Malam itu Kodir dibawa kembali oleh Tigor ke kontrakannya yang sempit di pinggir kampung Rantau, dekat jalan raya. Tempat itu cukup jauh dari wilayah Baron. Robin menitipkan sejumlah uang untuk membeli obat istri Kodir dan menyuruh Supri menjemput perempuan itu besok pagi ke rumah saudaranya di kampung Santri.
Setelah gerbang dikunci, Nabilah masih duduk di ruang tamu. Gelas teh yang ia buatkan untuk Kodir sudah dingin dan belum disentuh.
"Bang, Abang sudah tahu nama Wulan dari kemarin?" tanya Nabilah pelan.
"Iya. Abang dengar namanya disebut di telepon," jawab Robin sambil duduk di seberang istrinya.
"Kenapa tidak bilang tadi pagi di depan Bapak?"
"Abang cuma tahu nama. Abang tidak tahu wajahnya, tidak tahu dia siapa. Kalau Abang sebut di depan Ibu, besok pagi seluruh kampung sudah tahu, dan perempuan itu bisa kabur," jelas Robin. "Tadinya Abang mau mencari dia, memperingatkan supaya berhenti. Kalau masih bisa diperingati, Abang tidak mau memperpanjang."
Nabilah memikirkan kata-kata suaminya. "Juragan muda, orang empang juragan Kasim. Bang, juragan Kasim itu ayahnya Beno."
Robin menatap istrinya tanpa menjawab. Ia tahu Nabilah sampai pada kesimpulan yang sama dengannya.
"Bilah tidak mau menuduh," lanjut Nabilah dengan suara bergetar. "Tapi kemarin Beno bilang kebetulan lewat. Terus dia buru-buru pergi setelah dapat pesan."
"Makanya kita butuh lebih dari omongan Kodir," ujar Robin. "Kodir anak buah Baron. Kalau dia bicara di depan orang, Ibu pasti bilang dia preman bayaran Abang."
Nabilah mengangguk. Ia tahu ibunya akan berkata persis seperti itu.
***
Keesokan paginya Robin mengirim pesan kepada seseorang yang sudah beberapa hari tidak ia hubungi. Ia meminta bertemu di tempat terbuka. Satu jam kemudian ia sudah duduk di sebuah warung bakso di pinggir jalan besar kampung Jawara, tidak jauh dari rumah-rumah besar berpagar tinggi.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan warung. Bukan Risa yang menyetir, melainkan Remon. Pria itu membukakan pintu untuk Risa, lalu memilih duduk di meja sebelah.
"Tumben kamu yang mengajak ketemu," ujar Risa sambil melepas kacamata hitamnya. Matanya berbinar penuh harap.
"Aku mau tanya hal yang sama seperti waktu itu, Ris. Kali ini jawab dengan jujur," ujar Robin tanpa basa-basi. "Waktu pesta ulang tahunmu, kau bertemu siapa yang ada hubungannya dengan istriku?"
Senyum di wajah Risa memudar. Ia melirik ke arah Remon yang pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Kenapa kamu masih tanya itu?" tanya Risa kemudian.
"Karena dua hari yang lalu istriku diculik di pasar, Ris. Ponselnya dirusak di markas anak buah Baron. Dan ada yang menelepon aku, menyuruhku menalak dia saat itu juga," jawab Robin dengan suara rendah.
Wajah Risa langsung pucat. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Ya Tuhan. Aku tidak tahu sampai sejauh itu," lirih Risa dengan suara bergetar. "Sumpah Robin, aku tidak tahu."
"Siapa yang kau temui?" ulang Robin.
Risa menunduk lama sebelum akhirnya menjawab. "Beno. Anak juragan Kasim. Dia datang ke pesta tanpa diundang. Katanya dia kenal baik dengan istrimu dan istrimu tidak pantas buat kamu."
"Lalu?"
"Dia minta fotomu. Katanya buat menyadarkan istrimu, supaya dia mundur sendiri dan minta cerai," lanjut Risa dengan mata berkaca-kaca. "Aku kirim foto kita waktu ulang tahun Tigor tahun lalu, yang aku rangkul kamu dari belakang. Aku pikir kalau istrimu mundur, kamu akan kembali padaku. Aku bodoh, Robin."
Robin menghela napas panjang. Jadi itu sebabnya mata Risa berbeda waktu ditanya di bekas pengepul. Ia tidak mengirim foto itu kepada Nabilah, tetapi ia memberikannya kepada orang yang mengirimkannya.
"Kenapa kau bohong waktu aku tanya?" tanya Robin dengan kecewa.
"Karena aku malu. Dan karena aku takut kamu benci padaku," jawab Risa sambil terisak pelan.
Remon bangkit dari kursinya, hendak mendekat. Robin mengangkat tangan, memintanya tetap di tempat.
"Ris, aku tidak benci kamu," ujar Robin dengan suara lebih lunak. "Tapi aku mau kau dengar ini baik-baik. Jangan menunggu aku. Pernikahanku memang dimulai dengan terpaksa, tapi aku tidak akan menceraikan istriku supaya bisa kembali padamu. Kalau suatu hari kami berpisah, itu bukan pintu untukmu."
Risa memejamkan mata. Air matanya jatuh di atas meja. "Kamu kejam."
"Lebih kejam kalau aku membiarkan kamu berharap," sahut Robin.
Beberapa saat mereka terdiam. Pedagang bakso mengantarkan dua mangkuk yang tidak dipesan siapa pun dan buru-buru pergi lagi.
"Ada satu hal lagi," ujar Risa sambil menghapus air matanya. "Beno tidak datang sendirian ke pesta. Dia bawa perempuan. Katanya pegawainya."
Robin langsung menegakkan punggung. "Kau punya fotonya?"
Risa membuka ponselnya dan menggulir galeri dengan jari gemetar. Ia lalu menyodorkan layar itu kepada Robin. Sebuah foto pesta dengan lampu warna-warni. Di sudut gambar tampak Beno dengan kemeja rapi, dan di sampingnya berdiri seorang perempuan cantik berambut sebahu dengan gaun yang modis.
"Namanya siapa?" tanya Robin.
"Kalau tidak salah Wulan," jawab Risa.
Robin meminta Risa mengirimkan foto itu ke ponselnya. Setelah itu ia berdiri dan meletakkan selembar uang merah di bawah mangkuk bakso.
"Terima kasih, Ris. Kau sudah menolong istriku hari ini," ucap Robin dengan tulus.
Risa tersenyum pahit. "Itu pertama kalinya kamu bilang terima kasih padaku karena dia."
Robin tidak menjawab. Ketika melewati meja Remon, ia berhenti sebentar.
"Jaga dia baik-baik pulang nanti," ujar Robin pelan.
"Selalu," sahut Remon dengan wajah yang masih tegang. "Tapi aku tidak butuh kau suruh."
"Bagus. Asal kau juga ingat, menjaga dia tidak membuat dia wajib membalas perasaanmu," ujar Robin sebelum melangkah pergi.
Remon terdiam dengan wajah memerah.
Dalam perjalanan pulang, Robin sengaja melewati jalan di depan rumah juragan Kasim. Rumah itu besar dengan pagar besi bercat hijau dan deretan kolam ikan di belakangnya. Di teras, seorang pria tua bersarung duduk sambil membaca koran. Tidak ada mobil Beno di garasi. Seorang penjaga di pos depan menatap Robin dengan curiga ketika motornya memperlambat laju.
Robin tidak berhenti. Ia hanya memperhatikan sebuah bangunan kecil di ujung kolam, setengah tertutup pohon pisang, dengan jendela yang ditutup koran bekas.
Di atas motornya, setelah jauh dari kampung Jawara, Robin membuka lagi foto yang dikirim Risa. Ia memperbesar gambar perempuan di samping Beno. Wajah itu asing baginya, tetapi ia tahu ada satu orang yang mungkin pernah melihatnya dari jarak yang sangat dekat.