Menjelang bulan kesembilan, tas keperluan persalinan sudah berada pada tempat yang diketahui Sabrina. Ia memeriksa isinya melalui urutan yang dipilih sendiri, kemudian meminta Andaru membacakan dokumen yang masih perlu dipastikan. Mereka mengikuti pemeriksaan tenaga kesehatan dan membicarakan rencana kelahiran berdasarkan keadaan yang dijelaskan, tanpa menganggap satu tanggal perkiraan sebagai janji semua akan berlangsung tepat waktu.
Sabrina menentukan siapa yang ingin dihubungi ketika waktunya tiba. Bi Lela akan membantu perjalanan sesuai keadaan. Oma dan Opa menerima kabar setelah ia mengizinkan, dengan pengertian bahwa kedatangan tidak harus dilakukan bersama seluruh keluarga. Aulian menjadi salah seorang yang dapat dimintai bantuan transportasi bila diperlukan.
Andaru menyimpan nomor-nomor tersebut pada tempat yang mudah ditemukan. Ia tetap gugup setiap kali Sabrina mengatakan ada perubahan pada tubuhnya. Mereka sepakat menghubungi layanan kesehatan untuk keluhan yang perlu dinilai, alih-alih Andaru mencari jawaban sendiri dari setiap cerita kelahiran yang dibacanya pada malam hari.
Ketika saatnya datang menjelang pagi, Sabrina yang membangunkannya. Ia menjelaskan apa yang dirasakan, lalu meminta menghubungi tempat pemeriksaan. Mereka mengikuti arahan yang diterima dan bersiap berangkat. Andaru memeriksa kendaraan yang dipesan, mengambil tas yang telah ditunjuk, kemudian hampir kembali ke kamar karena merasa sesuatu tertinggal.
“Tasnya di tanganmu, Mas,” kata Sabrina.
Ia menatap tas tersebut dan tertawa pendek, terlalu tegang untuk merasa malu lama-lama. Bi Lela memastikan pintu rumah sebelum ikut menuju kendaraan. Perjalanan tidak berubah menjadi perlombaan yang harus dimenangi Andaru dengan menyetir sendiri.
Di tempat persalinan, Sabrina menyampaikan keadaan serta pertanyaannya kepada petugas. Andaru menemani pada bagian yang diizinkan dan dikehendakinya. Ia memberi keterangan ketika diminta, lalu berhenti saat istrinya ingin menjawab. Tidak dapat melihat tidak membuat Sabrina kehilangan suara dalam perawatan tubuhnya sendiri.
Waktu berjalan lebih lambat daripada yang dibayangkan Andaru. Ada saat ia harus menunggu di luar. Ia memandang pintu yang sama berulang kali, mengingat gudang, rumah sakit setelah kematian Sapto, dan suara ibunya lima tahun lalu. Ia berdiri untuk mencari seseorang, kemudian duduk kembali setelah mendapat penjelasan kapan akan diberi kabar.
Aulian tiba membawa air dan makanan. Ia tidak mengatakan Andaru tidak boleh panik karena sekarang harus menjadi ayah. Ia duduk di sebelahnya dan menanyakan apakah ada bagian yang perlu dibantu.
“Gue takut enggak bisa,” jawab Andaru.
“Yang mana dulu?”
Andaru menatapnya, lalu menyadari semua ketakutan telah disusunnya menjadi satu hal besar. Untuk saat itu ia perlu makan beberapa suap, menerima kabar dari petugas, dan datang ketika Sabrina memerlukan. Ia tidak harus mengetahui seluruh tahun pengasuhan sebelum pintu kembali dibuka.
Ia menghabiskan sebagian makanan dan menghubungi Pak Joko bahwa pekerjaan yang dialihkan perlu mengikuti pengaturan yang sudah dibuat. Tidak ada pertemuan kerja diam-diam yang diteruskannya sambil menjanjikan kepada Sabrina akan selalu memperhatikan.
***
Suara tangis itu terdengar sesudah waktu yang panjang. Ketika diperbolehkan mendekat, Andaru melihat Sabrina terbaring dengan wajah letih. Ia menyebut namanya sebelum menyentuh tangan istrinya. Sabrina membalas genggamannya, lalu meminta ia menerangkan keadaan di dekat mereka dengan singkat.
Bayi perempuan mereka telah lahir. Setelah petugas memberikan penjelasan dan membantu sesuai keadaan, Sabrina dapat mengenali tubuh kecil itu melalui sentuhan serta suara. Jemarinya menyentuh pipi putrinya yang hangat, lalu berhenti pada genggaman kecil di dekatnya. Andaru menggambarkan hal yang ingin diketahuinya, berhenti ketika ia hanya ingin mendengar napas bayi.
Mereka memilih nama Nara Zahra Kalingga. Pembicaraan mengenai nama telah dilakukan menjelang kelahiran, dan kali ini mereka memastikan kembali bersama sebelum mengurus pencatatan yang diperlukan. Tidak ada orang tua yang memaksakan penggantian sebagai harga menerima cucu baru. Andaru membacakan ejaan serta data yang akan diajukan, menunggu koreksi Sabrina sebelum menyerahkannya melalui layanan yang dijelaskan kepada mereka.
Sabrina menangis setelah menyebut nama itu. Andaru juga menangis, lalu tertawa ketika istrinya menanyakan apakah ia masih dapat mengambil air atau perlu duduk lebih dahulu. Ia memang perlu duduk. Ia mengambil waktu tersebut dan membiarkan petugas membantu, tanpa merasa harus memperlihatkan kemampuan mengurus semuanya dalam satu saat.
Bi Lela masuk ketika diizinkan. Ia menyapa Sabrina lebih dahulu, menanyakan apakah ada sesuatu yang diinginkan, baru kemudian mendekat kepada bayi. Oma dan Opa menerima kabar melalui telepon sebelum kunjungan singkat yang telah disetujui. Mereka tidak mengundang kerabat lain datang karena ingin menunjukkan keluarga akhirnya memiliki berita yang bahagia.
Pada hari-hari berikutnya, Andaru belajar melalui bantuan yang diberikan tenaga kesehatan. Ia tidak mengira menjadi ayah membuatnya mengetahui cara memegang, menenangkan, atau membaca setiap tangis. Sabrina juga bertanya dan mencoba. Ketika ia memerlukan cara menata barang yang dapat dikenali melalui sentuhan, kebutuhan itu dibicarakan dengan jelas.
Mereka pulang setelah mendapat penjelasan yang diperlukan mengenai perawatan serta tindak lanjut. Di rumah, rasa bahagia hadir bersama kelelahan yang tidak ringan. Malam pertama Nara sulit ditenangkan. Andaru mengira ia telah melakukan sesuatu yang salah, sementara Sabrina ingin tidur setelah waktu yang panjang terjaga.
Mereka menggunakan bantuan yang sudah dibicarakan, kemudian menghubungi layanan kesehatan ketika ada hal yang perlu ditanyakan. Bi Lela tidak dipanggil berulang kali setelah mengatakan perlu istirahat. Pada bagian malam yang menjadi tanggung jawabnya, Andaru bangun dan mencari perlengkapan di tempat yang telah disepakati, bukan meminta Sabrina selalu mengingatkan.
Pada suatu pagi Sabrina marah karena Andaru memindahkan beberapa barang tanpa memberitahu. Ia menghentikannya ketika tangannya kembali mencari sesuatu pada tempat kosong. Andaru mengembalikan penataan dan meminta maaf. Kehadiran bayi tidak membuat kebutuhan akses Sabrina menjadi urusan yang boleh ditunda sampai semua orang lain tenang.
Masa mencoba hidup bersama masih berlangsung. Mereka tetap membicarakan hal yang sulit, kini dengan jeda yang harus disesuaikan dengan waktu istirahat dan kebutuhan Nara. Tidak ada janji bahwa anak itu akan menyembuhkan perkawinan atau menghilangkan ketakutan Andaru. Pada sore ketika Nara akhirnya tertidur di dekat mereka, Sabrina menyandarkan kepala sebentar. Andaru tetap duduk, mendengarkan dua napas yang tidak harus diawasinya agar boleh dicintai.