Keesokan harinya kabar kepulangan Abas sudah menyebar ke seluruh kampung Santri. Di warung Mpok Ijah, Udin bercerita dengan semangat bahwa anak sahabat Pak Jamal itu sekarang kerja di kantor besar dan pulang membawa mobil sendiri. Di lapak nasi uduk Mpok Tini, ibu-ibu berbisik bahwa seandainya Abas pulang lebih cepat, Nabilah tidak perlu menikah dengan preman.
Nabilah mendengar sebagian bisikan itu ketika pulang dari madrasah bersama ayahnya. Ia memilih menunduk dan mempercepat langkah.
Sore harinya Pak Jamal mengabarkan bahwa pengurus mesjid Nur Ikhlas meminta Abas menjadi imam salat magrib. Imam tetap sedang pulang kampung, dan Abas dikenal punya bacaan yang bagus sejak kecil.
"Bilah ikut berjamaah ya, sudah lama kamu tidak ke mesjid," ajak Pak Jamal.
Nabilah mengangguk. Sejak kejadian di pasar, ia memang lebih banyak salat di rumah. Sebelum berangkat, ia mengetuk pintu kamar Robin.
"Bang, Bilah mau salat magrib di mesjid sama Bapak dan Ibu. Abang mau ikut?" tanya Nabilah dari balik pintu.
Pintu terbuka sedikit. Robin sudah memakai kaos hitam dan celana levisnya yang biasa. "Abang antar sampai depan saja."
"Abang tidak salat?"
"Nanti Abang salat," jawab Robin singkat.
Mereka berjalan bersama ke mesjid. Robin berhenti di dekat gerbang, di bawah lampu jalan, lalu duduk di atas motor milik salah satu jamaah yang diparkir di sana. Nabilah menoleh sekali sebelum masuk ke tempat wudu perempuan.
***
Ketika ikamah berkumandang, Nabilah berdiri di saf perempuan di samping ibunya. Dari balik tirai pembatas, terdengar suara Abas mengucapkan takbiratul ihram.
Lalu Abas mulai membaca Al-Fatihah.
Suaranya jernih dan dalam, panjang pendeknya tepat, setiap huruf keluar dari tempatnya dengan sempurna. Ketika ia membaca surat sesudahnya, beberapa jamaah perempuan yang lebih tua sampai meneteskan air mata. Nabilah sendiri merasakan dadanya bergetar. Sudah lama ia membayangkan dipimpin salat oleh suara seperti ini, di rumahnya sendiri, setiap malam.
Di sampingnya, Bu Asma tersenyum lebar di balik mukenanya.
Setelah salat dan zikir selesai, para jamaah keluar beramai-ramai. Abas berdiri di teras mesjid, menyalami bapak-bapak yang memujinya. Ketika melihat Pak Jamal, ia segera menghampiri dan mencium tangannya.
"Masya Allah Nak Abas, bacaanmu makin bagus saja," puji Pak Jamal dengan tulus.
"Masih banyak kurangnya, Pak," jawab Abas dengan rendah hati. Ia hanya mengangguk sopan kepada Nabilah dari kejauhan, tanpa mendekat.
"Kalau Nak Abas sering-sering jadi imam di sini, Ibu jadi rajin ke mesjid," ujar Bu Asma sambil melirik putrinya.
Nabilah pura-pura tidak mendengar. Matanya mencari ke arah gerbang. Robin masih di sana, duduk di atas motor yang sama, dengan wajah yang tidak bisa ia baca dari kejauhan. Pria itu sudah melihat semuanya: Abas yang dipuji, ibunya yang berseri-seri, dan dirinya yang berdiri tidak jauh dari Abas.
***
Dalam perjalanan pulang, Robin berjalan lebih cepat dari biasanya. Nabilah harus setengah berlari untuk menyusulnya.
"Bang, tunggu," pinta Nabilah.
Robin memperlambat langkah tanpa menoleh.
"Abang sudah salat magrib?" tanya Nabilah.
"Nanti."
"Waktunya sebentar lagi habis, Bang."
"Abang tahu," jawab Robin dengan nada yang mulai tajam.
Nabilah menggigit bibirnya. Pertanyaan yang sejak kemarin berputar di kepalanya akhirnya keluar juga.
"Bang, Abang bisa mengaji?"
Langkah Robin terhenti. Ia berdiri diam di tengah gang yang gelap, punggungnya menghadap Nabilah. Untuk beberapa saat hanya terdengar suara jangkrik dari kebun di sebelah.
"Kenapa? Mau dibandingkan dengan Abas?" tanya Robin akhirnya dengan suara yang dingin.
"Bukan begitu maksud Bilah," jawab Nabilah dengan cepat.
"Mulai besok Abang yang antar jemput kamu ke madrasah. Tidak usah sama Bapak," ujar Robin tiba-tiba. "Dan kalau ada tamu laki-laki di gerbang, tidak usah ditemui. Suruh pulang saja."
Nabilah terperangah. "Abang kenapa jadi begini?"
"Abang suamimu. Abang berhak mengatur," jawab Robin.
Darah Nabilah naik ke kepalanya. Sudah berminggu-minggu ia hidup dengan aturan yang dibuat tanpa pernah ditanya pendapatnya. Tidak boleh masuk kamar, tidak boleh menerima tamu, harus selalu mengunci pintu. Ia menerima semua itu karena takut, lalu karena mengerti ada bahaya di luar sana. Namun, kali ini ia tidak bisa diam.
"Abang memang suami Bilah," ujar Nabilah dengan suara bergetar menahan marah. "Tapi Bilah bukan barang yang bisa disimpan di lemari terkunci. Mas Abas cuma bertanya kabar. Dia bicara di depan guru lain. Dia bahkan minta izin sama Abang semalam. Kalau Abang mau melarang, bilang alasannya. Jangan cuma karena Abang suami."
Robin berbalik. Wajahnya keras, tetapi di matanya ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih mirip luka daripada marah.
"Abang tidak mau berdebat di jalan," ujar Robin pelan.
"Bilah juga tidak," sahut Nabilah. "Bilah cuma mau Abang tahu, Bilah takut kalau Abang bicara seperti tadi. Takut seperti waktu pertama kali tinggal di kontrakan lama."
Kalimat itu membuat Robin terdiam. Ia membuka mulut seperti hendak bicara, lalu menutupnya lagi. Akhirnya ia melanjutkan langkah, kali ini lebih pelan, menyamakan iramanya dengan langkah istrinya.
Mereka tiba di kontrakan tanpa sepatah kata pun. Robin langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Nabilah duduk di kasurnya sendiri, menangis tanpa suara sampai azan isya terdengar.
***
Malam itu Nabilah tidak bisa tidur nyenyak. Ia terbangun pukul tiga dini hari untuk salat tahajud. Rumah gelap dan sunyi. Ketika hendak mengambil wudu, langkahnya terhenti di depan pintu kamar Robin.
Dari celah bawah pintu itu tampak cahaya lampu. Dan dari dalam terdengar suara.
Suara Robin, pelan dan terbata-bata, seperti anak kecil yang baru belajar membaca.
"A... ba... ta... tsa..." Suara itu berhenti, lalu mengulang. "Ja... ha... kho..."
Lalu suara itu tersangkut pada satu huruf. Diulang sekali, dua kali, tiga kali. Selalu meleset. Nabilah mengenali huruf itu. Huruf ain, huruf yang sama yang membuat Tegar menggaruk kepala di kelas.
"Ya Allah, susah sekali," gumam suara di dalam kamar itu, lirih dan putus asa.
Nabilah membekap mulutnya dengan kedua tangan. Ia mundur pelan-pelan agar lantai tidak berderit, lalu bersandar di dinding ruang tengah dengan air mata yang mengalir tanpa bisa ia tahan.