Mbak. Seperti orang bingung, tidak menjawab kalau ditanya. Saya juga tidak tahu kenapa. Saya ketakutan sekali. Mereka mengambil ponsel Mbak dan membawanya pergi. Saya disuruh menunggu bersama Mbak di dalam mobil, di pinggir jalan dekat pasar, sampai Mas Beno datang."
"Jadi Beno tidak kebetulan lewat," gumam Nabilah.
"Tidak, Mbak. Dia sudah menunggu di ujung jalan. Begitu dapat kabar, dia datang dan memindahkan Mbak ke mobilnya. Saya disuruh turun dan pulang naik ojek," jawab Wulan sambil terisak. "Waktu itu Mas Beno bilang ke saya, sekarang Nabilah akan tahu siapa yang benar-benar bisa menolongnya."
Nabilah memejamkan mata. Ia teringat wajah Beno yang tersenyum ramah di ruang tamu orang tuanya, dan pelukan ibunya yang lega. Semua itu ternyata sebuah sandiwara.
"Kenapa Mbak mau bicara sekarang?" tanya Nabilah setelah berhasil menenangkan diri.
"Karena Mas Beno menyalahkan saya," jawab Wulan dengan suara bergetar. "Katanya gara-gara saya ceroboh, Bang Robin bisa tahu. Dia bilang kalau saya bicara ke polisi, utang Bapak saya akan ditagih semuanya bulan ini juga dan rumah kami disita. Kemarin dia mengulang ancaman itu di depan Bapak. Bapak saya sampai jatuh sakit." Ia menatap Nabilah dengan putus asa. "Saya sudah tidak tahan, Mbak. Saya lebih takut jadi orang jahat selamanya daripada kehilangan rumah."
Nabilah mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Wulan yang dingin. Ia tidak tahu dari mana datangnya keberanian itu. Perempuan di depannya ini yang membawanya ke dalam ketakutan terbesar dalam hidupnya. Namun, perempuan ini juga sedang ketakutan.
"Mbak mau menceritakan ini ke polisi?" tanya Nabilah.
Wulan mengangguk pelan. "Kalau Bapak saya dilindungi."
"Pak RT dan suami Bilah akan membantu," ujar Nabilah sambil menoleh ke seberang jalan. Robin sudah berdiri dari kursinya, menunggu isyarat. Nabilah mengangguk kepadanya.
Ketika Robin mendekat bersama Supri, Wulan menunduk ketakutan. Namun, Robin berhenti dua langkah dari meja dan berbicara dengan suara yang pelan.
"Terima kasih sudah mau bicara, Mbak," ujar Robin. "Kita ke rumah Pak RT dulu, lalu ke Polsek. Supri akan menjemput ayah Mbak ke rumah saudara di kampung Santri."
Wulan menatap Robin dengan heran, seperti tidak percaya pria yang ia fitnah bisa berbicara selembut itu kepadanya. Ia lalu teringat sesuatu dan mencengkeram lengan Nabilah.
"Satu lagi, Mbak. Mas Beno tidak pernah ke Bandung. Selama polisi mencarinya, dia bersembunyi di rumah kecil di ujung empang belakang. Yang jendelanya ditutup koran."