Robin membalas pesan Kodir dengan singkat, menyuruhnya tidur di rumah Tigor malam itu. Setelah memastikan Kodir sudah sampai, barulah ia bisa memejamkan mata sebentar di kursi ruang tamu.
Azan subuh membangunkannya. Robin melihat pintu kamar Nabilah sudah terbuka dan istrinya sedang melipat mukena. Wajah gadis itu masih sembab, tetapi matanya sudah lebih tenang daripada semalam.
"Abang tidur di kursi?" tanya Nabilah dengan heran.
"Biar dengar kalau ada yang ketuk gerbang," jawab Robin sambil meregangkan punggungnya yang pegal.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Robin pergi membeli nasi uduk Mpok Tini seperti biasa. Ia hanya membawa pulang dua bungkus. Sisanya ia titipkan kepada Supri untuk diantar ke pengepul.
Pukul tujuh pagi mereka menyeberang ke rumah Pak Jamal. Hari ini Pak Jamal sengaja menukar jam mengajarnya menjadi siang. Bu Asma sudah duduk di ruang tamu dengan wajah masam, seolah sedang menunggu terdakwa.
"Sekarang ceritakan semuanya, Robin. Jangan ada yang ditutupi," ujar Pak Jamal membuka pembicaraan.
Robin meletakkan ponsel Nabilah yang rusak di atas meja. Bu Asma tampak terkejut melihatnya.
"Kemarin waktu penculik itu mengangkat telepon Bilah, saya langsung ke kampung Rantau bagian barat. Ke rumah kosong tempat anak buah Baron biasa berkumpul. Di sana saya tidak menemukan Bilah, Pak. Cuma ponsel ini," ujar Robin menjelaskan.
"Kok kamu bisa tahu ponsel Bilah ada di sana?" tanya Pak Jamal dengan heran.
Robin menarik napas panjang. Ia sudah memutuskan sejak semalam untuk tidak berbohong.
"Waktu Bilah demam tempo hari, saya pinjam ponselnya untuk mencari nomor Bapak, kalau-kalau harus menelepon. Waktu itu saya sambungkan lokasi ponsel Bilah ke ponsel saya. Saya tidak bilang sama Bilah," aku Robin sambil menunduk.
Ruang tamu langsung hening. Nabilah menatap suaminya tanpa berkedip.
"Jadi selama ini Abang bisa tahu Bilah ada di mana?" tanya Nabilah dengan suara bergetar.
"Iya. Abang salah, seharusnya Abang minta izin dulu," jawab Robin tanpa membela diri.
"Tuh kan Pak, apa Ibu bilang! Preman ini memata-matai anak kita. Jangan-jangan dia juga yang mengatur semua kejadian kemarin!" seru Bu Asma sambil menunjuk Robin.
"Bu, dengarkan dulu sampai selesai," tegur Pak Jamal dengan sabar.
Nabilah meremas jemarinya sendiri di pangkuan. Ada rasa marah yang naik ke dadanya. Selama berminggu-minggu ia mengira punya ruang sendiri, ternyata langkahnya bisa diikuti dari kejauhan. Akan tetapi, ia juga tahu tanpa itu Robin tidak akan sampai ke rumah kosong.
"Bilah marah, Bang," ujar Nabilah dengan jujur. "Bilah bukan anak kecil yang harus diikuti diam-diam."
"Abang tahu," sahut Robin pelan.
"Tapi Bilah juga tidak mau pura-pura. Kalau bukan karena itu, Abang tidak akan tahu ada anak buah Baron yang ikut terlibat," lanjut Nabilah kemudian. "Jangan diulangi lagi tanpa Bilah tahu."
"Abang janji," ucap Robin dengan sungguh-sungguh.
Pak Jamal mengangguk pelan. Ia menghargai menantunya yang mengakui kesalahan tanpa diminta, tetapi ia juga melihat luka di wajah putrinya.
"Terus menurut kamu, siapa yang ada di balik semua ini?" tanya Pak Jamal kembali.
"Saya belum bisa menyebut nama, Pak. Takut jadi fitnah, seperti yang dulu Bapak bilang," jawab Robin sambil melirik ke arah Bu Asma.
Bu Asma mendengus. "Bilang saja kamu tidak tahu. Untung ada Nak Beno yang menolong. Kalau menunggu kamu, entah Bilah sudah ada di mana."
"Bu, Beno bilang menemukan Bilah di pinggir jalan dekat pasar. Sementara ponselnya ada di kampung Rantau bagian barat. Jaraknya jauh," ujar Robin dengan tenang.
"Ya mungkin penculiknya membuang ponsel itu di sana, lalu meninggalkan Bilah di jalan. Apa susahnya," sahut Bu Asma yang tidak mau kalah.
"Mungkin saja," jawab Robin yang memilih tidak memperpanjang perdebatan.
Tiba-tiba ponsel Bu Asma berbunyi. Wanita paruh baya itu membaca pesan yang masuk, lalu wajahnya berubah kecewa.
"Ada apa Bu?" tanya Pak Jamal.
"Nak Beno tidak jadi datang makan siang," jawab Bu Asma sambil membacakan pesan itu dengan suara keras.
'Bu Asma, mohon maaf saya ada urusan pekerjaan di luar kota beberapa hari. Makan siangnya nanti saya tagih ya, Bu. Salam untuk Nabilah, semoga cepat pulih.'
"Kasihan, orang sibuk dan mapan memang begitu. Kerjanya ke mana-mana," ujar Bu Asma sambil menyimpan ponselnya. Ia tampak menyesal sudah memasak ayam goreng sejak subuh.
Nabilah justru merasa lega. Ia memang sudah bertekad akan menolak Beno dengan mulutnya sendiri di meja makan nanti, tetapi tubuhnya masih terlalu lelah untuk menghadapi pertengkaran.
Sementara itu Robin terdiam di kursinya. Kalimat Kodir semalam terngiang kembali di telinganya. Bosnya sudah pergi, katanya mau keluar kampung beberapa hari.
"Robin, kamu kenapa melamun?" tanya Pak Jamal yang memperhatikan menantunya.
"Tidak apa-apa Pak. Saya cuma sedang berpikir," jawab Robin.
"Kalau begitu Bapak minta satu hal," ujar Pak Jamal dengan nada yang lebih tegas. "Kamu tidak boleh menyelesaikan urusan ini sendirian dengan cara berkelahi. Kemarin kamu selamat. Belum tentu besok juga begitu."
"Iya Pak," jawab Robin singkat.
"Dan Bilah, untuk sementara kamu tidak usah ke pasar. Kalau perlu sesuatu, bilang Bapak atau Robin," pesan Pak Jamal kepada putrinya.
"Tapi Bilah mau mengajar lagi, Pak," sahut Nabilah dengan cepat. "Bilah tidak mau terkurung di rumah karena takut."
Pak Jamal tersenyum kecil mendengar keberanian putrinya. "Lusa saja ya, istirahat dulu sehari dua hari. Nanti berangkat sama Bapak."
Bu Asma bangkit dan pergi ke dapur dengan langkah kesal. Dari sana terdengar suara panci yang diletakkan terlalu keras.
Setelah pamit, Robin dan Nabilah menyeberang kembali ke kontrakan. Di depan gerbang, Nabilah menghentikan langkahnya.
"Bang, sambungan lokasi di ponsel Abang sekarang bagaimana?" tanya Nabilah sambil menatap suaminya.
Robin mengeluarkan ponselnya dan membuka pengaturan di depan istrinya. Ia menghapus sambungan yang selama ini tersimpan, lalu memperlihatkan layarnya kepada Nabilah.
"Sudah Abang hapus. Ponsel kamu juga sudah rusak, jadi tidak ada lagi yang tersambung," ujar Robin.
"Terima kasih," ucap Nabilah singkat. Kemarahannya belum hilang seluruhnya, tetapi ada rasa hormat yang tumbuh karena pria itu memilih jujur di depan ibunya, padahal tahu akan dicaci.
Robin membukakan gerbang untuk istrinya. Matanya sempat melirik ke ujung jalan, ke arah kampung Jawara di seberang kali. Beberapa hari, batinnya. Sama persis dengan yang dikatakan Kodir.