Panggilan dari penyidik datang dua minggu setelah Sabrina pindah ke rumah lama ayahnya. Andaru menerima jadwal untuk memberikan keterangan tambahan. Kali ini Aulian juga dipanggil mengenai komunikasi yang diterimanya ketika masih bekerja mengikuti urusan keluarga.
Mereka datang sendiri-sendiri. Di ruang tunggu, Aulian menatap sepatu sambil menggulung ujung lengan bajunya. Andaru mengenali gerakan gelisah yang biasanya disembunyikan sepupunya dengan lelucon.
“Lo sudah makan?” tanyanya.
“Sudah. Rasanya enggak ingat makan apa.”
Andaru menggeser botol air yang masih tertutup. Aulian mengambilnya, lalu mengatakan ia telah menerima pesan dari Sani. Ibunya meminta ia pulang, membicarakan tuduhan tanpa melibatkan orang lain. Ia belum menjawab.
“Gue takut nanti yang gue bilang malah berubah jadi alasan mereka lolos,” katanya.
“Bilang yang lo tahu. Kalau enggak tahu, jangan isi.”
Ketika namanya dipanggil, Aulian berdiri dengan botol di tangan. Andaru tinggal di kursi, menunggu gilirannya sendiri. Ia tidak dapat memberikan keterangan untuk menggantikan hubungan anak dengan kedua orang tuanya.
Pemeriksaan hari itu mempunyai bahan yang berbeda dari salinan di ruang tamu. Perangkat yang disita dari para tersangka penculikan telah diperiksa. Ada percakapan mengenai penjemputan Sabrina, lokasi gudang, dan uang yang diterima sebelum kejadian. Sejumlah keterangan mengarah kepada seorang perantara yang juga diketahui para pelaku gangguan panti.
Penyidik tidak menyerahkan seluruh percakapan kepada keluarga. Mereka meminta Aulian mengenali bagian komunikasi yang memang pernah diterimanya sendiri. Ia menunjukkan pesan yang masih ada pada perangkatnya, lalu menjelaskan siapa yang memakai nomor tersebut ketika ia mengetahui secara langsung. Ia tidak menyatakan semua nomor yang pernah muncul pasti milik ayahnya.
Abi datang pada jadwal terpisah bersama pendamping. Ia menerangkan bagaimana salinan lama disimpan, dan kekerasan yang pernah diterimanya dari Eshan. Tidak ada permintaan agar ia menyusup kembali untuk memperoleh kata sandi yang kurang. Perangkat dan catatannya diperiksa melalui penyerahan yang dijelaskan kepadanya.
Di antara bahan yang dicocokkan terdapat pembayaran kepada perantara dan percakapan yang menghubungkan keselamatan Sabrina dengan kepatuhan Sapto. Salinan terputus yang dahulu hanya dapat menimbulkan dugaan mulai mempunyai pembanding. Ada perangkat asal pada salah seorang yang terlibat, keterangan orang yang mengirim, serta catatan pembayaran yang dapat dimintakan penjelasan.
Atha menyerahkan pesan yang diterimanya sendiri mengenai permintaan menutupi kejadian di jalan. Ia mengira hal itu akan membuat perkaranya lebih mudah. Petugas menjelaskan bahwa keterangannya tetap diperiksa dan tidak menghapus perbuatannya terhadap Bi Lela. Ia menerima pemeriksaan berikut tanpa meminta Aulian membujuk korban lebih dahulu.
Andaru dipanggil mengenai hari ketika ia bertemu Sapto dan hal-hal yang didengarnya langsung. Ia menerangkan gejala yang dilihat sebelum motor kehilangan kendali, dorongan yang menyelamatkannya, lalu keadaan ketika sadar. Ketika pertanyaan beralih ke sesuatu yang baru diketahuinya dari Aulian, ia menyebut sumbernya. Ia tidak dapat mengingat percakapan yang tidak pernah didengarnya sendiri.
Penyidik menanyakan kejadian lima tahun sebelumnya, ketika ibunya meninggal dan ancaman membuatnya berhenti keluar rumah. Andaru membutuhkan jeda. Ia memandang pintu, menarik napas terlalu cepat, lalu meminta segelas air.
Tidak ada yang menyuruhnya membuktikan keberanian dengan terus berbicara tanpa berhenti. Setelah cukup tenang, ia menyampaikan ingatan yang masih dapat diceritakannya. Nama orang yang dahulu hadir, waktu pesan diterima, dan benda yang masih disimpannya di rumah. Sebagian mungkin tidak berguna lagi. Ia tetap akan menyerahkan yang masih ada tanpa mengubahnya untuk melengkapi cerita.
Ketika keluar, Aulian belum pulang. Ia sedang menelepon petugas untuk memastikan pesan baru dari Sani dapat ikut diserahkan. Andaru mendengar ibunya meminta ia tidak mempermalukan keluarga dalam rekaman pesan suara. Tidak ada nama Andaru yang disebut sebagai keponakan; Sani kembali menggunakan sebutan yang dahulu membuat Aulian marah.
Ia mematikan pemutaran dan menyimpan telepon.
“Gue enggak mau dengar itu lagi di depan lo,” katanya.
“Biar petugas dengar yang perlu didengar.”
Mereka meninggalkan gedung tanpa mengunjungi rumah Eshan. Di warung dekat jalan utama, Aulian baru dapat menghabiskan nasi setelah beberapa menit duduk. Andaru membicarakan hal kecil mengenai pekerjaan Pak Joko sampai sepupunya berhenti memutar sendok.
“Gue masih ingin orang tua gue bukan mereka,” ujar Aulian tiba-tiba.
Andaru tidak menjawab bahwa ia memahami sepenuhnya. Ia telah kehilangan ibunya. Aulian sedang berhadapan dengan orang tua yang masih hidup dan mungkin melakukan hal yang selama ini ditakutinya.
“Lo enggak harus menyelamatkan mereka dengan menghilangkan bagian yang benar,” katanya.
Aulian mengangguk. Sesudah makan mereka berpisah. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dan tidak semua jam dapat dipakai menunggu telepon dari penyidik.
***
Sabrina menerima penjelasan perkembangan pada jadwalnya sendiri, dengan Pak Frans dan Bi Lela mendampingi sesuai keinginannya. Ia diberitahu mengenai kaitan yang sedang diperiksa antara penculikan, gangguan panti, serta ancaman kepada ayahnya. Ia ingin mendengar bagian tentang Sapto, lalu meminta berhenti ketika tubuhnya mulai gemetar.
Pak Frans tidak menggantikan jawaban petugas dengan cerita bahwa semua telah terbukti sempurna. Pemeriksaan masih berjalan. Orang-orang yang disebut harus dimintai keterangan, dan bahan yang terkumpul harus dibandingkan.
Sabrina menanyakan pengaturan jika seseorang kembali mendekati rumahnya. Ia menerima kontak yang dapat digunakan, kemudian memeriksa kembali siapa yang boleh mengetahui alamat sementara serta jadwal pemeriksaannya. Ketakutan di rumah Andaru dahulu tidak semuanya berasal dari pikirannya. Ada ancaman yang nyata, dan mereka memerlukan bantuan yang dapat menanganinya.
Setelah pertemuan, Sabrina mengirim kabar kepada Andaru bahwa ia telah menerima penjelasan langsung. Ia tidak meminta laporan yang sama dibacakan ulang malam itu. Andaru menjawab bahwa ia juga telah memberi keterangan dan tidak akan menghubungi orang yang sedang diperiksa untuk berunding.
Sabrina menyimpan telepon. Dari dapur terdengar Bi Lela bertanya apakah ia ingin makan sekarang. Ia menjawab iya dan berdiri mengambil tongkat. Untuk pertama kalinya sejak nama ayahnya muncul di antara potongan gambar, ada sesuatu yang bergerak di luar lingkar pertanyaan mereka sendiri. Ia masih sedih, tetapi tidak lagi menunggu suaminya memutuskan kebenaran mana yang boleh sampai kepadanya.