Tigor terbangun karena mendengar suara motor berhenti di depan kontrakannya. Bukan satu, melainkan tiga. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga lewat sedikit. Di kampung Rantau, tidak ada orang baik-baik yang bertamu sepagi itu.
Pria Batak itu mengintip dari lubang angin. Di bawah lampu jalan yang redup, ia melihat enam orang turun dari motor. Salah satunya membawa balok kayu.
"Dir, bangun! Lewat belakang, cepat!" bisik Tigor sambil mengguncang tubuh Kodir yang tidur di atas tikar.
Kodir langsung terjaga dengan wajah pucat. Tanpa memakai sandal, ia menyelinap lewat pintu dapur yang langsung berbatasan dengan kebun singkong milik tetangga. Tigor mengunci pintu itu kembali dan memasukkan tikar ke kolong lemari.
Tidak lama kemudian pintu depan digedor keras.
"Tigor, buka! Kami tahu Kodir di dalam!" teriak salah satu dari mereka.
Tigor membuka pintu dengan wajah yang pura-pura mengantuk. "Alamak, kalian ini apa tak punya jam? Kodir siapa? Aku tinggal sendiri."
Mereka menerobos masuk dan membongkar seisi kontrakan yang sempit itu. Lemari dibuka, kardus dibalik, kamar mandi diperiksa. Mereka tidak menemukan siapa pun.
"Kalau sampai kami tahu kau bohong, kontrakan ini menyusul pengepul," ancam pria yang membawa balok sebelum mereka pergi.
Setelah suara motor menjauh, Tigor langsung menelepon Robin dengan tangan yang masih gemetar.
***
Robin sudah berdiri di depan gerbang ketika Supri datang membonceng Kodir dari arah kebun. Wajah Kodir penuh goresan duri dan kakinya berlumur lumpur. Langit masih gelap, dan dari mesjid Nur Ikhlas mulai terdengar tarhim menjelang subuh.
"Mereka tahu saya di rumah Bang Tigor, Bang," ujar Kodir dengan napas yang belum teratur. "Padahal yang tahu cuma Bang Robin, Bang Tigor, sama Supri."
"Dan semua orang yang ada di rumah Pak Jamal kemarin sore," gumam Robin sambil menatap rumah di seberang jalan.
Lampu ruang tamu rumah mertuanya baru saja menyala. Pak Jamal keluar dengan sarung dan peci, hendak berangkat ke mesjid. Ia terkejut melihat Robin dan seorang pria penuh luka berdiri di depan kontrakan.
"Ada apa ini, Robin?" tanya Pak Jamal sambil mendekat.
Robin menceritakan kejadian di rumah Tigor. Pak Jamal mendengarkan dengan wajah yang perlahan berubah tegang. Ia ingat siapa saja yang duduk di ruang tamunya kemarin sore. Ia, Nabilah, Robin, Pak RT, dan istrinya.
Tanpa berkata apa pun, Pak Jamal kembali masuk ke rumah.
Nabilah yang terbangun karena suara ribut keluar dari kontrakan dengan mukena yang masih terpasang. Ia segera membawa Kodir ke teras dan mengambilkan air untuk membersihkan kakinya.
Beberapa menit kemudian terdengar suara keras dari rumah seberang. Suara Pak Jamal, yang selama ini nyaris tidak pernah berteriak.
"Astaghfirullahalazim, Bu! Apa yang Ibu lakukan?"
Robin dan Nabilah saling berpandangan, lalu bergegas menyeberang. Di ruang tamu, Pak Jamal berdiri memegang ponsel istrinya. Bu Asma duduk di kursi dengan wajah yang pucat pasi.
"Baca ini, Bilah," ujar Pak Jamal sambil menyerahkan ponsel itu kepada putrinya.
Nabilah membaca pesan yang dikirim ibunya semalam kepada Beno. Bibirnya bergetar. Ia membaca sekali lagi, seolah berharap kata-katanya akan berubah.
"Ibu kasih tahu Beno soal Kodir?" tanya Nabilah dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Ibu cuma mau Nak Beno hati-hati, Bilah. Ibu tidak tahu kalau..." Bu Asma tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Tiga jam setelah pesan ini terbaca, enam orang anak buah Baron datang ke rumah Tigor mencari Kodir, Bu," ujar Robin dengan suara yang ditahan. "Kalau Tigor tidak terbangun, Kodir mungkin sudah tidak ada."
Bu Asma menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, ia tidak membalas ucapan menantunya.
"Bu, kenapa?" tanya Nabilah sambil terisak. "Ibu lebih percaya Beno daripada anak Ibu sendiri? Bilah yang melihat perempuan itu dengan mata Bilah sendiri."
"Ibu takut kamu hidup sama preman, Bilah. Ibu pikir Nak Beno jalan keluar satu-satunya," jawab Bu Asma di sela tangisnya. "Ibu tidak menyangka."
Pak Jamal menghela napas panjang. Ia meletakkan ponsel istrinya di atas meja, lalu menatap Robin.
"Robin, Bapak minta maaf atas nama istri Bapak," ucap Pak Jamal dengan berat.
"Bapak tidak perlu minta maaf," sahut Robin pelan. "Tapi hari ini juga kita harus ke Polsek. Kalau ditunda, mereka akan datang lagi."
Bu Asma mengangkat wajahnya yang basah. Ia menatap Robin seolah baru pertama kali melihat menantunya itu dengan jelas.
"Robin, Kodir itu tidak apa-apa?" tanya Bu Asma dengan suara serak.
"Kakinya luka kena duri, Bu. Selebihnya selamat," jawab Robin.
"Ibu yang obati," ujar Bu Asma sambil bangkit dengan susah payah. Ia masuk ke kamar dan keluar lagi membawa kotak obat. Tanpa berkata apa pun, wanita itu menyeberang jalan menuju teras kontrakan, tempat Kodir masih duduk gemetar.
Nabilah memandangi ibunya yang berjongkok membersihkan luka di kaki seorang anak buah preman. Air matanya kembali menetes, tetapi kali ini bukan karena marah.
***
Pukul delapan pagi, Robin, Pak RT, Tigor, dan Kodir sudah duduk di bangku panjang ruang pelayanan Polsek. Pak Jamal ikut menemani, sementara Nabilah memilih tinggal di rumah untuk menenangkan ibunya.
Sebelum dipanggil, Robin menoleh kepada Pak RT.
"Pak, waktu pengepul terbakar dan kontrakan dirusak, Bapak mau membantu saya melapor. Saya menolak," ujar Robin. "Saya kira saya bisa menyelesaikan sendiri. Ternyata gara-gara saya menunda, Bilah dibawa orang, dan Kodir hampir celaka."
"Yang penting sekarang kamu di sini," sahut Pak RT sambil menepuk bahunya.
Kodir menceritakan semuanya kepada petugas, mulai dari pekerjaannya di lapak Baron, sampai telepon yang ia biarkan menyala. Suaranya beberapa kali tersendat. Tigor menyerahkan catatan harga lapak Baron dan keterangan tentang bau bensin di titik api. Robin menyerahkan ponsel Nabilah yang rusak, terbungkus kantong plastik bening.
Petugas yang mencatat keterangan, seorang pria setengah baya berkumis tipis, mendengarkan dengan serius. Sesekali ia mengetik di komputer tuanya.
"Kami akan memanggil Baron dan orang-orangnya. Saudara Kodir untuk sementara jangan pulang ke rumah," ujar petugas itu. "Lalu korban penculikan sebelum akad, Saudara Sofyan, kami perlu keterangannya juga."
"Saya yang akan menghubungi dia, Pak," sahut Pak Jamal.
"Satu lagi, Saudara Beno. Kami akan mendatangi rumahnya untuk meminta keterangan."
Siang harinya petugas itu menelepon Pak RT. Robin yang duduk di samping Pak RT bisa mendengar suaranya dengan jelas.
"Pak RT, kami sudah ke rumah juragan Kasim. Kata keluarganya, Saudara Beno sedang berada di luar kota dan belum tahu kapan pulang."