Dua minggu setelah gangguan di gerbang panti, Aulian meminta Andaru menerima kedatangan dua orang yang baru pulang dari perjalanan panjang. Ia menyebut Oma dan Opa, kemudian menambahkan bahwa keduanya belum pernah mengetahui Andaru adalah cucu mereka.
Andaru menurunkan telepon dari telinga sebelum mengangkatnya lagi. Selama ini ia membayangkan seluruh keluarga tersebut mempunyai kesempatan mengenalnya dan memilih tidak datang. Mendengar bahwa namanya bahkan tidak pernah diberikan kepada mereka menghadirkan kemarahan yang lain.
“Jangan bawa mereka ke sini sebelum gue siap.”
“Enggak akan,” jawab Aulian. “Gue sudah bilang harus tanya lo.”
Pak Frans telah dihubungi untuk memeriksa dokumen keluarga yang ditemukan bersama surat ibu Andaru. Ia bersedia hadir dan menjelaskan asal berkas, tanpa menjadikan satu kunjungan sebagai penetapan seluruh hak kekayaan. Andaru mempunyai waktu membaca salinan serta memikirkan pertanyaan yang hendak disampaikannya.
Ia memilih bertemu di ruang yang disediakan dekat kantor Pak Frans. Sabrina ingin menemani. Kehamilannya terus diperiksa sesuai jadwal, dan ia meminta pertemuan tidak berlangsung seharian. Andaru setuju. Mereka menyampaikan batas waktu itu sebelum menerima kedatangan tamu.
Ketika pintu dibuka pada hari yang ditentukan, seorang perempuan berambut putih berhenti memandang wajah Andaru. Tangan yang hampir terulur kemudian turun kembali. Di sebelahnya, lelaki tua yang datang bersamanya memegang map begitu erat sampai ujungnya melengkung.
“Andaru?” panggil perempuan itu.
Andaru menjawab dan mempersilakan duduk. Ia memperkenalkan Sabrina sebagai istrinya. Tidak ada cerita bahwa mereka pernah bermain bersama di rumah keluarga ketika kecil. Tidak ada pelukan yang dapat mengisi masa lalu yang belum pernah mereka bagi.
Aulian duduk agak jauh. Ia menjelaskan bahwa Andaru adalah putra dari kakak perempuan Eshan yang sudah meninggal. Dirinya dan Atha adalah anak-anak Eshan dan Sani. Ia sempat berhenti ketika menyebut nama kedua orang tuanya, lalu meneruskan penjelasan sambil menatap wajah Oma.
Pak Frans menunjukkan berkas yang telah diperiksa. Ada pertanyaan mengenai tanggal, penyimpanan, dan orang yang dapat dimintai keterangan tambahan. Opa menyampaikan bahwa selama ini kabar keluarga yang diterimanya datang melalui Eshan. Ia mulai mencari penjelasan lain setelah Aulian menghubungi tanpa meminta izin ayahnya.
“Kami seharusnya memeriksa sendiri,” kata Oma. “Kami terlalu lama menerima kabar yang dipilihkan untuk kami.”
Andaru menatapnya. “Mama meninggal lima tahun lalu. Saya sendirian di rumah yang sama. Saya tidak tahu kepada siapa harus datang.”
Oma menutup mulut dengan tangan. Opa menunduk. Mereka tidak meminta Andaru menenangkan kesedihan itu dengan segera memanggil mereka keluarga yang telah kembali.
Sabrina menyentuh lengan suaminya setelah ia mendekatkan tangan. Ia dapat mendengar suaranya semakin pendek. Pak Frans menawarkan jeda. Andaru memilih keluar beberapa menit bersama Sabrina sebelum meneruskan pembicaraan.
Di lorong, ia bersandar pada dinding. “Aku ingin marah, tapi mereka tampak begitu tua.”
“Kamu boleh menyampaikan yang terjadi padamu tanpa membentak,” jawab Sabrina. “Kamu juga tidak harus menghabiskan semuanya hari ini.”
Mereka kembali setelah ia cukup tenang. Andaru menjelaskan bahwa dugaan terhadap Eshan telah disampaikan kepada polisi bersama bahan yang ditemukan. Ia tidak mau pemeriksaan dihentikan karena keluarga akhirnya mengetahui ia ada. Panti juga tidak dapat dijadikan hadiah untuk menutup luka atau dipindahkan pengelolaannya melalui pertemuan pribadi tersebut.
Opa mengatakan akan menyerahkan dokumen yang dimilikinya jika diminta untuk pemeriksaan. Ia tidak menawarkan menelepon seseorang agar laporan hilang. Oma meminta kesempatan berkenalan secara perlahan, dengan waktu yang boleh ditentukan Andaru.
Andaru belum dapat menjawab kapan kunjungan berikutnya. Ia hanya mengizinkan Aulian menyampaikan kabar praktis mengenai pertemuan baru. Foto tidak diambil. Nama Sabrina serta kehamilannya tidak disebarkan kepada kerabat yang belum dikenalnya.
Ketika batas waktu hampir habis, Andaru berdiri. Oma meminta izin menyentuh tangannya. Ia menyetujui, lalu merasakan kedua telapak yang dingin menutup jemarinya. Perempuan itu menangis tanpa menyuruhnya pulang ke rumah keluarga. Untuk saat itu, Andaru sanggup tetap berdiri di sana.
***
Pada akhir pekan yang sama, Atha menghubungi Aulian. Pembicaraan mengenai pertunangannya yang gagal sempat muncul, lalu Aulian menghentikannya. Ada perkara lain yang tidak dapat diselesaikan dengan mengatakan semua orang pernah dikhianati.
“Lo menabrak Bi Lela,” katanya. “Lo pergi. Itu belum pernah lo hadapi.”
Atha datang menemui petugas pada waktu yang telah diatur. Ia memberikan keterangan mengenai kendaraan dan kejadian di jalan, lalu menyerahkan informasi yang berada dalam kuasanya. Aulian tidak menghapus bagian rekaman yang memperlihatkan mobil adiknya. Ia menjelaskan asal salinan yang dimiliki dan menerima ketika petugas mengatakan pemeriksaannya perlu dilakukan tersendiri.
Bi Lela mendapat penjelasan langsung tentang pilihan yang dapat ditempuhnya. Ia meminta biaya perawatan yang masih ditanggungnya diperiksa, dan menolak menandatangani sesuatu hanya untuk membuat Atha dapat pulang dengan perasaan lebih ringan. Kesediaan pelaku membayar tidak berarti ia harus mencabut keterangan.
Andaru menemaninya ketika diminta. Sabrina berada di rumah karena mempunyai jadwal mengajar singkat. Ia menerima kabar dari Bi Lela sendiri, bukan versi Atha yang menyebut semuanya sudah selesai.
Sesudah pertemuan, perempuan itu duduk lama di teras rumah. Ia telah pulih dari luka awal, tetapi masih mengingat bunyi kendaraan sebelum tubuhnya jatuh. Andaru membawa teh dan tidak meminta ia bersyukur karena Atha akhirnya meminta maaf.
“Saya ingin lanjut memberi keterangan,” kata Bi Lela.
“Saya akan membantu kalau Bibi memerlukan kendaraan atau pendamping.”
“Saya perlu kamu tidak mengatakan saya sudah memaafkan karena saya bisa bercanda lagi.”
Andaru mengangguk. “Saya tidak akan mengatakan begitu.”
Malamnya ia menceritakan pertemuannya dengan Oma dan Opa kepada Bi Lela. Perempuan itu mendengarkan sambil melipat kain. Mereka sama-sama baru menerima permintaan maaf yang tidak dapat mengubah kejadian lama. Tidak seorang pun harus menukar keterangan yang benar dengan kebahagiaan orang lain.
Andaru kembali ke ruang kerja ketika Sabrina memanggil dari sana. Ia ingin memastikan berkas bahan ajarnya sudah tersimpan pada tempat yang dapat ditemukan esok hari. Andaru menunjukkan namanya melalui pembaca layar. Sabrina memeriksa, mengucapkan terima kasih, lalu bertanya apakah ia ingin duduk sebentar.
Ia duduk. Keluarga yang datang hari itu belum memberinya masa kecil yang lain. Namun ia telah dapat mengatakan bahwa dirinya pernah ditinggalkan, dan orang-orang di depannya tidak lagi boleh berpura-pura tidak mendengar.