Baron masih berdiri di dekat pintu ketika pria itu mengambil kunci mobil dari atas meja. Asap rokok memenuhi ruangan kecil di belakang lapak pengepul yang baru. Bau kardus basah bercampur dengan bau bensin dari jeriken yang belum sempat dipindahkan.
"Bos mau pergi malam ini juga?" tanya Baron dengan hati-hati.
"Kau dengar sendiri tadi. Robin tahu rencana kita. Kalau aku tetap di sini, cepat atau lambat dia akan datang ke rumahku," jawab pria itu sambil merapikan kerah kemejanya. "Kau urus anak buahmu. Cari siapa yang membuka mulut!"
"Anak buah saya tidak ada yang berani, Bos," sahut Baron membela diri.
Pria itu menatap Baron dengan tajam. "Robin tidak punya ilmu gaib. Kalau dia bisa tahu apa yang kita bicarakan, berarti ada telinga di antara kalian. Temukan orangnya sebelum aku kembali!"
Baron hanya mengangguk. Ia mengantar pria itu sampai ke gang belakang, tempat sebuah mobil hitam terparkir dengan lampu mati. Mobil itu meluncur pelan meninggalkan kampung Rantau bagian barat lewat jalan tanah di sisi kali, jalan yang jarang dilewati orang.
Setelah mobil itu hilang, Baron kembali ke lapak. Lima orang anak buahnya sedang duduk di atas tumpukan karung. Wajah mereka masih memar bekas dihajar Robin di rumah kosong tadi sore.
"Siapa di antara kalian yang main dua kaki?" tanya Baron sambil menendang sebuah ember kosong. Ember itu terguling dan membentur tiang.
Tidak ada yang menjawab. Mereka saling melirik dengan takut.
"Robin dapat dari mana semua omongan kita? Jawab!" bentak Baron kembali.
"Sumpah Bang, saya nggak kenal Robin," ujar salah satu dari mereka.
"Saya juga nggak, Bang," sahut yang lain.
Di ujung tumpukan karung, seorang pria kurus bernama Kodir menunduk dalam-dalam. Tangannya meremas ujung kaos yang sobek. Ia tidak berani mengangkat wajah, takut matanya mengkhianati dirinya sendiri.
"Kodir, kau dari tadi diam saja," ujar Baron yang tiba-tiba memperhatikannya.
"Kepala saya pusing Bang, tadi kena pukul," jawab Kodir sambil memegangi pelipisnya.
Baron menatapnya beberapa saat, lalu meludah ke tanah. "Mulai besok tidak ada yang pegang ponsel waktu aku sedang bicara. Paham?"
"Paham Bang," jawab mereka serempak.
***
Sementara itu di kontrakan depan rumah Pak Jamal, tangis Nabilah perlahan mereda. Ia baru sadar kepalanya masih bersandar di bahu Robin. Gadis itu segera menarik diri dan menyeka wajahnya dengan ujung kerudung.
"Maaf Bang," ucap Nabilah dengan pipi yang memerah.
"Abang yang harus minta maaf, sudah masuk ke kamar kamu tanpa izin," sahut Robin sambil berdiri. Ia kemudian mundur dan duduk di ambang pintu, membiarkan pintu kamar itu tetap terbuka lebar.
Nabilah memeluk lututnya di atas kasur. Ia memandangi suaminya yang duduk di lantai dengan baju masih kotor oleh debu.
"Abang tadi ke mana? Kata Bapak, Abang pergi pakai motor kencang sekali," tanya Nabilah pelan.
"Ke kampung Rantau bagian barat. Abang kira kamu dibawa ke sana," jawab Robin jujur.
"Terus?"
"Kamu tidak ada. Abang cuma menemukan ini." Robin mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ponsel milik Nabilah dengan layar yang retak seribu dan tutup belakang yang sudah hilang.
Nabilah menutup mulutnya. "Itu ponsel Bilah. Kenapa bisa ada di sana?"
"Itu yang sedang Abang cari tahu," ujar Robin sambil menyimpan kembali ponsel itu. "Besok pagi Abang ceritakan semuanya di depan Bapak. Abang tidak mau ada cerita yang beda-beda."
"Tadi Abang bilang pelakunya tidak akan berani lagi. Abang tahu siapa orangnya?" Nabilah menatap Robin dengan sungguh-sungguh.
Robin terdiam cukup lama. Ia lalu mengeluarkan ponselnya sendiri dan membuka sebuah pesan yang terkirim beberapa jam yang lalu, sebelum ia datang ke rumah mertuanya. Ia menunjukkan layar itu kepada Nabilah.
'Aku sudah dengar semua yang kalian bicarakan. Sekali lagi kalian sentuh istriku, aku tidak akan datang sendirian.'
"Abang kirim ke siapa?" tanya Nabilah dengan heran.
"Ke Baron," jawab Robin singkat.
"Jadi yang bawa Bilah itu Baron?"
"Anak buahnya ikut terlibat. Tapi Baron cuma tangan, Bilah. Ada orang lain yang menyuruh. Abang belum bisa sebut namanya sebelum yakin," sahut Robin yang tidak ingin istrinya hidup dalam tebakan.
Nabilah menunduk. Ia teringat wajah Beno di ruang tamu tadi, senyumnya yang ramah dan ceritanya yang begitu rapi. Ia juga teringat pesan yang membuat Beno buru-buru pamit. Namun, gadis itu menahan diri untuk tidak menuduh siapa pun.
"Bilah takut kalau besok terulang lagi," lirih Nabilah.
"Mulai sekarang kamu tidak pergi ke mana pun sendirian, termasuk sama Ibu, tanpa Abang tahu," ujar Robin dengan tegas. Lalu ia menambahkan dengan suara yang lebih lunak, "Bukan karena Abang mau mengurung kamu. Abang cuma tidak sanggup kehilangan kamu seperti tadi."
Nabilah mengangguk kecil. Ada rasa hangat yang tidak bisa ia jelaskan, tetapi ia segera menepisnya. Mereka baru menikah karena terpaksa, dan Robin sendiri sudah berjanji akan melepaskannya suatu hari nanti.
"Bilah mau salat isya dulu Bang," ujar Nabilah kemudian.
"Abang tunggu di depan. Kunci pintunya ya," pesan Robin sambil menutup pintu kamar istrinya dari luar.
***
Malam kian larut ketika Robin duduk di kursi ruang tamu dengan lampu yang sengaja dibiarkan menyala. Ia menekan sebuah nomor di ponselnya dan menunggu dengan gelisah.
"Halo, Dir. Kau aman?" tanya Robin pelan begitu panggilan tersambung.
"Bang, jangan telepon sekarang," bisik suara di seberang dengan napas tersengal. "Baron lagi cari siapa yang bocor. Saya pura-pura pusing."
"Hapus nomorku dari ponselmu. Kalau keadaan memburuk, lari ke Tigor. Jangan pulang ke rumah," pesan Robin dengan serius.
"Iya Bang. Satu lagi, bosnya sudah pergi. Katanya mau keluar kampung beberapa hari," ujar Kodir sebelum panggilan terputus begitu saja.
Robin meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menatap pintu kamar Nabilah yang tertutup rapat. Dari celah bawahnya masih tampak cahaya lampu dan terdengar suara lirih istrinya sedang berdoa. Sayup-sayup ia mendengar namanya ikut disebut di dalam doa itu.
Pria brewok itu memejamkan mata. Selama ini ia terbiasa menyelesaikan masalah dengan tangannya sendiri. Akan tetapi, malam ini ia sadar, kartu AS yang ia pegang bukan cuma milik dirinya. Ada Kodir yang mempertaruhkan keselamatan untuk membantunya.
Tidak lama kemudian sebuah pesan masuk dari nomor Kodir.
'Bang, Baron mulai curiga sama saya. Saya takut.'