Menjelang zuhur Robin mengajak Nabilah ke konter ponsel di ujung jalan kampung Santri. Ia sudah meminta izin kepada Pak Jamal, dan kali ini Nabilah sendiri yang memutuskan untuk ikut. Gadis itu ingin mengurus kartu SIM dengan nomor lamanya, supaya murid-murid dan wali murid tetap bisa menghubunginya.
Penjaga konter, seorang pemuda berambut kuning, langsung berdiri tegak ketika melihat Robin masuk. "Ada yang bisa dibantu Bang?"
"Istri saya mau ganti kartu, nomornya tetap," jawab Robin singkat.
Selama kartu itu diurus, Robin menunjuk beberapa ponsel baru di etalase. "Bilah pilih saja yang mana, Abang yang bayar."
Nabilah menggeleng. "Tidak usah Bang. Bapak punya ponsel lama yang masih bagus. Bilah pakai itu saja."
"Kenapa? Takut uang Abang haram?" tanya Robin setengah bercanda, mengulang pertanyaan yang dulu pernah ia lontarkan dengan nada sinis.
"Bukan," sahut Nabilah sambil tersenyum tipis. "Bilah cuma tidak mau Abang merasa harus mengganti semua yang rusak. Kontrakan Pak Jali, pengepul, sekarang ponsel Bilah. Abang sudah terlalu banyak keluar uang."
Robin terdiam. Ia tidak menyangka istrinya memikirkan hal itu.
Setelah kartu baru selesai, mereka berjalan pulang lewat jalan yang teduh oleh pohon jamblang. Di depan lapak Mpok Tini, Nabilah memperlambat langkah.
"Bang, kalau nanti Bilah sudah pakai ponsel Bapak, Abang mau menyambungkan lokasinya lagi?" tanya Nabilah dengan hati-hati.
"Kalau Bilah izinkan," jawab Robin.
"Bilah belum mau," ujar Nabilah dengan tegas. "Bilah masih perlu waktu."
"Iya, Abang terima," sahut Robin tanpa membantah.
Nabilah menatap suaminya dengan heran. Ia kira Robin akan memaksa dengan alasan keamanan. Ternyata pria itu hanya mengangguk dan mengalihkan pembicaraan dengan bertanya apakah ia mau gorengan.
Sebelum pulang ke kontrakan, mereka mampir ke rumah Pak Jamal untuk mengambil ponsel lama itu. Pak Jamal mencarinya di laci lemari, di antara kuitansi listrik dan kalender madrasah tahun lalu.
"Ini masih bagus, cuma baterainya cepat habis," ujar Pak Jamal sambil menyerahkan ponsel berwarna hitam itu kepada putrinya.
Bu Asma yang sedang mengupas bawang di dapur ikut menyahut tanpa menoleh, "Kenapa tidak beli yang baru? Katanya suamimu banyak uang."
"Bilah yang tidak mau, Bu," jawab Nabilah dengan cepat sebelum Robin sempat dipersalahkan.
Bu Asma tidak menjawab lagi. Ia hanya mengupas bawang lebih cepat dari sebelumnya.
Sesampainya di kontrakan, Nabilah memasukkan kartu barunya ke ponsel itu. Puluhan pesan langsung bermunculan, kebanyakan dari wali murid dan rekan guru yang menanyakan kabarnya. Setelah membalas satu per satu, ia memberanikan diri bertanya hal lain yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Bang, boleh Bilah tanya satu lagi?"
"Tanya saja."
"Kenapa kamar Abang tidak boleh dimasuki siapa pun? Bilah kadang takut sendiri. Bilah bayangkan yang tidak-tidak," aku Nabilah dengan jujur.
Robin menghentikan langkah di depan pintu kamarnya. Tangannya memegang gagang pintu yang terkunci. "Di dalam tidak ada apa-apa yang membahayakan kamu. Tapi belum sekarang, Bilah."
"Kenapa?"
"Karena Abang belum siap," jawab Robin dengan suara pelan, lalu ia masuk dan menutup pintu.
Nabilah menghela napas panjang. Lagi-lagi jawaban yang menggantung.
***
Malam itu hujan turun rintik-rintik. Nabilah sudah selesai salat isya dan sedang memeriksa buku hafalan murid-muridnya ketika terdengar gerbang diketuk keras. Robin langsung keluar dari kamarnya.
"Bilah, masuk kamar dan kunci pintunya," perintah Robin dengan cepat.
Nabilah menurut, tetapi ia mengintip dari celah gorden. Di bawah lampu jalan, tampak Tigor memapah seorang pria kurus yang berjalan terseok-seok. Pelipis pria itu lebam dan bajunya basah oleh hujan.
"Alamak Bin, cepat buka. Anak ini nekat pulang ke rumahnya tadi sore," ujar Tigor dengan napas terengah.
Robin segera membukakan gerbang dan membantu memapah pria itu ke teras. Ia mengambil handuk dan air hangat dari dapur.
"Dir, aku kan sudah bilang jangan pulang," ujar Robin dengan geram, tetapi tangannya cekatan membersihkan luka di pelipis Kodir.
"Istri saya sendirian, Bang. Obatnya habis," jawab Kodir sambil meringis. "Anak buah Baron sudah menunggu di gang. Mereka tanya saya pegang ponsel waktu Baron menelepon kemarin. Saya bilang tidak, mereka tidak percaya. Untung saya bisa lari lewat kebun pisang."
Nabilah keluar dari kamar dengan kerudung yang sudah rapi. Ia membawa segelas teh manis hangat dan meletakkannya di dekat Kodir, lalu duduk agak jauh di kursi ruang tamu. Robin menoleh dan tidak menyuruhnya kembali ke kamar.
"Bilah, ini Kodir," ujar Robin memperkenalkan. "Dia yang membantu Abang kemarin."
"Membantu bagaimana Bang?" tanya Nabilah dengan heran.
Kodir menunduk malu. "Saya kerja ikut Baron sejak pengepul Bang Robin terbakar, Neng. Mau jual barang ke mana lagi, harga di Baron cuma separo. Mending jadi anak buahnya, setidaknya dapat makan. Tapi dulu waktu istri saya dirawat di rumah sakit, Bang Robin yang bayar semuanya. Saya tidak bisa diam saja melihat Bang Robin dijahati."
"Waktu Bang Tigor minta nomor ponsel salah satu anak buah Baron, saya yang kasih nomor Kodir," timpal Tigor menambahkan.
"Kemarin sore Baron menelepon bosnya pakai pengeras suara di belakang lapak. Saya cepat-cepat menelepon Bang Robin, lalu ponselnya saya taruh di saku. Saya biarkan menyala," lanjut Kodir dengan suara pelan. "Waktu itu Bang Robin sudah di jalan naik motor. Semua yang mereka bicarakan, Bang Robin ikut dengar."
Nabilah menutup mulutnya. Kini ia mengerti bagaimana Robin bisa tahu, dan kenapa Baron begitu marah.
"Kau dengar mereka bicara soal apa saja?" tanya Robin kepada Kodir, meskipun ia sendiri sudah mendengar sebagian besar. Ia ingin Nabilah mendengar langsung dari mulut orang lain.
"Bosnya bilang perempuan itu sudah dibawa ke mobil. Ponselnya disuruh dibawa ke rumah kosong, biar kalau dilacak orang mengira Neng Nabilah ada di sana. Terus soal mengantar Neng pulang, bosnya bilang biar dia sendiri yang urus," jawab Kodir sambil menggigil.
"Siapa bosnya?" tanya Nabilah yang tidak bisa menahan diri lagi.
"Saya tidak pernah lihat wajahnya, Neng. Dia tidak pernah datang ke lapak waktu terang. Baron cuma memanggilnya juragan muda," jawab Kodir.
Robin dan Tigor saling berpandangan. Di kampung-kampung sekitar sini, sebutan juragan hanya dipakai untuk orang-orang kaya di kampung Jawara.
"Satu lagi, Bang," ujar Kodir sambil menatap Nabilah dengan wajah bersalah. "Yang bawa Neng Nabilah dari pasar itu namanya Wulan. Orang empang juragan Kasim."