Sofyan datang keesokan harinya dengan menumpang bus dari kampungnya. Ia memakai baju koko putih dan peci hitam, sama seperti hari ia menemui Nabilah di depan lapak nasi uduk. Wajahnya tampak lebih kurus.
Pak Jamal menjemputnya di pinggir jalan raya dengan sepeda motor, lalu membawanya langsung ke Polsek. Robin sudah menunggu di sana bersama Pak RT. Begitu melihat Robin, langkah Sofyan sempat terhenti.
"Assalamualaikum," ucap Robin lebih dulu.
"Waalaikumsalam," jawab Sofyan dengan canggung.
Mereka duduk di bangku panjang yang sama sambil menunggu dipanggil. Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Pak Jamal dan Pak RT sengaja pergi membeli minum, memberi keduanya ruang.
"Pak Jamal sudah cerita lewat telepon," ujar Sofyan akhirnya. "Saya minta maaf. Waktu itu saya menyebut nama Bang Robin di depan keluarga Nabilah."
"Kau cuma mengulang apa yang kau dengar," sahut Robin.
"Tapi saya juga diam-diam percaya," aku Sofyan sambil menunduk. "Waktu saya lihat Bang Robin di rumah Pak Jamal, saya pikir, orang yang menculik saya sekarang menikahi calon istri saya. Saya marah sekali. Saya sempat berdoa yang tidak baik untuk Bang Robin."
Robin tersenyum tipis. "Kalau aku jadi kau, aku juga akan berpikir begitu."
Ketika dipanggil masuk, Sofyan menceritakan kejadian malam sebelum akad kepada petugas berkumis tipis yang kemarin. Ia sedang pulang dari mesjid ketika sebuah mobil berhenti di sampingnya. Tiga orang memaksanya masuk, menutup matanya dengan kain, lalu membawanya ke sebuah rumah kosong. Mereka mengambil ponselnya.
"Mereka tidak memukul saya, Pak. Cuma mengikat tangan saya dan memberi makan nasi bungkus," ujar Sofyan dengan suara pelan. "Pagi harinya salah satu dari mereka mengetik di ponsel saya. Saya dengar dia membaca keras-keras, maaf Nabilah aku tidak bisa menikahimu."
Robin yang duduk di belakang Sofyan mengepalkan tangannya. Ia teringat wajah Nabilah yang sembab di kamar pengantin, dan pesan yang membuat Bu Asma pingsan.
"Lalu soal nama Robin?" tanya petugas itu.
"Itu yang aneh, Pak," jawab Sofyan sambil mengerutkan dahi. "Mereka jarang bicara. Tapi sekali, di depan pintu kamar tempat saya diikat, ada yang berkata keras sekali, seperti sengaja. Sudah lapor ke Bos Robin belum? Saya ingat betul karena suaranya terlalu keras untuk orang yang sedang menyembunyikan tawanan."
Kodir yang ikut dipanggil untuk mencocokkan keterangan mengangguk pelan. "Itu memang disuruh, Pak. Saya belum ikut Baron waktu itu, tapi saya pernah dengar anak buahnya tertawa-tawa. Katanya mereka dibayar lebih supaya menyebut nama Bang Robin di dekat ustad itu."
Sofyan menoleh dan menatap Robin lama. Ia tampak menyesal.
Setelah keterangan selesai, mereka keluar dari ruangan. Di halaman Polsek, Sofyan berhenti di bawah pohon ketapang.
"Bang Robin, saya ikhlas Nabilah menikah dengan Abang," ujar Sofyan dengan sungguh-sungguh. "Saya tidak minta apa pun. Saya cuma ingin nama saya dan nama Abang bersih."
"Terima kasih sudah datang jauh-jauh," ucap Robin sambil mengulurkan tangannya.
Sofyan menyambut uluran tangan itu dengan erat. "Jaga Nabilah ya Bang. Dia perempuan baik."
"Aku tahu," jawab Robin singkat.
***
Sore harinya Supri dan Udin datang ke kontrakan. Keduanya berdiri di depan gerbang dengan wajah tertunduk, seperti murid yang dipanggil kepala sekolah. Di belakang mereka berdiri Pak RT dengan tangan terlipat di dada.
Nabilah membukakan gerbang dengan heran. "Ada apa Bang Supri, Bang Udin?"
"Neng Nabilah, kami mau minta maaf," ujar Supri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Minta maaf soal apa?" tanya Nabilah semakin bingung.
"Soal hari akad itu, Neng," sahut Udin dengan suara pelan. "Kami bohongi Bang Robin. Kami bilang Pak Jamal kena begal, biar dia mau datang ke mesjid. Kami pikir lucu. Ternyata gara-gara itu Neng dan Bang Robin menikah tanpa sempat berpikir."
Robin yang baru keluar dari kamar ikut berdiri di teras. Ia melipat tangannya, persis seperti Pak RT.
"Pak RT juga yang suruh, Neng," tambah Supri dengan cepat.
"Pri!" tegur Pak RT.
"Benar Pak, saya cuma bilang yang benar," sahut Supri sambil cengengesan.
Pak RT menghela napas panjang, lalu ikut menatap Nabilah. "Supri benar. Saya juga ikut salah, Nabilah. Hari itu saya terlalu memikirkan malu keluarga Pak Jamal. Saya memaksa Robin, padahal dia sudah bilang belum siap. Dan saya tidak pernah bertanya sama kamu."
Nabilah terdiam. Selama ini ia selalu menganggap pernikahan itu sebagai takdir yang harus diterima. Baru kali ini ada orang yang mengatakan dengan terang bahwa apa yang terjadi hari itu adalah sebuah kesalahan.
"Terima kasih sudah bilang, Pak," ucap Nabilah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Untuk hukumannya," lanjut Pak RT sambil menatap kedua hansipnya, "nanti kalau pengepul Robin dibangun lagi, kalian berdua ikut mengangkut puing dan pasir sampai selesai. Tanpa upah."
"Waduh Pak, punggung saya," keluh Udin.
"Mau ditambah?" tanya Pak RT.
"Nggak Pak, nggak, cukup," sahut Udin dengan cepat.
Nabilah tidak bisa menahan senyumnya. Robin pun ikut tersenyum, meski cuma di sudut bibir.
***
Petang itu, sebelum magrib, petugas Polsek menelepon Pak RT lagi. Baron sudah dipanggil dan datang memenuhi panggilan. Ia menyangkal semuanya. Menurut Baron, rumah kosong itu tempat anak buahnya bermain kartu, dan ia tidak tahu-menahu soal ponsel yang rusak di sana.
"Dia bilang Kodir pecatan yang sakit hati," ujar Pak RT ketika menyampaikan kabar itu di teras kontrakan.
Robin hanya mengangguk. Ia sudah menduga Baron tidak akan mengaku semudah itu.
"Terus Kodir bagaimana, Pak?" tanya Nabilah dengan cemas.
"Polisi minta dia tinggal di rumah saudaranya di sini dulu, bersama istrinya. Supri dan Udin bergantian lewat depan rumah itu kalau ronda," jawab Pak RT. "Hukuman mereka bertambah satu."
"Itu bukan hukuman, Pak. Itu memang tugas hansip," sahut Robin, membuat Pak RT tertawa.
Lapak Baron sore itu sepi. Para pemulung yang biasa antre memilih menunggu kabar, karena berita bahwa Baron dipanggil polisi sudah menyebar ke seluruh kampung Rantau.
Ketika Robin pergi mengecek pengepul yang terbakar, ia melihat Baron berdiri di ujung jalan, bersandar di motornya. Pria bertubuh besar itu menatap Robin dari jauh, lalu menyalakan rokok.
"Kau pikir aku yang paling takut sekarang, Robin?" seru Baron sambil tertawa pendek. "Kau salah orang."