Tawaran pekerjaan itu muncul ketika Andaru sedang menunggu hasil pemeriksaan ulang Sabrina. Tiga hari bekerja di kantor, dua hari dari rumah. Ia membaca rinciannya sampai selesai, kemudian mengirim pertanyaan mengenai jadwal dan tanggung jawab. Ia memang sudah bekerja jarak jauh bersama Pak Joko. Menerima pekerjaan lain tanpa membahas kewajiban yang lama hanya akan memberinya dua janji yang tidak sanggup dipenuhi.
Pada sore berikutnya ia menolak tawaran tersebut. Ada bagian pekerjaan yang menarik, tetapi ia belum siap mengambil perubahan sebesar itu bersamaan dengan kehamilan Sabrina dan penyelidikan penculikan yang masih berjalan. Ia menyimpan kontak pemberi tawaran untuk urusan profesional, lalu kembali menuntaskan pekerjaan yang telah dibayarkan kepadanya.
Pak Joko menerima hasilnya dengan dua catatan perbaikan dan satu keluhan mengenai pertemuan yang pernah ditinggalkannya mendadak.
“Kalau ada keadaan darurat, beri tahu secepatnya. Gue tidak bisa menebak lo hilang karena jaringan atau karena yang lain.”
“Waktu itu istri gue diculik.”
“Gue tahu setelah lo memberi kabar. Itu sebabnya gue minta caranya diperbaiki, bukan menyuruh lo tetap rapat sementara istri lo dibawa orang.”
Andaru menerima teguran itu. Mereka menyepakati siapa yang dapat menerima pemberitahuan jika keadaan serupa terjadi. Ia tidak meminta Sabrina mengawasi jadwalnya. Ketika pekerjaan selesai, ia menutup laptop untuk menyambut Aulian dan Abi yang datang membawa perangkat penyimpanan.
Ada orang dewasa yang mendampingi Abi kali ini. Anak itu baru lima belas tahun. Sesudah dipukul dan diperalat Eshan, ia tidak seharusnya kembali diminta menghadapi lelaki tersebut demi melengkapi berkas orang lain. Mereka duduk di ruang tengah bersama Sabrina, dan Aulian lebih dahulu menjelaskan bahwa bukti yang berkaitan dengan penculikan telah diserahkan kepada petugas.
“Yang ini salinan lama,” katanya. “Abi menyimpan sebagian komunikasi waktu masih disuruh bekerja untuk ayah gue. Ada yang belum sempat gue pahami.”
“Jangan suruh dia masuk ke perangkat orang itu lagi,” ujar Sabrina.
“Enggak,” jawab Aulian. “Yang sudah ada akan diperiksa penyidik. Gue juga perlu mengatakan sesuatu tentang salinan yang dulu gue pakai.”
Ia mengakui cara-cara yang dilakukannya bersama Abi untuk mengawasi orang lain. Sebagian berasal dari kamera dan komunikasi yang tidak berhak mereka masuki. Aulian tidak mengulang tuduhan bahwa Sabrina berpura-pura buta. Ia menyebut tuduhan itu sebagai kesalahannya sendiri, bukan hasil penyelidikan yang kini perlu dimaklumi karena ia bermaksud melindungi Andaru.
“Aku minta maaf atas tuduhan itu dan karena mengawasimu tanpa izin,” kata Aulian. Ia berhenti, memberi Sabrina waktu menjawab.
Sabrina mendengarkan dengan kedua tangan di pangkuan. “Aku mendengar pengakuanmu. Sekarang aku ingin tahu apa yang masih kamu simpan tentangku.”
Aulian menjelaskan. Ia bersedia mengikuti pemeriksaan tentang asal bahan tersebut, bukan menyebarkannya untuk memenangkan pertengkaran keluarga. Sabrina meminta materi pribadi yang tidak berkaitan dengan perkara tidak diputar di ruang tamu. Untuk sesuatu yang perlu dipertahankan sebagai bukti, mereka harus mendapat penjelasan penanganannya dari petugas.
Abi memisahkan dua berkas. Rekaman kendaraan Atha yang menabrak Bi Lela berada dalam folder berbeda dari video mengenai perselingkuhan tunangan Atha. Lokasi, kejadian, dan orang-orangnya tidak sama. Kegagalan pertunangan itu tidak menjelaskan tabrak lari dan tidak menyelesaikan luka Bi Lela.
Perempuan yang sejak tadi menyiapkan minuman akhirnya duduk. “Saya ingin tahu apa yang bisa saya lakukan tentang kejadian di jalan itu,” katanya.
Aulian mengatakan ia akan membantu menghubungkan Bi Lela dengan petugas yang menangani keterangannya. Ia tidak meminta perempuan itu menyerahkan keputusan kepadanya karena pelakunya masih adiknya sendiri.
Sesudah urusan tersebut dicatat, Abi membuka salinan percakapan mengenai Sapto. Beberapa bagian tidak lengkap. Ada perintah membawa Andaru dalam perjalanan, dan ancaman bahwa keselamatan putri Sapto bergantung pada kepatuhannya. Nama pengirim pada salinan itu belum dapat dipastikan. Aulian membacakan bagian yang terbaca tanpa mengisi kata yang rusak.
“Jadi perkataanmu dulu tentang bapak dipaksa sekarang ada dasarnya?” tanya Sabrina kepada Andaru.
“Ada catatan yang mendukung dugaan itu. Dulu aku menyimpulkannya. Aku belum melihat pesan ini.”
Sabrina meminta mereka berhenti sebentar. Ia mendengar suara kursi Abi bergeser, lalu air dituangkan. Ketika siap, ia meminta Andaru menceritakan perjalanan terakhir bersama Sapto sekali lagi.
Andaru mengingat tubuh lelaki itu yang sudah menunjukkan sesuatu tidak beres ketika masih mengemudikan motor. Busa di mulut, kendali yang memburuk, lalu dorongan yang membuat dirinya terhindar dari benturan truk. Semua gejala itu sudah tampak sebelum benturan. Ia tidak mengetahui siapa yang menyerahkan racun atau kapan tepatnya masuk ke tubuh Sapto.
“Beliau sempat menerima tugas untuk mencelakaiku,” katanya. “Pada akhirnya beliau justru mendorongku agar selamat. Aku tidak mendengar semua yang terjadi sebelum kami bertemu.”
“Dan bapak tidak pernah bisa menceritakan sesudahnya,” ujar Sabrina.
“Tidak.”
Sabrina menekan kedua telapak tangannya. Ia teringat betapa sering dahulu menunggu ayahnya pulang untuk membicarakan hal yang sulit. Kini ada begitu banyak yang ingin ditanyakan, tetapi tidak akan ada lagi bunyi motor Sapto berhenti di depan rumah. Ia sedang berharap kepada waktu yang sudah tidak dimiliki ayahnya.
Ia menangis tanpa meminta dibiarkan sendiri. Bi Lela duduk di sebelahnya setelah diminta. Andaru tetap di kursi seberang sampai Sabrina mengulurkan tangan ke arahnya.
“Aku ingin catatan ini diperiksa,” katanya. “Bukan disimpan hanya supaya kita bisa mengatakan bapak orang baik. Aku ingin tahu siapa yang mengancamnya.”
Abi mengatakan ia akan menjelaskan asal setiap salinan kepada penyidik bersama pendampingnya. Aulian menghubungi petugas yang telah menerima laporan penculikan dan menanyakan penyerahan bahan tambahan. Mereka tidak perlu menunggu semua jawaban terkumpul di rumah.
Sebelum pergi, Aulian mengingatkan bahwa Eshan tetap orang yang ia curigai, sekaligus ayahnya sendiri. Mengucapkan dua kenyataan itu bersamaan membuat suaranya berat. Ia tidak ingin hubungan keluarga menjadi alasan untuk menghilangkan namanya dari keterangan.
Sabrina mendengarkan, lalu meminta agar perkembangan yang menyangkut ancaman kepadanya disampaikan langsung. Ia dapat memilih kapan mendengar rincian yang menyakitkan. Ia tidak ingin keselamatannya kembali ditentukan lewat percakapan di ruangan lain.
Malam itu Andaru duduk bersamanya sampai suara hujan turun. Pertanyaan tentang Sapto belum selesai. Namun salinan yang mereka dengar telah meninggalkan meja keluarga dan masuk ke pemeriksaan yang semestinya. Untuk pertama kalinya mereka tidak sekadar membicarakan siapa yang mungkin melakukan kejahatan. Ada orang-orang yang harus menjelaskan perbuatannya.