Menjelang akhir bulan ketiga kehamilan Sabrina, sebuah nomor lama menghubungi Andaru. Perempuan yang pernah dikenalnya lima tahun silam ingin bertemu. Ia mengatakan mempunyai kabar mengenai keluarga Kalingga dan kematian Sapto.
Andaru memberitahu Sabrina sebelum menerima. Ia memilih kedai pada siang hari dan datang menggunakan kendaraan pesanan. Perempuan itu sudah duduk ketika ia tiba. Mereka tidak banyak membicarakan hubungan yang telah berakhir. Setelah bertanya kabar, perempuan tersebut menyebut angka yang membuat tangan Andaru berhenti di atas meja.
“Sepuluh miliar. Kamu tahu uang itu?”
“Aku mendengar janji tentang jumlah itu di rumah sakit, waktu Sapto meninggal. Sabrina juga ada.”
Perempuan itu menyebut Sabrina telah menerima pembayaran tersebut. Ia tidak membawa bukti ketika Andaru meminta. Katanya, ada orang yang sedang mengurus berkas lama dan akan mengirimkan salinan. Andaru bertanya siapa orang itu. Jawabannya berputar pada kenalan yang tidak mau disebut.
Ia pulang tanpa mendapatkan sesuatu yang dapat diperiksa. Sabrina mendengar seluruh percakapan yang diceritakannya, termasuk tuduhan mengenai uang. Ia mengingat suara perawat yang dulu menyebut asuransi setelah ayahnya meninggal. Mendengar sebuah janji tidak sama dengan menerima pembayaran. Tidak ada bukti pembayaran sebesar itu yang pernah diperlihatkan kepadanya.
Andaru menyetujuinya. Pada malam itu mereka masih dapat membicarakan kabar tersebut sebagai dua orang yang ingin mengetahui apa yang terjadi.
Gambar-gambar datang keesokan harinya. Ada foto Sabrina di meja dengan sejumlah kertas dan sebuah tangkapan gambar yang mencantumkan nama serta angka sepuluh miliar. Tanggal yang terlihat berada beberapa hari setelah kematian Sapto. Bagian pengirim, nomor rekening, dan rujukan pembayaran tidak utuh.
Andaru menerangkan yang dilihatnya. Sabrina meminta salinan dikirim kepada Pak Frans beserta pesan pengantarnya. Ia ingin asal gambar ditanyakan sebelum seseorang mulai menyusun kisah dari wajahnya yang berada di sebuah meja.
Abi dapat melihat bahwa gambar telah diteruskan dan tidak membawa keterangan asal yang cukup. Ia tidak dapat memeriksa rekening dari foto itu, apalagi menyatakan sebuah transaksi benar-benar terjadi. Pak Frans meminta dokumen dari pihak yang diklaim menerbitkannya. Mereka tidak membuka tautan asing yang kemudian ikut dikirim.
Jawaban-jawaban tersebut tidak menghapus gambar dari kepala Andaru. Ia membuka pesan yang sama di sela pekerjaan, memperbesar nama Sabrina, lalu kembali membaca peringatan bahwa keasliannya belum diketahui. Setiap kali ia berharap memperoleh sesuatu yang baru, yang ditemukannya tetap angka dan bagian yang terpotong.
Pada hari ketiga, perempuan itu mengirim versi yang lebih jelas. Nama Sabrina tampak lebih mudah dibaca. Ia menambahkan kalimat tentang betapa mudahnya Andaru mempercayai orang yang tinggal bersamanya.
Andaru masuk ke ruang tengah. Sabrina sedang memeriksa bahan ajar dengan pembaca layar. Ia menghentikan suara perangkat setelah suaminya mengatakan ingin bertanya.
“Kamu pernah menerima sepuluh miliar setelah bapak meninggal?”
“Aku sudah menjawab belum pernah menerima pembayaran sebesar itu, Mas.”
“Tapi namamu ada.”
“Di gambar yang belum diperiksa.”
Andaru memegang telepon lebih erat. “Kamu yakin tidak ada yang belum kamu ceritakan?”
Suasana berubah sebelum ia selesai mengucapkannya. Sabrina duduk tegak. Ia tidak perlu melihat wajah suaminya untuk mendengar bahwa pertanyaan itu telah mempunyai jawaban yang diinginkan.
“Kalau namaku dicetak orang, apa jawabanku jadi tidak berlaku?”
“Aku hanya ingin kepastian.”
“Aku juga. Itu sebabnya aku meminta sumbernya.”
Ia seharusnya berhenti. Peringatan Abi masih berada dalam percakapan yang sama dengan gambar. Namun rasa takut membuatnya ingin memperoleh sesuatu yang dapat disalahkan sebelum harus menerima bahwa ia belum tahu.
“Kalau memang tidak ada, kenapa berkas bapakmu belum kamu periksa semua?”
Sabrina mematikan perangkat di tangannya. Ia membutuhkan waktu beberapa detik sebelum dapat berbicara.
“Karena bapakku meninggal dan aku tidak bisa membereskan seluruh hidupnya hanya supaya tuduhan seseorang segera terjawab. Aku ingin memeriksa. Aku tidak mau diperiksa olehmu seolah sudah menyembunyikan sesuatu.”
Andaru menyebut namanya. Sabrina meminta jangan disentuh ketika ia mendekat. Ia mengambil tongkat dan pergi ke kamar. Beberapa menit kemudian ia kembali membawa tas. Bi Lela berjalan di sisinya.
“Aku ingin tinggal di rumah lama bapak untuk sementara,” katanya. “Bi Lela akan menemani. Kami sudah meminta Aulian mengantar.”
Andaru ingin mengatakan ia tidak seharusnya pergi dalam keadaan hamil. Kalimat itu berhenti sebelum menjadi perintah. Sabrina telah menyiapkan keperluan pemeriksaan dan transportasi bersama orang yang dikenalnya. Kehamilan tidak membuat hak memilih tempat tinggal berpindah ke tangannya.
“Ada yang perlu kubantu bawa?” tanyanya akhirnya.
“Bi Lela sudah membantu.”
Mereka menunggu Aulian di dalam rumah. Andaru tidak berdiri di depan pintu. Ketika sepupunya datang, ia menyampaikan alamat dan kebutuhan perjalanan kepada Sabrina, mendengar konfirmasi, lalu membantu membawa tas setelah diminta Bi Lela.
Aulian menatapnya sebelum berangkat. “Gue antar mereka. Jangan datang tiba-tiba.”
Andaru mengangguk. Ia tidak meminta telepon Sabrina diserahkan untuk memeriksa apakah ada percakapan dengan perempuan tersebut. Ia telah cukup jauh menjadikan istrinya orang yang harus membuktikan dirinya benar.
Sesudah mobil pergi, rumah menjadi sepi dengan cara yang berbeda dari masa sebelum menikah. Andaru dapat mendengar air di dapur yang belum sepenuhnya ditutup. Ia berjalan ke sana, memutar keran, lalu berdiri lama tanpa tahu apa yang hendak dikerjakan.
Ia mengirim seluruh rangkaian pesan kepada Pak Frans, termasuk kalimatnya sendiri ketika meminta pemeriksaan. Tidak ada gambar yang dipotong untuk membuat pengirim terlihat lebih mencurigakan atau dirinya tampak lebih berhati-hati. Selanjutnya ia menghubungi perempuan itu dan meminta sumber asli secara tertulis. Ia tidak membuka perdebatan tentang Sabrina.
Kabar kedatangan diterima dari Bi Lela setelah Sabrina mengizinkan. Mereka telah sampai dan akan beristirahat. Andaru mengucapkan terima kasih tanpa menitipkan permintaan pulang.
Ia duduk di ruang kerja dengan laptop tertutup. Angka sepuluh miliar masih belum mempunyai jawaban. Namun satu hal sudah diketahuinya dengan pasti: sebelum gambar tersebut terbukti benar atau salah, ia telah memilih memperlakukan orang yang dicintainya sebagai seseorang yang tidak layak dipercaya. Hal itulah yang harus dihadapinya lebih dahulu.