Pak Frans menelepon dua hari setelah kunjungan mereka. Sejumlah lelaki baru saja memaksa gerbang panti dan menuntut berkas pengelolaan. Mereka pergi ketika pengurus meminta menunggu di luar. Sebelum menyampaikan hal lain, Pak Frans mengatakan bahwa anak-anak telah berkumpul bersama pendamping dan tidak ada yang terluka.
Andaru menjauh dari kursinya begitu cepat sampai lututnya membentur meja.
“Sudah menghubungi polisi, Pak?”
“Sudah. Saya juga memberikan nomor laporan yang kemarin.”
Andaru menanyakan siapa yang masih berada di halaman. Tangannya gemetar ketika mengambil telepon lain untuk menghubungi Aulian. Ia ingin segera datang, tetapi harus menunggu orang yang dapat mengantar. Sabrina mendengar percakapan itu dari ruang tengah.
Ia bertanya mengenai keadaan di panti sebelum mengatakan ingin ikut. Andaru menerangkan bahwa para lelaki telah pergi, bantuan sedang diminta, dan mereka akan menunggu petunjuk Pak Frans sebelum masuk. Sabrina mempertimbangkannya, lalu memilih datang bersama mereka. Bi Lela tidak ikut; ia diminta tetap di rumah dan menerima kabar bila perjalanan pulang berubah.
Mereka tiba melalui jalan utama. Aulian berhenti lebih dahulu untuk menelepon Pak Frans, memastikan gerbang dapat dibuka bagi kendaraan yang dikenali. Anak-anak berada di ruang belajar. Seorang pengurus membawa mereka masuk tanpa mengajak meninjau kerusakan pagar.
Di kantor, Pak Frans menceritakan tuntutan yang baru diterimanya. Tidak ada surat yang dapat diperiksa. Lelaki-lelaki itu hanya mendesak agar berkas diserahkan dan mengaku berhak mengambil alih panti. Pak Frans menolak memberikan dokumen kepada orang yang identitas serta kewenangannya tidak jelas.
Andaru memandang map di lemari. Untuk sesaat ia ingin memindahkannya ke mobil dan pergi membawa seluruh masalah. Lalu terdengar seorang anak bertanya kepada pengurus apakah mereka akan disuruh meninggalkan kamar.
Ia menutup pintu lemari kembali. Dokumen yang dibawa kabur tidak akan membuat pertanyaan anak itu hilang.
Suara benturan datang ketika mereka masih menunggu petugas. Sabrina tersentak, tangannya mencari sisi kursi. Aulian segera mendekat dan menjelaskan arah suara. Pak Frans menelepon lagi, memberitahukan bahwa orang-orang tersebut kembali memaksa gerbang.
Andaru ingin berdiri di depan mereka. Napasnya justru memendek sebelum mencapai pintu. Ia berhenti di sisi dinding, menekan telapak tangan yang berkeringat pada celana.
“Daru, di sini,” kata Aulian. “Jangan ke depan.”
Ia mengikuti suara sepupunya kembali ke kantor. Pengurus memastikan tidak ada anak di halaman. Sabrina tetap bersama pendamping di ruang dalam; ia mendengar benturan tanpa diberi tugas berpura-pura tenang agar semua orang lain merasa lebih baik.
Drone yang dibawa Andaru masih berada di tas. Ia mengoperasikannya dari area belakang setelah Pak Frans memastikan jalurnya kosong. Pada layar tampak gerbang diguncang beberapa orang. Andaru merekam gambar dari jarak yang tidak mengharuskannya berdiri di depan pagar. Gambar bergerak tanpa suara percakapan. Pak Frans mendengar teriakan dari arah gerbang, lalu memberitahu Andaru bahwa para lelaki itu menuntut dokumen diserahkan.
Ketika bunyi kendaraan mendekat dari jalan, para lelaki menjauh. Salah seorang masih menunjuk ke arah bangunan sebelum pergi. Andaru menahan tangan agar tidak mengarahkan drone mengejar mereka. Ia menyimpan rekaman, kemudian mendaratkan perangkat.
Petugas tiba ketika halaman sudah kosong. Pak Frans menunjukkan pagar yang bengkok dan menerangkan urutan kedatangan. Andaru menyerahkan rekaman asli untuk penanganan bukti, menyimpan salinan sesuai arahan yang diberikan. Ia menjelaskan bagian yang dilihat di layar serta bagian yang hanya didengarnya dari Pak Frans. Tidak semua wajah dapat dikenali. Ia tidak menyatakan telah membuktikan siapa yang mengirim mereka.
Di ruang belajar, beberapa anak menangis. Sabrina meminta pengurus menanyakan apakah mereka ingin mendengar cerita sambil menunggu makan siang. Ia duduk di kursi yang ditunjukkan, lalu mulai berbicara ketika mereka mendekat. Ceritanya terhenti sekali karena suara keras dari halaman, ternyata petugas sedang memeriksa gerbang. Ia menunggu penjelasan pengurus sebelum melanjutkan.
Seorang anak bertanya apakah orang jahat akan membawa mereka.
“Sekarang kalian tetap bersama pengurus di sini,” jawab Sabrina. “Kalau ada yang membuat takut, katakan. Kalian tidak harus keluar untuk memeriksa.”
Ia tidak menjanjikan tidak akan ada bunyi keras lagi. Ia mendengar anak itu bergeser lebih dekat ke temannya, kemudian meminta kisahnya diteruskan. Sabrina melanjutkan sampai makanan datang. Tak seorang pun meminta anak-anak mengingat nomor kendaraan atau menjadi saksi yang lebih berani.
Andaru menunggu pemeriksaan awal selesai sebelum kembali ke ruangan. Ia duduk di dekat pintu, masih pucat. Seorang anak mengenalinya sebagai orang yang dahulu datang bersama ibunya. Pertanyaan sederhana tentang mengapa ia lama tidak berkunjung membuatnya lebih sulit menahan air mata daripada benturan di pagar.
“Aku lama sakit karena takut keluar,” katanya. “Sekarang aku sedang mencoba datang lagi.”
Anak itu mengangguk seolah jawaban tersebut cukup. Ia menyisihkan ruang untuk piring Andaru di atas meja. Andaru makan beberapa suap sebelum dipanggil memberikan keterangan tambahan.
Pak Frans mengatur pendampingan pengurus untuk malam hari dan perbaikan sementara setelah bagian yang perlu diperiksa dicatat. Keperluan mendesak dibayarkan melalui pembukuan panti; bantuan Andaru dicatat sebagai bantuan yang disetujuinya, bukan pengambilalihan uang anak-anak. Ia meminta pembicaraan mengenai perannya dilanjutkan ketika semua orang sudah beristirahat.
Dalam perjalanan pulang, Sabrina mengaku lelah. Aulian mengemudikan mobil tanpa menyalakan musik. Andaru tidak memutar ulang rekaman untuk meyakinkan dirinya bahwa ancaman benar-benar terjadi. Ia sudah memberikan keterangan. Malam itu ia perlu pulang bersama istrinya.
Bi Lela membuka pintu dan memandang wajah mereka satu per satu. Andaru mengatakan bahwa seluruh anak selamat, laporan tambahan telah diterima, dan Pak Frans tetap berada di sana. Ia nyaris menambahkan bahwa semuanya sudah aman, lalu berhenti. Mereka masih perlu menunggu perkembangan dan mengikuti pengaturan yang sedang dibuat.
Setelah mandi, Sabrina menghubungi pengurus untuk memastikan bahan cerita yang dijanjikannya dapat dikirim pada esok hari. Andaru mendengarkan dari kursi lain. Hari itu ia belum berhasil menghilangkan rasa takut, bahkan sempat tidak dapat melewati pintu. Namun ia tidak meninggalkan panti sendirian menghadapi benturan berikutnya. Ketika telepon Pak Frans datang memberi kabar anak-anak sudah tidur, ia menjawab, mendengar sampai selesai, lalu akhirnya mematikan lampu.