Di rumah lama Sapto, Sabrina mengenali letak jendela dari arah angin dan suara kendaraan. Ada barang yang telah bergeser sejak kepergiannya. Bi Lela membantunya memeriksa ruang yang akan dipakai, menyebutkan posisi tas dan jalur menuju pintu, lalu membiarkannya mencoba sendiri.
Pagi berikutnya mereka menyusun kebutuhan untuk beberapa hari. Aulian mengantar belanja sebelum kembali bekerja dan mengurus pertemuan dengan petugas. Ia tidak meminta Sabrina menceritakan pertengkaran secara lengkap. Bi Lela tetap tinggal di sana, menemani Sabrina beristirahat setelah Aulian berangkat.
Sabrina menghubungi koordinator kegiatan mengajarnya. Ia ingin mempertahankan pertemuan singkat yang dapat diikuti dari rumah, dengan jeda ketika tubuhnya lelah. Mengajar tidak menghilangkan marah, tetapi memberinya waktu ketika suaranya dipakai untuk sesuatu selain menjawab tuduhan.
Pak Frans menelepon sesuai waktu yang disepakati. Ia telah membaca gambar dan meminta penjelasan pengirim. Sejauh ini belum ada dokumen asli atau keterangan dari lembaga yang disebut. Beberapa ketidaksesuaian pada bentuk tulisan dapat menjadi alasan memeriksa lebih lanjut, tetapi tidak dapat dipakai sendirian untuk memastikan siapa yang menyunting.
“Saya ingin tahu tentang bapak,” kata Sabrina. “Saya juga ingin menghentikan cerita bahwa saya menerima uang hanya karena ada nama di foto.”
Mereka membahas permintaan keterangan yang dapat dibuatnya. Sabrina menentukan bagian identitas yang diperlukan dan ingin menerima hasil langsung. Pak Frans tidak menjanjikan semua arsip lama akan lengkap. Ia membantu mengajukan pertanyaan kepada pihak yang sesuai, dengan dokumen pendukung yang dipilih Sabrina sendiri.
Pada waktu yang sama, perempuan yang mengirim gambar bersedia menjelaskan asalnya. Ia tidak datang menemui Sabrina. Kepada Pak Frans dan petugas, ia memperlihatkan percakapan yang masih berada dalam perangkatnya dan mengakui bahwa kabar tersebut diterimanya dari Eshan. Ia tidak pernah menyaksikan Sabrina menerima uang.
Pengakuan itu tidak otomatis menjawab siapa yang membuat gambar. Namun sumber cerita tidak lagi berhenti pada kata seseorang. Perempuan itu diminta menerangkan hubungannya dengan Eshan dan bagaimana bahan tersebut sampai kepadanya. Ia memilih memberikan keterangan, termasuk mengenai kalimat yang sengaja dipakainya untuk membuat Andaru curiga.
Andaru mendengar perkembangan itu dari Pak Frans. Ia nyaris menelepon Sabrina untuk mengatakan gambar tersebut akhirnya mulai terbantahkan. Sebelum menekan tombol, ia mengingat bagaimana dirinya dahulu telah mendengar bahwa gambar belum dapat dipercaya dan tetap memilih menuduh.
Ia menulis permintaan bertemu melalui jalur yang telah disetujui Sabrina. Tidak ada kalimat bahwa ia kini mempunyai bukti sehingga mereka harus segera berdamai. Ia hanya ingin meminta maaf secara langsung jika Sabrina bersedia mendengar.
Jawaban datang dua hari kemudian. Sabrina bersedia menerima sepuluh menit di ruang depan, dengan Bi Lela berada di rumah. Ia tidak ingin membicarakan kapan pulang. Andaru datang pada jam yang diberikan menggunakan kendaraan pesanan, tanpa membawa hadiah.
Bi Lela membuka pintu setelah memastikan Sabrina siap. Andaru menyebut dirinya ketika masuk. Ia duduk pada kursi yang diarahkan, tidak di sebelah Sabrina.
“Aku menuduhmu,” katanya. “Aku sudah mendengar kamu menjawab. Aku juga sudah tahu gambar itu belum dapat diperiksa. Aku tetap membuatmu seolah menyembunyikan sesuatu karena aku ingin rasa takutku segera mendapat jawaban.”
Sabrina menghadap suaranya. “Kalau ternyata tidak ada pesan dari Eshan, apakah aku tetap harus membuktikan diri supaya permintaan maaf ini ada?”
“Tidak. Yang kulakukan sudah salah sebelum kita tahu dari mana gambarnya.”
Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan sumber telah diserahkan kepada petugas, bukan alasan meminta Sabrina menyerahkan seluruh dokumen pribadinya kepadanya. Ia juga tidak akan memakai keadaan sendirian di rumah agar Bi Lela membujuknya pulang.
“Aku masih takut kepadamu kalau kamu kembali merasa tidak tahu sesuatu,” ujar Sabrina. “Bukan karena kamu akan memukul. Aku takut setiap kesedihanku akan diperiksa sebagai tanda menyembunyikan.”
Andaru mendengarkan sampai kalimat itu selesai. Ia tidak menjawab dengan mengingatkan pernah keluar rumah menyelamatkannya.
“Aku perlu mencari bantuan untuk caraku menghadapi takut,” katanya. “Tapi aku tidak ingin menjanjikan satu pertemuan akan membuat semuanya selesai.”
Sabrina belum mengatakan mau ikut. Ia ingin mengetahui apakah ia dapat berbicara dengan seseorang secara terpisah terlebih dahulu. Andaru menerima. Pilihan mereka tidak harus bergerak pada jadwal yang sama.
Ketika sepuluh menit hampir habis, Bi Lela mengetuk bingkai pintu dari dapur. Andaru tidak meminta tambahan waktu. Ia menanyakan apakah ada kabar praktis yang Sabrina ingin terima langsung darinya. Jawabannya hanya perkembangan yang menyangkut keselamatan dan urusan rumah yang perlu diputuskan bersama. Pemeriksaan kesehatan tetap diatur Sabrina dengan pendamping pilihannya.
Ia berpamitan. Di teras, keinginannya menoleh kembali begitu kuat sampai ia harus berhenti sejenak. Ia menunggu kendaraan di tempat yang tidak membuat Bi Lela harus berdiri menjaganya. Setelah naik, ia mengirim kabar sudah pergi kepada Aulian, lalu menyimpan telepon.
Sabrina tetap duduk beberapa menit sesudah suara kendaraan menjauh. Bi Lela bertanya apakah ia ingin minum. Ia menjawab iya, kemudian mengatakan tidak merasa lebih baik hanya karena Andaru berhasil meminta maaf tanpa membela diri.
“Kamu tidak harus merasa begitu hari ini,” jawab Bi Lela.
Sabrina meraih air yang letaknya telah disebutkan. Ada rasa lega karena pertemuan benar-benar berakhir pada waktunya, sekaligus sedih melihat betapa banyak hal yang kini harus dibicarakan sebelum sebuah kunjungan. Ia ingin mengambil keputusan dari keadaan yang dialaminya, bukan meniru akhir baik yang diharapkan orang.
Pada jadwal pemeriksaan berikutnya, Bi Lela menemaninya dan Aulian mengantar. Sabrina menyampaikan pertanyaannya langsung kepada tenaga kesehatan, termasuk kelelahan serta tekanan yang belakangan dialaminya. Ia menerima keterangan mengenai keadaan kehamilan dan jadwal tindak lanjut tanpa diminta menyelesaikan pertengkaran rumah tangga di ruang pemeriksaan. Setelah pulang ia memilih sendiri kabar yang ingin disampaikan kepada Andaru. Pemeriksaan hari itu telah dijalani; untuk informasi lebih jauh ia belum ingin berbagi. Jawaban suaminya singkat, menerima kabar tanpa meminta bukti gambar.
Sore hari ia membuka bahan Braille dan mempersiapkan pertemuan mengajar berikutnya. Di rumah Andaru, sebuah jadwal konsultasi tersimpan di telepon setelah ia sendiri meminta waktu. Mereka belum kembali hidup bersama. Untuk sementara, keduanya mulai mengerjakan sesuatu yang tidak dapat diselesaikan dengan meminta pasangannya lebih sabar.