Sore itu Pak Jamal baru pulang dari madrasah ketika Robin dan Nabilah menyeberang ke rumahnya. Pria paruh baya itu masih memakai peci dan baju seragam guru. Bu Asma sedang menyiram tanaman di halaman dan langsung mematikan selang begitu melihat menantunya datang.
"Ada apa lagi?" tanya Bu Asma dengan ketus.
"Saya mau memperlihatkan sesuatu kepada Bapak dan Bilah, Bu. Ibu juga boleh ikut lihat," jawab Robin dengan sopan.
Mereka duduk di ruang tamu. Robin mengeluarkan ponselnya, tetapi belum menyerahkannya kepada siapa pun. Ia menoleh kepada istrinya lebih dulu.
"Bilah, Abang mau kamu lihat foto ini. Jangan dipaksa mengingat. Kalau tidak kenal, bilang saja tidak kenal," ujar Robin dengan hati-hati.
Nabilah mengangguk, lalu menerima ponsel itu. Ia memandangi foto pesta yang dikirim Risa. Pertama-tama matanya tertuju pada Beno, dan dadanya langsung terasa sesak. Lalu pandangannya bergeser ke perempuan berambut sebahu di samping pria itu.
Tangan Nabilah tiba-tiba gemetar.
"Ini perempuan yang datang ke kontrakan lama, Bang," ujar Nabilah dengan suara tercekat. "Yang minta Bilah menjauhi Abang. Yang bilang dia mencintai Abang dan sangat mengenal Abang."
"Kamu yakin?" tanya Pak Jamal sambil mencondongkan tubuhnya.
"Yakin, Pak. Bilah bicara dengannya di depan pintu, dekat sekali. Bilah ingat tahi lalat kecil di dagunya," jawab Nabilah sambil menunjuk layar. Kemudian ia terdiam, seperti mendengarkan sesuatu dari dalam kepalanya sendiri. "Dan suaranya. Bilah tidak tahu pasti, tapi suara perempuan yang menepuk bahu Bilah di pasar itu mirip sekali."
Bu Asma merebut ponsel dari tangan putrinya dan menatap foto itu dengan saksama. "Ini kan Nak Beno. Terus kenapa? Dia datang ke pesta bersama pegawainya. Apa salahnya?"
"Perempuan ini namanya Wulan, Bu. Pegawai empang juragan Kasim," jawab Robin dengan tenang. "Kemarin anak buah Baron bilang Wulan yang membawa Bilah dari pasar. Dan perempuan yang sama pernah datang ke rumah saya, pura-pura jadi orang yang mencintai saya, supaya Bilah minta cerai."
"Anak buah Baron?" Bu Asma tertawa sinis. "Kamu mau Ibu percaya omongan preman? Bisa saja kamu yang membayar orang itu untuk memfitnah Nak Beno. Kamu iri karena Nak Beno lebih segalanya dari kamu."
"Bu," tegur Pak Jamal.
"Bapak jangan selalu membela dia! Nak Beno yang menolong anak kita, Pak. Dia yang membawa Bilah pulang dengan selamat. Sekarang dia malah mau dijadikan penjahat," seru Bu Asma dengan mata yang mulai basah.
Nabilah memegang tangan ibunya. "Bu, Bilah juga tidak mau ini benar. Tapi perempuan di foto ini benar-benar datang ke rumah Bilah. Itu bukan kata Bang Robin, itu Bilah sendiri yang melihat."
Bu Asma menarik tangannya dan memalingkan wajah.
Pak Jamal mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia teringat kata-katanya sendiri beberapa minggu lalu di ruang tamu yang sama: tanpa bukti yang akurat, mereka tidak boleh menuduh siapa pun. Namun, sekarang ia juga sadar bahwa menutup mata terhadap yang sudah terlihat sama saja dengan membiarkan putrinya dalam bahaya.
"Panggil Pak RT," ujar Pak Jamal akhirnya.
***
Setengah jam kemudian Pak RT sudah duduk di ruang tamu itu. Robin menceritakan kembali semuanya, mulai dari telepon yang dibiarkan menyala oleh Kodir, sampai foto yang ia dapat dari Risa. Pak RT mendengarkan tanpa memotong, sesekali mengangguk.
"Ini sudah bukan urusan kampung lagi, Robin," ujar Pak RT setelah Robin selesai bercerita. "Ada penculikan Sofyan, ada kebakaran, ada perusakan kontrakan, ada Nabilah dibawa dari pasar. Dulu kamu menolak saya laporkan ke polisi karena tidak ada bukti. Sekarang ada saksi."
"Kodir takut, Pak," sahut Robin. "Kalau dia melapor, Baron akan mencarinya sampai ke lubang semut. Istrinya juga."
"Justru karena itu harus dilaporkan. Supaya dia dilindungi," tegas Pak RT. "Kalau kamu terus menyelesaikan dengan caramu sendiri, yang jadi korban berikutnya bisa Kodir, bisa Tigor, bisa Nabilah lagi."
Robin terdiam. Ia menatap Nabilah yang duduk di samping Pak Jamal. Istrinya mengangguk pelan, seolah mengatakan bahwa ia setuju dengan Pak RT.
"Besok pagi saya bicara dengan Kodir," ujar Robin kemudian. "Kalau dia mau, kita ke Polsek bersama."
"Kodir sekarang di mana?" tanya Pak RT.
"Di kontrakan Tigor, di pinggir kampung Rantau dekat jalan raya. Istrinya sudah dibawa Supri ke rumah saudaranya di sini," jawab Robin tanpa curiga sedikit pun. Ia sedang berada di rumah mertuanya, di antara orang-orang yang ia percaya.
Pak RT mengangguk puas. "Bagus. Jangan sampai ada yang tahu selain kita."
"Saya ikut," sahut Pak Jamal dengan tegas.
Bu Asma bangkit dari kursinya dan masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa. Pintu kamar ditutup dengan keras.
***
Malam itu, setelah Pak Jamal tertidur, Bu Asma duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya cahaya layar yang menerangi wajahnya. Dadanya terasa berdebar, bukan karena penyakit jantungnya, melainkan karena gelisah.
Ia membayangkan Beno, anak juragan Kasim yang sopan, yang membawa putrinya pulang, yang berjanji tidak akan menyakiti Nabilah. Kini pemuda itu akan dilaporkan ke polisi hanya karena omongan anak buah preman dan sebuah foto pesta.
"Kasihan Nak Beno, dia harus tahu apa yang sedang direncanakan Robin," gumam Bu Asma.
Dengan jari yang gemetar, ia mengetik pesan panjang. Beberapa kali ia menghapus dan menulis ulang. Akhirnya ia menekan tombol kirim dan menatap layar sampai tanda pesan terbaca muncul.
'Nak Beno, maaf Ibu mengganggu malam-malam. Ibu cuma mau kasih tahu, Robin mau memfitnah kamu. Ada anak buah Baron namanya Kodir yang disembunyikan Tigor, katanya mau bersaksi kamu dalang penculikan Bilah. Besok mereka mau ke Polsek bersama Pak RT. Ibu tidak percaya, Nak. Hati-hati ya.'
Balasan datang tidak sampai satu menit kemudian.
'Terima kasih banyak Bu. Ibu memang orang tua yang paling mengerti saya. Ibu tenang saja, biar saya yang urus.'
Bu Asma tersenyum lega, lalu meletakkan ponselnya di atas meja dan berbaring di samping suaminya.
Sementara itu di belakang lapak pengepul kampung Rantau bagian barat, ponsel Baron berdering di tengah malam. Baron membaca nama yang muncul di layar dan langsung berdiri.
"Iya Juragan," jawab Baron dengan suara pelan.
"Tigor menyembunyikan Kodir. Ambil dia sebelum subuh," perintah suara di seberang sebelum panggilan terputus.