Dua hari kemudian Nabilah kembali mengajar. Pagi itu ia bangun lebih awal dari biasanya, menyetrika seragam guru dan memilih kerudung warna biru muda yang paling ia sukai. Ia ingin merasa hidupnya kembali seperti semula, setidaknya di depan murid-muridnya.
Ketika keluar dari kamar, ia melihat Robin sudah duduk di teras dengan dua bungkus nasi uduk dan dua gelas teh manis.
"Sarapan dulu, nanti Bapak keburu jalan," ujar Robin sambil menggeser satu gelas ke arah istrinya.
"Abang tidak ke pengepul?" tanya Nabilah sambil duduk.
"Nanti, setelah kamu sampai madrasah," jawab Robin.
Sesuai kesepakatan, Nabilah berangkat bersama Pak Jamal dengan sepeda motor. Robin berjalan kaki di belakang mereka seperti biasa, menyusuri gang kampung Santri sambil menyapa beberapa warga. Sejak kabar penculikan Nabilah menyebar, banyak warga yang menatap Robin dengan cara yang berbeda. Tidak semua ramah, tetapi tidak sedikit pula yang mengangguk hormat.
Bu Asma tidak keluar untuk mengantar. Sejak pertengkaran subuh itu, ibunya lebih banyak mengurung diri di kamar. Nabilah sudah dua kali mengetuk pintunya, dan dua kali pula ibunya menjawab sedang tidak enak badan.
***
Begitu Nabilah melangkah masuk ke halaman madrasah, beberapa murid berlarian menghampirinya. Salah satunya Tegar, dengan seragam yang sudah pudar di bagian kerah.
"Bu Guru sudah sembuh?" tanya Tegar dengan mata berbinar.
"Alhamdulillah sudah. Kamu rajin mengaji tidak selama Ibu tidak masuk?" tanya Nabilah sambil mengusap kepala bocah itu.
"Rajin Bu, tapi Pak Guru yang gantiin galak," jawab Tegar dengan polos, membuat murid-murid lain tertawa.
Di dalam kelas, Nabilah mengajar seperti biasa. Ia membimbing anak-anak membaca surat-surat pendek dan membetulkan makhraj mereka satu per satu. Suara anak-anak yang membaca bersama membuat dadanya terasa lapang. Untuk beberapa jam, ia lupa pada ponsel yang rusak, rumah kosong, dan perempuan bertahi lalat di dagu.
Saat jam istirahat, Tegar mendekat ke meja guru sambil membawa buku iqranya.
"Bu Guru, kenapa huruf ini susah sekali?" tanya Tegar sambil menunjuk sebuah huruf.
"Itu huruf ain, Tegar. Bunyinya dari tenggorokan. Coba ikuti Ibu," ujar Nabilah dengan sabar.
Tegar mencoba beberapa kali dan selalu meleset. Ia lalu menggaruk kepalanya dan berkata, "Bang Robin juga susah bilang huruf ini, Bu."
Nabilah tertegun. "Bang Robin? Kok kamu tahu?"
Mata Tegar langsung membulat. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, seperti baru saja membocorkan rahasia negara.
"Tegar lupa, Bu. Tegar mau main dulu," ujar bocah itu sambil berlari keluar kelas sebelum Nabilah sempat bertanya lagi.
Nabilah memandangi punggung kecil yang menghilang di balik pintu. Ia ingat janjinya kepada Tegar dulu, untuk tidak menceritakan rahasia apa pun tentang Robin. Kali ini ia memutuskan untuk tidak mengejar.
***
Madrasah tutup setelah salat zuhur. Seperti yang sudah ia duga, Robin sudah menunggu di luar pintu gerbang. Pria itu berdiri di bawah pohon ketapang, dikerumuni tiga orang anak yang meminta dibelikan es potong.
"Antre, satu-satu," ujar Robin sambil merogoh kantong celananya.
Nabilah menunggu sampai anak-anak itu bubar, lalu menghampiri suaminya dan menyalami tangannya.
"Bapak masih rapat dengan guru-guru, jadi Bilah pulang sama Abang ya," ujar Nabilah.
"Iya, jalan kaki tidak apa-apa?" tanya Robin.
"Tidak apa-apa."
Mereka berjalan beriringan di bawah terik matahari. Beberapa ibu-ibu yang duduk di teras rumah berbisik-bisik ketika mereka lewat, tetapi kali ini Nabilah tidak terlalu peduli.
"Bang, Bilah boleh tanya sesuatu?" ujar Nabilah ketika mereka melewati mesjid Nur Ikhlas.
"Dari kemarin kamu selalu minta izin dulu sebelum bertanya," sahut Robin sambil melirik istrinya.
"Karena jawaban Abang sering tidak ada," balas Nabilah, membuat Robin tertawa kecil.
"Tanya saja."
"Abang salat di mana? Ibu bilang tidak pernah melihat Abang di mesjid. Bilah juga tidak pernah dengar Abang azan atau mengaji di rumah," tanya Nabilah dengan hati-hati, tidak ingin terdengar seperti menghakimi.
Langkah Robin melambat. Ia menatap kubah mesjid yang berkilat ditimpa matahari.
"Abang salat, Bilah. Di surau kecil dekat pengepul, atau di kamar," jawab Robin pelan.
"Kenapa tidak di mesjid sini? Bapak pasti senang kalau Abang ikut berjamaah."
"Abang belum pantas berdiri di saf yang sama dengan Bapak," jawab Robin, lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Kamu lapar? Di depan ada yang jual soto ayam yang dulu itu."
Nabilah tahu suaminya sedang menghindar. Akan tetapi, ia tidak memaksa. Ada sesuatu dalam suara Robin barusan yang membuat hatinya ikut sakit, sesuatu yang terdengar seperti rasa malu.
Mereka akhirnya tidak jadi makan soto karena warungnya tutup. Robin mengantar Nabilah sampai depan kontrakan, lalu berpamitan pergi ke kampung Rantau.
"Kunci pintunya ya," pesan Robin.
"Iya, Abang hati-hati," sahut Nabilah.
Sore itu, setelah membereskan rumah, Nabilah menyeberang ke rumah orang tuanya. Pintu kamar ibunya masih tertutup. Ia mengetuk pelan, lalu duduk di kursi rotan di depan kamar itu.
"Bu, Bilah bawa kolak pisang. Bilah taruh di meja ya," ujar Nabilah dari balik pintu.
Tidak ada jawaban. Namun, beberapa saat kemudian terdengar suara isak tertahan dari dalam kamar.
"Bu, Bilah sudah tidak marah," lanjut Nabilah dengan lembut. "Bilah cuma sedih. Bilah tahu Ibu sayang sama Bilah. Cuma caranya yang bikin Bilah takut."
Pintu kamar terbuka sedikit. Bu Asma berdiri dengan mata sembab dan rambut yang belum disisir. Ia tidak berkata apa pun, hanya mengambil mangkuk kolak dari tangan putrinya, lalu menutup pintu kembali. Nabilah tersenyum kecil. Untuk ibunya, itu sudah sebuah langkah.
***
Keesokan harinya, Nabilah selesai mengajar lebih cepat karena ada rapat guru. Ia sedang membereskan buku-buku di meja ketika penjaga madrasah mengetuk pintu kelas.
"Bu Nabilah, ada tamu di gerbang. Laki-laki. Katanya kenal sama Bu Nabilah dan Pak Jamal," ujar penjaga itu.
Nabilah mengerutkan dahi. Setelah semua yang terjadi, mendengar ada laki-laki yang mencarinya membuat perutnya mulas. Ia meminta salah satu guru perempuan menemaninya ke gerbang.
Di depan gerbang berdiri seorang pria berbaju koko abu-abu dan celana bahan yang rapi. Tubuhnya tinggi, wajahnya bersih dengan jenggot tipis yang terawat. Di tangannya ada sebuah tasbih kayu.
Pria itu tersenyum ketika melihat Nabilah. Senyum yang tenang dan sopan, yang membuat Nabilah merasa pernah melihatnya bertahun-tahun yang lalu.
"Assalamualaikum, Nabilah," sapa pria itu.