Sabrina memilih berziarah pada akhir pekan ketika tubuhnya terasa cukup kuat. Aulian datang dengan kendaraan pinjaman yang telah disepakatinya lebih dahulu. Bi Lela membantu menyiapkan air minum, lalu menunggu di rumah karena masih mudah lelah jika berjalan terlalu jauh.
Sepanjang perjalanan, Andaru memandang kendaraan yang mendahului mereka. Ia sudah pernah datang ke makam Sapto bersama Sabrina. Ia juga pernah berdiri di depan makam ibunya sendiri sebelum lima tahun menghindari banyak tempat di luar rumah. Mengenali tujuan tidak membuat perjalanan itu terasa ringan. Jemarinya beberapa kali mengepal di atas lutut.
“Kamu ingin berhenti?” tanya Aulian.
Andaru menggeleng, kemudian menjawab, “Masih bisa. Pelankan sedikit kalau sudah masuk jalan kecil.”
Di pemakaman, Sabrina menerima lengan yang ditawarkan. Mereka berjalan melewati bagian tanah yang tidak rata. Andaru menyebutkan ketika jalur menyempit dan berhenti saat Sabrina meminta waktu. Ia tidak menarik istrinya supaya cepat tiba.
Sabrina berdoa di dekat makam ayahnya. Sesudah selesai, ia menyentuh tepi batu yang posisinya diterangkan Andaru. Ada banyak pertanyaan yang ingin ditujukannya kepada Sapto. Tidak satu pun dapat dijawab oleh tanah yang telah menutup tubuh lelaki itu.
“Aku mendengar sebagian yang terjadi, Pak,” katanya lirih. “Aku masih ingin tahu yang lain.”
Andaru berdiri beberapa langkah di belakang. Ia membiarkan suara Sabrina tetap menjadi percakapan yang tidak perlu dijelaskannya kepada Aulian. Ketika istrinya meminta pulang, mereka berjalan menuju kendaraan tanpa mengubah ziarah itu menjadi janji bahwa seluruh duka telah selesai.
Dalam perjalanan kembali, Andaru menerima pesan dari Pak Frans. Ia membaca nama pengirim, lalu memeriksa percakapan lama melalui alamat surel yang telah dikenalnya. Pesan palsu tentang serangan panti pernah membuatnya keluar rumah. Kali ini ia menelepon melalui nomor yang telah dipastikan bersama Pak Frans, bukan nomor baru dalam pesan yang mendesak.
Pak Frans memang ingin bertemu. Tidak ada serangan yang sedang berlangsung. Ada dokumen mengenai pengelolaan panti dan surat ibu Andaru yang ditemukan ketika berkas lama diperiksa.
“Jangan datang terburu-buru,” katanya. “Saya ingin kamu membaca dengan pikiran yang cukup tenang.”
Andaru mengatur kunjungan beberapa hari kemudian. Ia memberitahukan pertemuan itu kepada petugas yang menangani ancaman keluarganya dan memastikan pengurus panti mengetahui siapa yang akan datang. Sabrina ingin ikut mendengar surat tersebut. Ia tidak mengingat ibu Andaru sebagai seseorang yang pernah dikenalnya; ia hanya mengenal perempuan itu dari cerita suami dan orang-orang yang masih menjaganya dalam ingatan.
***
Pada hari kunjungan, anak-anak sedang berkegiatan di ruang belajar. Andaru menunggu di kantor setelah menyapa pengurus. Ia ingin melihat panti sebagai tempat orang hidup, dengan kebutuhan makan dan sekolah yang harus tetap berjalan, bukan sekadar bangunan yang pernah dimiliki keluarganya.
Pak Frans meletakkan map di meja. Ia menjelaskan bahwa pengurus tetap menangani kegiatan harian. Peran Andaru yang akan dibicarakan tidak membuatnya mengambil seluruh uang atau menjadikan anak-anak penghuni rumah pribadinya. Sebelum menerima tanggung jawab, ia perlu mengetahui keadaan pembiayaan, orang yang menjalankan pekerjaan, dan batas keputusan yang dapat diambilnya.
Andaru meminta salinan untuk dipelajari. Ia tidak menandatangani berkas hanya karena nama ibunya disebut.
Sesudah penjelasan itu, Pak Frans menunjukkan surat yang ditujukan kepada Andaru. Surat tersebut belum dibuka di depan mereka. Andaru meminta Pak Frans membacakan, lalu mengulangi beberapa bagian yang suaranya sulit diikuti karena ia sendiri mulai menangis.
Ibunya menulis agar ia tidak mengukur dirinya dari hinaan orang lain. Panti disebut sebagai tempat yang dibangun untuk memberi anak-anak kesempatan hidup lebih baik. Andaru tidak diminta membalas kasih dengan menyerahkan seluruh hidupnya. Ia diminta mencari kebenaran jika suatu hari orang memakai keadaan keluarganya untuk merendahkannya.
Di dalam map yang sama ada salinan pencatatan pernikahan orang tuanya. Pak Frans menjelaskan isi yang terbaca serta asal penyimpanannya. Ia akan membantu memeriksa dokumen melalui pihak yang berwenang, sebelum dipakai untuk urusan administrasi lebih lanjut.
Andaru menatap nama-nama di kertas itu. Selama bertahun-tahun ia mendengar sebutan yang membuat keberadaannya terasa seperti kesalahan ibunya. Ada kelegaan ketika dokumen tersebut menunjukkan cerita yang berbeda, lalu kemarahan karena ia baru diberi kesempatan memeriksanya sekarang.
“Mengapa saya tidak pernah mendapat map ini?” tanyanya.
Pak Frans tidak menjawab dengan mengatakan semua dilakukan demi kebaikannya. Ia menerangkan apa yang diketahuinya tentang penyimpanan berkas dan bagian yang masih perlu ditelusuri. Ada jarak panjang antara kehilangan ibunya dan kunjungan mereka hari itu. Surat yang ditemukan tidak dapat mengembalikan lima tahun yang terlewat.
Sabrina mengulurkan tangan setelah Andaru menyebut ia ingin duduk lebih dekat.
“Kamu tetap anak yang berhak dicintai sebelum kertas ini dibuka, Mas,” katanya. “Aku senang kamu mendapat keterangan yang dulu tidak diberikan. Tapi orang-orang itu tidak pernah berhak menghina kelahiranmu.”
Andaru menunduk sampai dahinya menyentuh tangan mereka yang bertaut. Ia tidak sanggup menjawab beberapa saat. Pak Frans menunggu, kemudian mengambil air ketika Sabrina memintanya.
Mereka meninggalkan surat asli pada tempat penyimpanan yang telah dicatat, membawa salinan dan hasil pembacaan yang direkam atas izin Andaru. Sabrina meminta rekaman itu disimpan pada tempat yang dapat ditemukannya. Ia ingin mendengar kembali kata-katanya ketika suaminya siap membicarakan bagian yang paling sulit.
Sebelum pulang, Andaru meninjau ruang belajar bersama pengurus. Ada meja yang perlu diperbaiki dan jadwal belanja yang belum disetujui penanggung jawabnya. Ia mencatat untuk pertemuan berikut, tanpa menjanjikan uang yang belum diketahuinya tersedia. Ia masih harus kembali menuntaskan pekerjaan Pak Joko.
Di halaman, Aulian menyebut seorang lelaki sedang memperhatikan gerbang dari seberang jalan. Wajahnya terlalu jauh untuk dikenali. Lelaki itu memegang telepon, lalu berjalan menjauh ketika pengurus mendekat ke pagar.
Mereka masuk kembali ke kantor. Andaru menyampaikan apa yang benar-benar dilihat Aulian, termasuk bahwa ia belum mengetahui identitas orang tersebut. Pak Frans memberitahu petugas yang menangani laporan ancaman dan mengatur agar anak-anak tetap berkegiatan di dalam. Tidak ada yang dikirim mengejar.
Kunjungan berikutnya mereka tunda sampai pengaturan keamanan diperiksa. Andaru membawa pulang salinan surat ibunya, sekaligus kekhawatiran baru bahwa orang lain sedang mencari dokumen yang sama. Kali ini ia tidak menutup telepon dan menanggung ketakutan sendiri. Ia meminta bantuan sebelum kejadian yang lebih buruk memaksa mereka melakukannya.