Robin tidak langsung menyeberang. Ia berdiri di balik gorden jendela, memperhatikan mobil putih yang terparkir di depan rumah mertuanya. Dari ruang tamu yang pintunya terbuka, terdengar suara tawa Beno yang renyah.
"Abang mau ke sana?" tanya Nabilah yang berdiri di belakangnya.
"Kalau Abang ke sana sekarang, Abang takut tangan Abang bergerak lebih dulu daripada mulut," jawab Robin jujur. "Kita tunggu dipanggil."
Panggilan itu datang tidak lama kemudian, lewat pesan dari Pak Jamal di ponsel Nabilah.
'Nak Beno mau makan siang di sini jam dua belas. Kalian datang. Bapak tidak mau ada yang bicara di belakang.'
Nabilah menatap suaminya. Robin mengangguk pelan.
***
Pukul dua belas lewat sedikit, mereka duduk mengelilingi meja makan di rumah Pak Jamal. Bu Asma memasak ayam goreng, sayur asem, dan sambal terasi. Namun, wanita itu tidak banyak bicara. Ia hanya mondar-mandir dari dapur ke meja dengan wajah yang tegang, sesekali melirik ke arah Robin.
Beno duduk di kursi yang paling dekat dengan Pak Jamal. Kemejanya rapi dan rambutnya disisir licin. Kotak kue lapis legit yang ia bawa diletakkan di tengah meja.
"Maaf Pak, Bu, saya baru bisa menepati janji sekarang. Urusan empang Bapak saya di Bandung lama sekali," ujar Beno sambil tersenyum. "Begitu pulang, saya langsung dengar kabar yang tidak enak. Katanya saya dicari polisi."
"Memang benar, Nak Beno," sahut Pak Jamal dengan tenang.
"Kemarin sore saya sudah datang sendiri ke Polsek, Pak. Ditemani pengacara kenalan Bapak saya," ujar Beno sambil menyendok nasi. "Saya sampaikan semuanya. Saya tidak takut, karena saya tidak salah."
Robin meletakkan sendoknya. Nabilah bisa melihat rahang suaminya mengeras di balik brewok.
"Saya juga sampaikan ke polisi, Pak, soal saksi yang katanya anak buah Baron itu," lanjut Beno sambil menatap Robin dengan sopan yang terasa dingin. "Namanya Kodir kan? Saya dengar istrinya dulu dirawat di rumah sakit dan biayanya dibayar Robin. Bapak paham maksud saya. Orang yang berutang budi bisa mengatakan apa saja."
"Kodir bicara karena tidak tahan melihat orang dijahati," sahut Robin dengan suara rendah.
"Bisa jadi," ujar Beno sambil mengangkat bahu. "Lalu soal Wulan. Dia pegawai pembukuan di empang kami. Anak baik. Sekarang dia ketakutan karena difitnah menculik istri orang. Ayahnya sampai sakit."
Nabilah menatap Beno. "Perempuan itu datang ke kontrakan Bilah. Bilah sendiri yang melihat."
"Mungkin dia memang datang, Bilah," jawab Beno dengan lembut, seolah sedang membujuk anak kecil. "Mungkin dia kenal Robin. Siapa yang tahu urusan Robin dengan perempuan-perempuan di luar sana? Kamu sendiri pernah dapat foto Robin dirangkul perempuan lain, bukan?"
Pak Jamal berdeham. Bu Asma berhenti menuang air ke gelas.
"Dan satu lagi, Pak," ujar Beno, kini menghadap Pak Jamal sepenuhnya. "Saya dengar dari orang kampung sini, bertahun-tahun lalu Robin pernah dikeroyok warga karena mencuri. Saya tidak bermaksud membuka aib. Tapi Bapak menikahkan putri Bapak dengan orang yang..."
"Cukup, Beno," potong Pak Jamal dengan suara yang tidak keras, tetapi membuat semua orang terdiam.
Pak Jamal meletakkan gelasnya perlahan.
"Kejadian itu saya tahu betul, karena saya sendiri yang berdiri di depan warga waktu itu," ujar Pak Jamal sambil menatap Beno lurus. "Robin tidak mencuri. Malingnya tertangkap dua hari kemudian di kampung Jawara. Kampungmu sendiri, Beno. Kalau kamu mau membuka cerita lama, ceritakan sampai habis."
Wajah Beno memerah. Untuk pertama kalinya senyum ramah itu tergelincir dari bibirnya. Ia buru-buru meminum airnya.
"Maaf Pak, saya cuma dengar dari orang," ujarnya kemudian.
"Lain kali periksa dulu sebelum disampaikan," sahut Pak Jamal.
Ruang makan itu hening beberapa lama. Hanya terdengar suara kipas angin yang berputar di langit-langit. Beno kembali menyusun senyumnya, lalu menoleh kepada Bu Asma yang berdiri kaku di samping meja.
"Bu Asma, waktu itu Ibu bilang pernikahan Nabilah cuma sementara. Kalau ada pria yang mampu menjaga Nabilah, mereka akan bercerai," ujar Beno dengan suara yang dibuat lembut. "Saya mau mengulang yang saya katakan dulu. Kalau diberi kesempatan, saya siap melamar Nabilah. Saya bisa menjaga dia lebih baik daripada orang yang membuat dia diculik."
Bu Asma membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Dulu ia akan langsung menyetujui. Akan tetapi, pesan yang ia kirim malam itu dan enam orang yang datang ke rumah Tigor menjelang subuh masih membayangi pikirannya. Ia memandang putrinya dengan bingung.
Nabilah meletakkan sendoknya dengan tenang. Tangannya dingin, tetapi suaranya tidak gemetar.
"Beno, dulu Bilah sudah menolak kamu. Hari ini Bilah menolak lagi, di depan Bapak, Ibu, dan suami Bilah," ujar Nabilah dengan jelas. "Bukan karena Bang Robin melarang. Bilah menolak karena Bilah tahu apa yang kamu lakukan pada Fitri. Bilah melihat sendiri bagaimana dia menangis di kamar Bilah sebelum pergi dari kampung ini. Dan Bilah tidak percaya cara kamu mendekat sekarang."
Beno menatap Nabilah dengan mata yang menyipit.
"Jadi kamu lebih memilih preman ini?" tanya Beno dengan suara yang mulai kehilangan kehalusannya.
"Bilah belum bicara soal memilih siapa. Bilah cuma bilang, jawaban untuk kamu adalah tidak," sahut Nabilah.
Robin bangkit dari kursinya. Ia tidak menggebrak meja, tidak juga meninggikan suara.
"Beno, istriku sudah menjawab. Kurasa makan siangnya sudah cukup," ujar Robin dengan tenang. "Silakan pulang. Kalau ada urusan lain, kita bicarakan di depan polisi."
Beno menatap Robin lama, lalu tertawa kecil. Ia mengambil kunci mobilnya dari atas meja dan berpamitan kepada Pak Jamal dengan sopan yang dibuat-buat. Ia mengabaikan tangan Robin yang tidak terulur.
Nabilah mengantar sampai ambang pintu karena ayahnya memintanya demikian. Di depan pagar, ketika Robin dan Pak Jamal masih di teras, Beno berhenti dan berbisik tanpa menoleh.
"Tiga bulan, Bilah. Kalau nanti dia menalakmu, kamu mau lari ke mana?"
Nabilah tidak menjawab. Ia berdiri tegak sampai mobil putih itu menghilang di ujung jalan.
***
Sore harinya, ketika Nabilah sedang menyapu teras kontrakan, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
'Mbak Nabilah, ini Wulan. Saya mau ketemu. Ada yang harus saya katakan. Tolong jangan bawa siapa-siapa.'