Kunjungan pertama Sabrina berlangsung pada siang hari, ketika usia kehamilannya memasuki bulan kedelapan. Ia datang bersama Bi Lela menggunakan kendaraan yang telah dipesan. Andaru membukakan pintu setelah mereka tiba, menyebut posisi dirinya, lalu membiarkan Sabrina menentukan apakah ingin menerima lengannya.
Ia ingin memakai tongkat lebih dahulu. Ada bagian rumah yang masih dikenalnya, dan ia perlu mengetahui apa yang berubah selama tidak tinggal di sana.
Andaru telah memindahkan satu kursi dari ruang tengah. Ia menerangkan letak barunya sebelum Sabrina melangkah. Mereka berhenti untuk membicarakan apakah kursi itu perlu kembali. Akhirnya Sabrina memilih menggesernya ke tempat yang tidak memotong jalur yang biasa dipakainya. Tidak ada keharusan baginya memuji seluruh penataan karena Andaru sudah berusaha.
Rak bahan ajarnya masih pada posisi lama. Ia menemukan penanda yang dikenalnya dan meminta waktu membaca sebentar. Andaru pergi ke dapur setelah mengatakan akan berada di sana. Ketika suara air mendidih terdengar, Sabrina memanggil untuk menanyakan minuman, bukan memastikan ia tidak sedang berbicara diam-diam dengan orang lain.
Mereka makan bersama Bi Lela. Sesudahnya Sabrina berjalan menuju kamar. Tasnya belum dibongkar; ia hanya ingin memeriksa ruangan yang mungkin kembali dipakainya. Andaru tidak mengikutinya sebelum diminta.
“Kalau aku ingin tidur sendiri pada malam tertentu, aku ingin bisa mengatakannya,” ujar Sabrina.
Andaru mengangguk, lalu menjawab agar ia dapat mendengar. “Kita siapkan tempat tidur yang dapat dipakai bergantian tanpa memindahkan barangmu mendadak.”
Mereka membicarakan ruang kerja yang dahulu dipakai Andaru ketika Sabrina marah. Untuk sementara tempat itu dapat dipakai Andaru saat ia memerlukan jarak, dengan alas yang layak dan pekerjaan dirapikan lebih dahulu. Jika pengaturan perlu diubah, keduanya harus membahas jalur gerak serta kebutuhan masing-masing. Andaru mencatat pekerjaan yang perlu dibereskan agar alas tidur tidak menghalangi pintu dan meja.
Pada akhir kunjungan, Sabrina ingin pulang sesuai rencana. Andaru mengantar sampai kendaraan dan tidak menanyakan mengapa ia belum ingin tinggal lebih lama. Sesudah pintu ditutup, ia merasakan kesepian datang kembali. Ia membiarkannya ada sambil menata piring, tanpa mengirim pesan yang membuat Sabrina harus mengurus rasa itu dari rumah lain.
Kunjungan berikutnya berlangsung pada akhir pekan. Sabrina membawa kebutuhan untuk satu malam, belum seluruh pakaiannya. Mereka membeli keperluan yang masih kurang bersama Bi Lela sebelum kembali ke rumah. Dalam perjalanan Andaru sempat terlalu sering menanyakan apakah ia letih. Sabrina menghentikannya dan mengatakan akan memberi tahu ketika perlu berhenti.
Andaru meminta maaf. Ia mengurangi pertanyaan dan memperhatikan permintaan yang benar-benar disampaikan. Ketika Sabrina kemudian meminta duduk, mereka mencari tempat yang dapat dipakai tanpa perdebatan mengenai siapa tadi paling mengetahui keadaannya.
Malam itu ia memilih tidur di kamar yang dahulu dipakai bersama. Andaru menanyakan apakah boleh ikut. Sabrina menjawab iya dan menyebut bahwa ia mungkin ingin beristirahat lebih awal. Tidak ada kewajiban membahas pertengkaran sampai larut hanya karena mereka akhirnya berada di ranjang yang sama.
Ia terbangun sekali dan mendengar Andaru belum tidur. Suaminya mengaku sedang cemas memikirkan persiapan kelahiran. Sabrina mendengarkan sebentar, kemudian mengatakan dirinya perlu tidur lagi. Andaru tidak marah. Ia bangun mengambil air, melakukan hal yang telah dibicarakannya dalam konsultasi, lalu kembali tanpa menyalakan seluruh rumah.
***
Setelah beberapa kunjungan, Sabrina memilih tinggal kembali. Rumah lama tetap dapat diakses dan keperluannya tidak ditutup secara sepihak. Ia memindahkan barang secara bertahap, menentukan tempat bahan ajar serta dokumen kesehatannya sendiri. Andaru membantu membawa tas; ia tidak membuka seluruh isi untuk memastikan tidak ada sesuatu yang disembunyikan.
Bi Lela menyampaikan waktu kerja dan istirahat yang diperlukannya. Ia senang kembali tinggal bersama mereka, tetapi tidak bersedia menjadi satu-satunya orang yang terjaga setiap malam sesudah bayi lahir. Mereka membagi kebutuhan, membicarakan biaya yang sanggup ditanggung, dan menyusun siapa yang dapat dihubungi bila memerlukan bantuan tambahan. Tidak ada janji bahwa Oma pasti dapat menggantikan semua jadwal sebelum ia ditanya. Waktu Bi Lela untuk memberi keterangan mengenai tabrak lari juga disediakan tanpa memotong upah atau menyuruhnya mencari pengganti sendiri.
Andaru menyesuaikan beban kerja dengan Pak Joko. Ada bagian yang dialihkan kepada anggota tim lain setelah serah terima. Sebagian tetap dikerjakan pada jam yang telah dibicarakan. Ia tidak menjanjikan selalu tersedia di rumah sekaligus menyelesaikan pekerjaan yang sama banyaknya tanpa tidur.
Aulian ikut datang membantu satu pekerjaan teknis, setelah melewati pembicaraan dan pemeriksaan kemampuan oleh tim. Ia menerima tugas dengan tanggung jawab yang jelas. Rekomendasi Andaru membuka kesempatan berbicara, tidak otomatis memberinya jabatan atau akses ke seluruh data orang lain.
Sesudah pekerjaan selesai, ia berpamitan karena sudah berjanji makan bersama Lila. Kali ini pertemuan mereka memang dibicarakan sebagai kencan, bukan kebetulan anak warteg selalu berada di tempat ketika ia lapar. Lila masih harus bekerja sampai jam tertentu. Aulian menunggu pekerjaannya selesai tanpa meminta pelanggan lain ditinggalkan untuknya.
Sabrina tersenyum mendengar kabar itu, lalu kembali menata pakaian bayi yang dipilihnya melalui keterangan bahan dan ukuran. Ia meminta Andaru tidak memindahkan tumpukan yang telah diurutkan. Mereka baru sekali berdebat sore itu mengenai barang yang terlalu banyak dibeli. Setelah mengurangi daftar, keduanya dapat tertawa melihat sesuatu yang ternyata sudah ada dalam dua kantong berbeda.
Pada pembicaraan berkala pertama, Sabrina mengatakan masih ingin berada di rumah. Ia juga menyampaikan bagian yang belum terasa nyaman: pertanyaan Andaru kadang datang berurutan sebelum jawaban pertama selesai. Andaru menyebut kesulitannya menunggu ketika sedang tegang. Mereka membahas satu kejadian nyata, lalu menentukan perubahan yang dapat dicoba, tanpa meminta laporan seluruh jam di antara pertemuan.
Masa tiga bulan baru berjalan beberapa minggu. Mereka belum menyatakan berhasil. Namun pada malam ketika Sabrina menutup bahan ajarnya dan meminta Andaru mengambil air, permintaan sederhana itu tidak diikuti ketegangan yang dahulu membuatnya ingin pergi. Ia dapat membutuhkan bantuan tanpa kehilangan hak mengakhiri percakapan. Andaru dapat memberi bantuan tanpa menganggap dirinya berhak memperoleh jawaban lain sebagai balasan.