Pertemuan bersama pertama berlangsung setelah Sabrina menerima penjelasan mengenai proses pendampingan dan menyetujui jadwal. Mereka datang dengan kendaraan masing-masing. Bi Lela menemani perjalanan Sabrina, lalu menunggu di tempat yang dipilih setelah mereka dipersilakan masuk.
Sesi itu berlangsung sekitar empat puluh lima menit. Andaru sempat ingin mengulang seluruh cerita Eshan dan bukti pembayaran. Sabrina meminta mereka mulai dari hal yang masih membuatnya takut terhadap kehidupan bersama.
“Aku sudah tahu ada orang yang mengirim gambar palsu,” katanya. “Aku belum tahu apakah suamiku bisa mendengar jawaban yang tidak membuatnya tenang.”
Andaru mendengarkan. Ketika ditanya apa yang dicari dalam pertanyaan mengenai uang, ia mengaku ingin kepastian bahwa dirinya tidak kembali ditinggalkan dan diperalat. Keinginan itu berubah menjadi tuntutan agar Sabrina memberikan pembuktian yang tidak ada akhirnya.
Sabrina menceritakan kebohongan mengenai pesan terakhir Sapto. Ia sempat memilih meneruskan perkawinan setelah Andaru jujur, tetapi pengakuan itu kini terasa berhubungan dengan peristiwa lain. Terlalu sering lelaki tersebut memutuskan sendiri apa yang perlu ia ketahui, dengan alasan ingin melindungi.
Andaru mulai menjawab bahwa ia takut Sabrina terluka, lalu berhenti. Ia sedang diminta mendengar luka yang sudah dibuatnya, bukan menjelaskan bahwa ia mempunyai niat lain.
Mereka tidak meninggalkan ruang itu dengan janji pulang pada hari yang sama. Sabrina membawa beberapa hal untuk dipikirkan. Andaru menerima bahwa pembicaraan tersebut belum menjadi keputusan mengenai perkawinan. Jadwal tindak lanjut dibicarakan sebelum mereka berpisah.
Dua minggu kemudian mereka datang lagi. Sabrina memberi contoh saat ia terlambat menjawab pesan mengenai pemeriksaan. Andaru telah mengirim satu pertanyaan melalui jalur yang disepakati, lalu menunggu kabar yang memang dijanjikan. Ia tidak menghubungi tiga orang lain untuk memeriksa apakah istrinya sengaja menghindar.
“Aku masih ingin melakukannya,” Andaru mengaku. “Aku tidak mau menyembunyikan itu supaya terlihat sudah sembuh.”
“Aku tidak meminta kamu tidak pernah takut,” jawab Sabrina. “Aku perlu kamu tidak mengubah rasa takut menjadi perintah untukku.”
Mereka membicarakan cara menghentikan percakapan ketika salah satu terlalu tegang untuk mendengar. Jeda mempunyai waktu untuk kembali berbicara yang disetujui, bukan kepergian tanpa penjelasan atau telepon yang harus dijawab berulang kali. Kebutuhan keamanan terkait perkara tetap dibicarakan melalui bantuan yang menanganinya, sehingga tidak semua pembatasan dapat disamarkan sebagai perlindungan rumah tangga.
Sabrina menanyakan bagaimana jika Andaru ingin memeriksa teleponnya. Ia tidak menawarkan kata sandi untuk menghilangkan persoalan. Andaru menyatakan ia harus membicarakan dorongan tersebut melalui bantuan yang sedang dijalani dan tetap menghormati penolakannya. Memiliki akses bukan jaminan ia tidak akan mencari hal lain untuk dicurigai.
Sesudah pertemuan itu mereka kembali menjalani hari masing-masing. Sabrina masih tinggal di rumah lama bersama Bi Lela. Andaru mengunjungi panti pada jadwal yang sanggup dipenuhinya dan menyelesaikan pekerjaan. Ia mulai dapat berbicara kepada Oma tanpa memakai Aulian untuk setiap kalimat, tetapi belum mengizinkan kunjungan mendadak.
Pertemuan bersama ketiga berlangsung dua minggu setelah yang kedua. Usia kehamilan Sabrina telah memasuki bulan ketujuh. Mereka membicarakan kebutuhan yang semakin dekat tanpa menjadikannya alasan untuk menunda semua percakapan sampai bayi lahir.
Sabrina ingin mempunyai pendamping pemeriksaan yang dapat dipilihnya. Andaru ingin terlibat dan mengakui kecewa ketika bukan dirinya yang diminta hadir. Mereka membedakan keinginan tersebut dari hak untuk mengambil alih jawaban atau menerima kabar kesehatan tanpa persetujuan Sabrina.
Untuk urusan anak kelak, keduanya perlu berbicara mengenai pengasuhan, pekerjaan, biaya, dan orang yang dapat membantu. Bi Lela tidak otomatis menjadi pengasuh penuh waktu hanya karena ia tinggal bersama Sabrina. Mereka akan bertanya kepadanya mengenai waktu serta pekerjaan yang sanggup dilakukannya, lalu mencari bantuan lain jika diperlukan.
Pada akhir sesi, Sabrina mengatakan ingin satu bulan tanpa membicarakan keputusan akhir. Ia akan tetap menerima komunikasi praktis yang disepakati. Ia ingin merasakan hari-hari biasa, bukan menilai perkawinannya hanya dalam ruang yang selalu mempunyai pendamping.
Andaru menerimanya. Ia tidak mengisi bulan tersebut dengan kiriman hadiah, jadwal kunjungan, atau pesan yang menyatakan ia tetap menunggu. Konsultasi pribadinya berlanjut. Ketika Sabrina menghubungi tentang suatu keperluan, ia menjawab keperluan itu tanpa menyelipkan pertanyaan apakah ia semakin dekat dengan keputusan pulang.
***
Sebulan kemudian, Sabrina yang meminta bertemu. Ia memilih tempat yang sama dengan percakapan singkat mereka dahulu. Bi Lela mengantarnya dan menunggu sesuai permintaan, sementara Andaru datang setelah menyelesaikan pekerjaan pagi.
“Aku ingin mencoba hidup bersama lagi,” kata Sabrina. “Aku memilih meneruskan perkawinan ini. Tapi aku ingin mulai dengan kunjungan, bukan langsung memindahkan seluruh barang dan menutup rumah bapak.”
Andaru menarik napas. Ia ingin mengucapkan terima kasih berkali-kali, lalu menahan dorongan yang dapat membuat Sabrina merasa telah menyerahkan hadiah besar.
“Aku juga ingin meneruskan,” jawabnya. “Kita atur yang sanggup dijalani.”
Mereka membicarakan masa tiga bulan untuk menilai cara hidup bersama yang dicoba, dengan pembicaraan berkala yang waktunya ditentukan bersama. Masa itu akan melewati kelahiran anak. Mereka tidak menganggapnya tenggat untuk sembuh atau kewajiban Sabrina bertahan sampai kalender selesai jika ada hal yang membuatnya tidak aman.
Akses ke rumah lama tetap dipertahankan. Biaya dan keperluannya dibicarakan dengan jelas, tanpa menjadikan tempat tersebut ancaman setiap kali mereka berbeda pendapat. Kunjungan awal ke rumah Andaru akan berlangsung pada siang hari. Bila Sabrina ingin pulang lebih cepat, transportasi harus tetap tersedia tanpa ia meminta izin untuk pergi.
Sabrina ingin memilih kamar dan penataan sendiri ketika sampai tahap menginap. Ia tidak menjanjikan semua kebiasaan lama akan kembali. Andaru setuju, lalu menyampaikan bahwa ia pun perlu terus mengatakan ketika mengalami kesulitan, tanpa berharap Sabrina selalu dapat menjadi orang pertama yang menenangkannya.
Mereka menutup pembicaraan setelah menentukan kunjungan pertama. Tidak ada pengumuman kepada keluarga bahwa persoalan telah selesai. Sabrina hanya memberi tahu Bi Lela keputusan yang benar-benar dibuatnya. Andaru menyimpan tanggal kunjungan di kalender dan kembali menghubungi penyedia bantuan yang masih mendampinginya. Mereka akan mencoba dengan keadaan yang mereka ketahui sekarang, tanpa perlu berpura-pura tidak pernah melukai atau takut.