"Waalaikumsalam," jawab Nabilah sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Ia memperhatikan wajah pria itu dengan saksama, lalu matanya membulat. "Mas Abas?"
"Alhamdulillah, ternyata masih ingat," ujar Abas sambil tertawa kecil. "Saya kira sudah lupa. Empat tahun saya di Balikpapan."
Nabilah tentu tidak lupa. Ayah Abas adalah sahabat ayahnya di majelis pengajian bapak-bapak. Dulu, sebelum Abas berangkat merantau, keluarganya pernah datang bersilaturahmi ke rumah dan membicarakan kemungkinan menjodohkan mereka berdua. Namun, Abas kemudian mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan di Kalimantan dan pembicaraan itu tidak pernah dilanjutkan. Nabilah sendiri waktu itu baru lulus dan tidak terlalu memikirkannya.
"Mas Abas kapan pulang?" tanya Nabilah dengan canggung.
"Seminggu yang lalu. Saya pindah tugas ke kantor di Jakarta," jawab Abas. Ia lalu menatap Nabilah dengan serius. "Saya dengar dari Bapak saya soal pernikahanmu. Juga soal kejadian di pasar. Saya cuma mau memastikan kamu baik-baik saja."
"Alhamdulillah, Bilah baik-baik saja, Mas," jawab Nabilah sambil melirik guru perempuan yang menemaninya.
"Syukurlah," ujar Abas dengan lega. Ia lalu mundur selangkah, memberi jarak. "Saya tidak lama. Tidak baik bertamu ke tempat kerja istri orang. Sampaikan salam saya untuk Pak Jamal ya. Insya Allah nanti malam saya bersilaturahmi ke rumah beliau."
Setelah Abas pergi, guru perempuan yang menemani Nabilah menyenggol lengannya.
"Ya ampun Bu Nabilah, itu siapa? Ganteng, sopan, wangi lagi," bisiknya sambil tertawa.
"Kenalan lama, Bu," jawab Nabilah singkat, lalu kembali ke dalam kelas dengan wajah yang terasa panas.
***
Malam itu, selepas isya, Abas benar-benar datang ke rumah Pak Jamal. Dari jendela ruang tamu kontrakan, Robin bisa melihat seorang pria berbaju koko turun dari mobil yang diparkir rapi di pinggir jalan. Ia juga melihat Bu Asma, yang beberapa hari ini mengurung diri, tiba-tiba keluar menyambut di teras dengan kerudung terbaiknya.
"Siapa itu?" tanya Robin kepada Nabilah yang sedang melipat pakaian di ruang tengah.
"Mas Abas, anak sahabat Bapak dari pengajian," jawab Nabilah. "Tadi siang Mas Abas mampir sebentar ke madrasah."
Robin menoleh. "Mampir ke madrasah?"
"Cuma di gerbang, Bang. Bilah ditemani guru lain. Dia bertanya kabar Bilah setelah kejadian di pasar," jelas Nabilah dengan tenang. Ia tidak mau ada yang disembunyikan, apalagi setelah semua yang mereka lalui seminggu ini.
Robin mengangguk pelan, lalu kembali menatap ke luar jendela. Wajahnya sulit ditebak.
Tidak lama kemudian, ponsel Nabilah berbunyi. Pesan dari ayahnya.
'Bilah, ke sini sebentar sama Robin. Nak Abas ingin kenalan dengan suamimu.'
Nabilah memperlihatkan pesan itu kepada Robin. Pria itu menghela napas, lalu masuk ke kamar dan keluar lagi dengan kemeja lengan panjang yang paling rapi miliknya. Rambut gondrongnya dikuncir dengan karet gelang seperti biasa.
Di ruang tamu rumah Pak Jamal, Abas berdiri menyambut Robin dengan ramah dan menjabat tangannya erat-erat.
"Jadi ini yang namanya Bang Robin. Saya dengar dari Pak Jamal, katanya Abang yang membiayai sekolah anak-anak kampung Rantau," ujar Abas sambil tersenyum.
"Cuma sedikit," jawab Robin dengan sopan.
Kedua pria itu saling menatap beberapa detik. Abas dengan wajah yang tenang dan bersih, Robin dengan brewok dan tatapan tajamnya. Nabilah yang duduk di samping ibunya merasa seolah sedang melihat dua dunia yang berbeda.
Bu Asma menyuguhkan teh dan kue lapis dengan wajah berseri-seri. Sikapnya sangat berbeda dari beberapa hari yang lalu.
"Nak Abas sekarang kerja di mana?" tanya Bu Asma dengan antusias.
"Di kantor perusahaan tambang, Bu. Bagian teknik," jawab Abas dengan rendah hati.
"Masya Allah. Dulu waktu kecil Nak Abas juara lomba azan se-kecamatan kan? Ibu masih ingat," puji Bu Asma.
Abas tersenyum malu. Pak Jamal berdeham pelan, memberi tanda kepada istrinya agar tidak terlalu berlebihan.
Pembicaraan berlangsung hangat sampai hampir pukul sembilan malam. Abas lebih banyak berbincang dengan Pak Jamal soal pengajian dan pekerjaannya, sementara Robin lebih banyak diam dan menjawab bila ditanya. Ketika hendak pulang, Abas meminta waktu sebentar untuk bicara di depan semuanya.
"Pak Jamal, Bu Asma, dan Bang Robin," ujar Abas dengan suara yang tenang. "Saya mau jujur supaya tidak ada salah paham. Dulu keluarga kami pernah membicarakan kemungkinan saya dan Nabilah. Saya yang pergi dan tidak memberi kabar. Itu kesalahan saya."
Ruang tamu langsung hening. Bu Asma menahan napas.
"Sekarang Nabilah sudah menikah. Saya menghormati itu, dan saya tidak akan mendekati istri orang," lanjut Abas sambil menatap Robin dengan sopan. "Saya hanya ingin keluarga ini tahu, saya ada di kampung ini lagi. Kalau ada yang bisa saya bantu, sampaikan saja."
Robin menatap Abas lama. "Terima kasih atas kejujurannya."
"Sama-sama, Bang," jawab Abas.
Setelah mobil Abas pergi, Robin dan Nabilah berpamitan pulang ke kontrakan. Mereka baru sampai di ambang pintu ketika suara Bu Asma terdengar dari ruang tamu, cukup keras untuk ditangkap telinga siapa pun yang lewat.
"Nah, ini baru calon menantu, Pak. Saleh, mapan, sopan. Tidak seperti Beno, apalagi Robin."
Langkah Robin terhenti di bawah pohon mangga. Nabilah menatap punggung suaminya yang kaku, lalu menunduk menahan malu. Ia ingin minta maaf atas mulut ibunya, tetapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.
Robin melanjutkan langkahnya tanpa menoleh.
Di dalam kontrakan, Robin langsung duduk di kursi ruang tamu. Ia melepas karet gelang dari rambutnya dan mengusap wajah dengan kedua tangan. Nabilah mengunci gerbang, lalu berdiri ragu di dekat pintu.
"Bang, Bilah minta maaf soal omongan Ibu tadi," ujar Nabilah akhirnya.
"Kenapa kamu yang minta maaf?" tanya Robin tanpa mengangkat wajah.
"Karena itu ibu Bilah."
Robin terdiam beberapa saat. "Ibu tidak salah, Bilah. Abas itu memang lebih pantas. Dia bisa azan, bisa mengimami, kerjanya jelas. Kalau Abang jadi Ibu, Abang juga akan memilih dia."
Nabilah menatap suaminya dengan hati yang tiba-tiba terasa perih. Ia ingin membantah, tetapi ia sendiri tidak tahu harus berkata apa. Bayangan Abas yang berdiri tenang dengan tasbih di tangannya masih tertinggal di kepalanya, bersama kenangan samar tentang sebuah sore empat tahun lalu.
"Abang jangan bicara seperti itu," ujar Nabilah pelan.
Robin bangkit dari kursinya. "Tidur, Bilah. Besok kamu mengajar."
Pintu kamar terlarang itu kembali tertutup. Nabilah berdiri sendirian di ruang tamu, mendengarkan bunyi kunci yang diputar dari dalam.