Eshan tidak datang pada undangan keluarga yang diatur Opa. Ia mengirim orang untuk menanyakan dokumen apa saja yang telah diperlihatkan Pak Frans kepada Andaru. Ketika orang itu tidak diizinkan masuk ke kantor panti, ia menelepon berulang kali sampai petugas yang mendampingi pengurus menjawab.
Andaru mengetahui kejadian tersebut setelah rapat pekerjaan jarak jauhnya selesai. Ia meminta Pak Frans menyampaikan pesan yang diterima kepada penyidik. Kunjungan keluarga tidak dijadwalkan ulang. Ia juga tidak bersedia menemui pamannya sendirian untuk menukar berkas dengan janji akan dibiarkan hidup tenang.
Beberapa hari kemudian, kabar berikutnya datang melalui jalur yang sama. Eshan dan Sani telah diamankan setelah pemeriksaan bahan serta keterangan yang terkumpul. Penyidikan terhadap peran mereka dilanjutkan. Di rumah lama Sapto, Sabrina mendengarkan berita itu sambil menggenggam tangan Bi Lela.
Ia tidak langsung merasa aman. Justru ketika nama kedua orang itu disebut, tubuhnya kembali mengingat gudang dan kesulitan menggerakkan tangan. Ia meminta penjelasan diulang, kemudian menanyakan apa yang berubah pada pengaturan keselamatannya. Tidak semua orang yang terlibat telah selesai diperiksa. Ia masih perlu mengetahui kepada siapa harus melapor jika ada tekanan baru.
Andaru menerima kabar sendiri. Ia duduk di lantai ruang kerja setelah menutup telepon. Kaki kursi berada tepat di depannya, namun ia tidak dapat memaksa diri bangkit. Lima tahun membayangkan lelaki itu di luar pagar tidak berakhir hanya karena seseorang mengatakan ia kini berada dalam pemeriksaan.
Ia menelepon Aulian. Sepupunya menjawab setelah beberapa dering.
“Gue sudah tahu,” katanya.
Mereka diam cukup lama. Andaru ingin mengucapkan sesuatu yang membuat nasib orang tua Aulian terasa lebih ringan. Semua kalimat terdengar seperti meminta mereka melupakan mengapa perkara itu ada.
“Lo sedang sama siapa?” tanyanya akhirnya.
“Di warteg Lila. Belum pesan.”
“Pesan makan. Gue tunggu sebentar kalau lo ingin tetap telepon.”
Di seberang terdengar suara Lila menanyakan nasi. Aulian menjawab pelan. Ia tidak menyebut perempuan itu orang yang kini wajib mengurus dirinya karena ia baru kehilangan tempat berlindung pada keluarga. Ia hanya menerima makanan yang memang dipesannya.
***
Pertemuan Aulian dengan Eshan berlangsung kemudian, setelah diatur melalui pihak yang menangani. Andaru tidak ikut. Aulian datang dengan pertanyaan yang telah lama tidak berani diajukan langsung.
Ayahnya tampak lebih tua di ruangan itu. Namun kata-kata yang dipakainya masih sama: keluarga, nama baik, orang luar yang ingin mengambil kesempatan. Eshan menanyakan apakah Andaru telah menjanjikan bagian harta kepadanya.
“Tidak,” jawab Aulian.
“Lalu kenapa kamu melakukan ini kepada orang tuamu?”
Aulian meletakkan kedua tangan di atas meja supaya tidak mengepal. “Aku memberi keterangan tentang yang aku tahu. Papa yang harus menjelaskan perbuatan Papa.”
Eshan menyebut ibunya. Ia mengatakan Sani hanya ingin anak-anaknya memperoleh kehidupan yang baik, dan semua perkara dapat diselesaikan bila keluarga berhenti membawa orang lain masuk.
Aulian menahan napas sebelum menjawab. “Kalau hidup baik harus dibangun dengan membuat orang lain hilang, itu bukan sesuatu yang bisa aku terima.”
Tidak ada pengakuan panjang setelah kalimat tersebut. Eshan masih berusaha mengubah pembicaraan menjadi penyesalan seorang anak. Aulian berhenti ketika menyadari ia sedang menunggu ayah yang berbeda muncul dari wajah yang sama.
Ia tidak menandatangani pernyataan menarik keterangan. Ia tidak menghubungi Abi untuk menyuruhnya melupakan pukulan. Ketika keluar, ia menangis di kendaraan sebelum dapat memberi kabar kepada siapa pun.
Sani menyampaikan pesan melalui pihak yang diizinkan. Ia ingin Oma dan Opa memikirkan nasib cucu-cucu mereka sebelum membiarkan perkara berjalan. Kedua orang tua itu menerima penjelasan bahwa mereka dapat memberi keterangan dan mendampingi anak tanpa menghilangkan hak orang yang terluka.
Opa tidak menjanjikan memakai relasi untuk mengubah hasil. Oma meminta kabar kesehatan Sani, kemudian menyampaikan bahwa pertanyaan tentang kejahatan harus dijawab dalam pemeriksaan. Keputusan itu membuatnya menangis setelah telepon ditutup. Ia masih ibu Eshan, sekaligus nenek bagi seseorang yang lama tidak pernah diberi kesempatan dikenalnya.
Andaru tidak hadir untuk menerima penyesalan tersebut. Ketika Oma meminta bertemu, ia mengizinkan kunjungan singkat pekan berikutnya. Ia ingin membicarakan dirinya dan ibunya, bukan diminta memilih apakah seluruh keluarga pantas mendapat akhir yang mudah.
***
Pak Frans memberi kabar bahwa gangguan terhadap panti ikut diperiksa melalui keterangan pengurus dan bahan yang diserahkan. Orang-orang yang memaksa gerbang tidak memperoleh penguasaan atas panti hanya karena membawa nama keluarga. Kegiatan anak-anak tetap berjalan dengan pengaturan pengurus yang diperjelas. Pertemuan mengenai tanggung jawab Andaru diteruskan setelah kebutuhan mendesak ditangani.
Ia menandatangani bagian yang telah dipelajari dan dijelaskan kembali, menerima peran yang dapat dijalani bersamaan dengan pekerjaannya. Pengelolaan harian tetap berada pada orang-orang yang mengerjakannya. Ia tidak menganggap tanda tangan itu memberinya hak membawa uang panti pulang atau mengganti pengurus tanpa pertimbangan.
Ketika kunjungan selesai, ia berdiri di halaman beberapa menit. Kali ini tidak ada orang yang dikenali mengawasi dari seberang. Ia masih memeriksa jalan sebelum naik kendaraan. Rasa takut tidak harus dipaksa hilang untuk membuat kunjungan itu berarti.
Malamnya ia mengirim satu kabar praktis kepada Sabrina: panti masih berkegiatan dan ia telah menerima tanggung jawab yang dibicarakan. Ia tidak memakai berita penahanan sebagai kesempatan mengajak istrinya pulang sekarang juga.
Sabrina menjawab pada esok pagi. Ia senang anak-anak tetap dapat tinggal di sana. Sesudah itu ia kembali membicarakan urusan yang sedang dikerjakannya bersama Bi Lela. Andaru membaca pesan tersebut tanpa menanyakan mengapa tidak ada panggilan sayang di dalamnya.
Di meja, jadwal konsultasi berikutnya telah menunggu. Ia mengenakan baju dan memesan kendaraan lebih awal. Catatan tentang sulit tidur serta napas yang memburuk dibawanya untuk dibicarakan, termasuk ketakutan yang masih muncul sesudah mendengar kabar penahanan. Pintu rumah akhirnya dibukanya untuk pergi mencari bantuan bagi dirinya sendiri. Ia tidak sedang mengejar Eshan, menjemput Sabrina tanpa izin, atau membuktikan diri sanggup menanggung semuanya. Hari itu ia hanya perlu datang dan menceritakan apa yang selama ini membuatnya begitu takut kehilangan.