Pagi itu hari Minggu dan madrasah libur. Nabilah menyiapkan sarapan lebih awal. Ia memasak nasi goreng dengan telur ceplok, lalu menata dua piring di meja ruang tengah. Ketika Robin keluar dari kamar dengan mata merah karena kurang tidur, Nabilah sudah duduk menunggunya.
"Sarapan dulu, Bang," ujar Nabilah.
Robin duduk dengan canggung. Ia menatap piring di depannya tanpa menyentuhnya.
"Bilah, soal semalam di jalan. Abang minta maaf," ujar Robin dengan suara berat. "Abang tidak berhak bicara seperti itu. Abang cuma..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
"Cemburu?" tanya Nabilah pelan.
Robin tidak menjawab, tetapi telinganya memerah.
Nabilah meletakkan sendoknya. Ia sudah menyusun kata-kata ini sejak subuh, setelah selesai tahajud dan menangis di ruang tengah.
"Bang, semalam Bilah bangun jam tiga. Bilah dengar suara dari kamar Abang," ujar Nabilah dengan hati-hati. "Bilah tidak sengaja menguping. Tapi Bilah dengar Abang belajar membaca huruf hijaiah."
Wajah Robin langsung pucat, lalu berubah merah padam. Ia menunduk dalam-dalam, seperti seorang anak yang ketahuan mencuri. Tangannya yang besar dan kasar mencengkeram ujung meja.
"Abang malu," ujarnya hampir berbisik.
"Kenapa malu, Bang?"
"Karena Abang menikah dengan guru agama," jawab Robin tanpa berani mengangkat wajah. "Umur Abang sudah tiga puluh lebih, tapi membaca huruf ain saja tidak bisa. Kamu mengajar anak tujuh tahun yang bacaannya lebih bagus dari Abang."
Nabilah merasakan matanya kembali panas. Selama ini ia mengira kamar itu menyimpan sesuatu yang menakutkan. Ternyata yang disembunyikan suaminya adalah rasa malu.
Robin akhirnya bangkit. Ia berjalan ke pintu kamarnya, memutar kunci, lalu membuka pintu itu lebar-lebar. Ia berdiri di sampingnya dan menoleh kepada istrinya.
"Masuklah, Bilah. Sudah waktunya kamu tahu," ujar Robin.
***
Nabilah melangkah masuk dengan pelan. Kamar itu tidak besar. Ada kasur tipis di lantai, lemari kayu tua, dan sebuah meja kecil yang dipenuhi tumpukan buku dan map. Di sudut ruangan terbentang sajadah hijau yang warnanya sudah pudar, dan di atasnya tergeletak sebuah buku iqra jilid tiga yang masih baru, penuh coretan pensil di setiap halaman.
Di meja ada beberapa buku kas tebal bersampul batik, sebuah map plastik berisi kuitansi, dan sebuah bingkai foto kecil. Foto itu memperlihatkan sepasang suami istri tua yang berdiri di depan rumah sederhana berdinding papan.
"Itu Bapak dan Ibu Abang di Surabaya," ujar Robin yang berdiri di ambang pintu, tidak ikut masuk. "Bapak dulu kuli angkut di pelabuhan Tanjung Perak. Abang ikut kerja di sana dari umur dua belas tahun. Sekolah cuma sampai kelas lima SD. Di rumah tidak ada yang sempat mengajari Abang mengaji."
Nabilah membuka map plastik itu. Isinya puluhan kuitansi pembayaran sekolah, semuanya atas nama anak-anak yang berbeda. Tegar ada di antaranya.
"Empat belas anak," ujar Robin. "Abang catat semuanya supaya tidak ada yang terlewat."
"Uangnya dari mana, Bang?" tanya Nabilah dengan suara pelan. "Bilah tidak menuduh. Bilah cuma ingin tahu."
Robin menghela napas panjang. "Pengepul itu milik Abang, Bilah. Bukan cuma tempat Abang jaga. Lima tahun yang lalu Abang beli dari pemiliknya yang sudah tua dan mau pulang kampung. Uangnya dari tabungan belasan tahun kerja di pelabuhan, lalu jual besi tua. Tigor yang mengelola sehari-hari. Barangnya Abang jual langsung ke pabrik daur ulang di kota, dibayar per truk. Tigor tahu Abang pemiliknya, tapi berapa tabungan Abang, dia tidak pernah tahu. Makanya dia heran uang Abang tidak habis-habis."
"Kenapa tidak bilang dari awal?"
"Kalau orang kampung Rantau tahu Abang pemiliknya, setiap hari akan ada yang datang minta uang. Preman seperti Baron akan menganggap Abang sasaran," jelas Robin. "Dan Abang tidak mau anak-anak itu memanggil Abang juragan. Abang mau mereka sekolah tanpa merasa berutang."
Nabilah menatap buku-buku kas itu, lalu kembali menatap iqra di atas sajadah. Matanya tertuju pada sebuah tulisan kecil di sampul belakang buku itu, dengan huruf yang besar-besar dan miring: Tegar ajarin hari Kamis.
"Tegar yang mengajari Abang?" tanya Nabilah sambil tersenyum di sela air matanya.
"Di surau dekat pengepul, sepulang dia sekolah," jawab Robin dengan malu. "Abang bayar dia pakai es potong. Buku Abang yang lama rusak waktu kontrakan dirusak orang. Ini yang baru."
Nabilah tertawa kecil sambil menyeka matanya. Ia teringat Tegar yang menutup mulut di kelas kemarin.
"Satu lagi, Bang," ujar Nabilah kemudian. "Waktu pertama kali menikah, Pak RT bilang Bapak pernah menolong Abang waktu dikeroyok warga. Kenapa Abang dikeroyok?"
Robin menyandarkan bahunya ke kusen pintu. "Waktu itu Abang baru datang ke kampung ini. Ada rumah warga yang kemalingan, dan Abang orang baru dengan tampang seperti ini. Warga langsung menuduh Abang. Mereka sudah memukul Abang ramai-ramai di depan mesjid. Bapak kamu yang datang, berdiri di depan Abang, dan bilang kepada semua orang, tunjukkan dulu buktinya. Dua hari kemudian malingnya tertangkap di kampung Jawara."
"Jadi itu sebabnya Abang mau menikah dengan Bilah," ujar Nabilah pelan.
"Itu sebabnya Abang datang ke mesjid hari itu, waktu dibohongi Supri dan Udin," jawab Robin dengan jujur. "Kenapa Abang bertahan sampai sekarang, itu soal lain."
Nabilah menunduk. Ia tidak berani menanyakan soal lain itu.
***
Setelah keluar dari kamar, mereka kembali duduk di meja makan. Nasi goreng sudah dingin, tetapi keduanya makan dengan lahap.
"Bang, Bilah mau menawarkan sesuatu," ujar Nabilah. "Bilah ajari Abang mengaji. Setiap malam setelah isya, di ruang tamu. Bilah sebagai guru, Abang sebagai murid."
"Abang tidak mau merepotkan."
"Bilah tidak repot. Itu memang pekerjaan Bilah," sahut Nabilah dengan tegas. "Tapi Bilah juga mau minta sesuatu. Aturan di rumah ini kita buat ulang bersama. Bukan Abang sendiri."
Robin mengangguk. Mereka lalu membicarakannya satu per satu. Tamu boleh datang, asal ada kabar lebih dulu. Bapak dan Ibu boleh masuk ke rumah. Pintu kamar Robin tidak dikunci lagi, tetapi kamar mereka tetap terpisah sampai keduanya sama-sama memutuskan lain. Nabilah boleh pergi ke mana pun, asal saling mengabari.
"Kalau Abas datang lagi?" tanya Robin pelan.
"Bilah temui di depan orang lain. Dan Bilah kabari Abang," jawab Nabilah.
Robin mengangguk sekali lagi. Belum sempat ia bicara, gerbang depan digedor dengan keras. Suara Supri terdengar dari luar, terengah-engah seperti habis berlari.
"Bang Robin! Bang! Beno pulang! Dia lagi di rumah Bu Asma bawa kue, katanya mau menagih makan siang hari ini!"