Menjelang bulan keenam kehamilan Sabrina, Andaru telah beberapa kali datang untuk konsultasi pribadi. Pada awalnya ia menghabiskan banyak waktu menjelaskan orang-orang yang benar-benar pernah mengancamnya. Ia takut pembicaraan mengenai kecemasan membuat kejahatan Eshan dianggap hanya sesuatu yang dibayangkannya.
Pertanyaan yang kemudian diberikan tidak meniadakan kejahatan tersebut. Ia diminta membicarakan apa yang dilakukannya ketika belum mempunyai jawaban, khususnya saat orang di depannya tidak sedang mengancam.
Andaru teringat Sabrina yang duduk dengan buku Braille. Ia mempunyai gambar yang belum terverifikasi dan istri yang sudah menjawab. Ia memilih mendesak jawaban lain. Mengakui perbedaan itu lebih sulit daripada menceritakan gudang.
Di rumah ia mulai memperhatikan saat tangannya kembali mencari telepon untuk menenangkan diri. Ada malam ketika ia ingin meminta Aulian memeriksa apakah Sabrina benar-benar masih di rumah lama. Ia tidak mengirim permintaan itu. Ia menghubungi orang yang mendampinginya melalui cara yang telah dibicarakan, lalu menghadapi malam tanpa menjadikan istrinya sasaran pemeriksaan.
Pekerjaan tidak selalu berjalan mulus. Ia salah menyusun satu bagian program dan harus memperbaikinya setelah pemeriksaan tim. Pak Joko menegur tenggat yang tidak dipenuhi, kemudian menerima jadwal perbaikan yang dapat dikerjakan. Andaru menuntaskannya. Ada rasa malu ketika kembali mengakui membutuhkan waktu lebih panjang, tetapi ia tidak meminta Sabrina pulang supaya dirinya dapat bekerja baik lagi.
Sabrina menjalani hari yang berbeda bersama Bi Lela. Jadwal mengajar disesuaikan dengan kesehatan dan kegiatan kelompok. Ia dapat menerima bantuan menata bahan, lalu menghabiskan waktu sendiri untuk membacanya. Ketika seorang kerabat keluarga Andaru menelepon mengatakan seorang ibu sebaiknya berada bersama ayah anaknya, ia menjawab bahwa keadaan tempat tinggal sedang dibicarakan. Ia tidak menyerahkan seluruh riwayat pertengkaran agar penjelasan itu dianggap cukup.
Ia juga berbicara secara terpisah dengan seorang pendamping profesional. Di sana ia dapat mengatakan masih menyayangi Andaru dan belum ingin kembali. Tidak ada permintaan agar ia memilih satu perasaan yang lebih memudahkan orang lain.
Pada suatu sore ia menelepon Andaru. Percakapan pertama hanya berlangsung singkat. Ia ingin mendengar bagaimana suaminya menjawab pertanyaan yang tidak mempunyai hubungan dengan angka atau perkara keluarga.
“Kamu sudah makan?”
“Sudah. Masakanku terlalu asin, tapi sudah kumakan.”
Sabrina tertawa kecil. Sesudah itu mereka berbicara mengenai pekerjaan, lalu ia mengatakan ingin berhenti. Andaru mengucapkan selamat beristirahat. Ia tidak mengubah tawa tadi menjadi izin untuk menelepon lagi malam itu.
Beberapa hari kemudian Sabrina menawarkan satu pertemuan dua puluh menit di tempat yang dikenalnya. Ada ruang duduk yang dapat digunakan dengan tenang. Bi Lela akan menemaninya datang dan berada tidak jauh, sesuai keinginan Sabrina. Mereka tidak akan membicarakan kepindahan atau melakukan pertemuan keluarga.
Andaru menyetujui. Ia datang tepat waktu tanpa membawa berkas pemeriksaan sebagai alasan meminta kepercayaan. Ketika Sabrina masuk, ia menyebut namanya dan menunggu perempuan itu memilih kursi.
“Aku ingin tahu apa yang berubah ketika kamu tidak tahu jawabannya,” kata Sabrina setelah mereka duduk.
Andaru menerangkan satu malam ketika ia ingin menghubungi Aulian untuk memeriksa keberadaannya. Ia mengaku mempunyai dorongan itu, lalu menceritakan bahwa ia tidak melakukannya. Bukan karena yakin Sabrina akan marah jika ketahuan. Ia mulai memahami bahwa kecemasannya tidak memberi hak memeriksa seluruh kehidupan orang lain.
“Kalau nanti kamu mengirim?”
“Aku harus mengaku dan menghadapi akibatnya. Aku tidak ingin meminta kamu berjanji selalu mengerti supaya aku tidak perlu berubah.”
Sabrina terdiam. Ia tidak menyebut satu keputusan sebagai bukti sempurna. Namun untuk pertama kali ia mendengar Andaru membicarakan tindakan yang dapat dipilih sebelum tubuhnya bergerak menuju telepon.
Mereka membicarakan rumah. Sabrina mengatakan ia dahulu dapat mengenali hampir setiap ruang, tetapi belakangan merasa harus menerangkan sesuatu bahkan ketika hanya sedang sedih. Ia tidak ingin kembali ke tempat yang membuat diamnya dianggap menyimpan rahasia.
Andaru mendengarkan tanpa menyodorkan jadwal agar ia boleh diam beberapa jam saja. Ia bertanya apa yang akan membuat percakapan lebih mungkin dilakukan. Sabrina menjawab bahwa ia ingin pertanyaan dipercaya sebagai pertanyaan, dan jawaban yang tidak menyenangkan tetap diterima tanpa pemeriksaan berulang.
“Aku bisa menjawab belum tahu,” katanya. “Itu tidak berarti kamu boleh mencari jawaban melalui orang lain.”
Andaru mengatakan ia perlu berlatih mendengar itu. Ia juga ingin dapat mengatakan sedang panik tanpa menjadikannya alasan agar Sabrina segera menghibur. Mereka belum tahu cara melakukannya ketika benar-benar bertengkar. Itulah salah satu hal yang ingin dibicarakan dengan bantuan orang yang dapat mendampingi.
Sabrina menanyakan apakah Andaru bersedia mengikuti pertemuan bersama. Ia belum menyatakan akan pulang. Ia ingin mengetahui apakah mereka dapat berbicara dalam ruang yang tidak membuatnya harus mempertahankan setiap kalimat sendiri.
“Aku bersedia,” jawab Andaru.
“Kita periksa jadwalnya dulu. Aku juga ingin diberi kesempatan mengatakan tidak cocok.”
Mereka mencatat keperluan tersebut untuk ditanyakan, bukan langsung menyebut sudah mendapat layanan sebelum menghubungi penyedianya. Sabrina akan menerima penjelasan proses dan memilih apakah ingin meneruskan. Andaru tetap menjalani konsultasi pribadinya sendiri.
Ketika waktu mendekati dua puluh menit, telepon Sabrina berbunyi pelan. Ia mematikan pengingat, lalu mengatakan ingin mengakhiri pertemuan. Andaru tidak meminta satu pertanyaan terakhir yang memerlukan setengah jam. Ia berdiri dan berpisah setelah memastikan Sabrina sudah bersama Bi Lela.
Di perjalanan pulang, Sabrina merasa lelah sekaligus sedikit lebih ringan. Ia tidak merasa dipaksa mengatakan semuanya pulih. Ia telah mengajukan langkah yang memang ingin dicobanya, dan langkah tersebut belum mengambil pilihan lain darinya.
Andaru tiba di rumah sebelum sore. Ia menaruh telepon di meja, membuka pekerjaan yang masih perlu diperiksa, lalu menyiapkan makan. Pada malam itu Oma menelepon dan bertanya apakah Sabrina sudah bersedia kembali. Andaru mengatakan keputusan belum dibuat dan meminta pertanyaan itu tidak diteruskan kepada istrinya. Tidak ada pesan yang dikirim untuk meminta penilaian apakah dirinya sudah berbicara cukup baik. Pertemuan tadi memberinya sesuatu yang lebih sulit daripada pujian: ada kesempatan untuk menunjukkan bahwa percakapan dapat berakhir tanpa ia mengejar jawaban berikutnya.