“Andrea, hentikan dulu.”
Perintah Andaru menghentikan suara dari pengeras di ruang kerja. Sabrina yang baru tiba di ambang pintu berpegangan pada tongkatnya, tidak segera masuk. Nama itu pernah didengarnya. Selama ini ia menyimpan pertanyaan karena ada terlalu banyak hal lain yang lebih mendesak.
“Aku boleh tahu kamu sedang bicara dengan siapa?”
Andaru menoleh dari layar, lalu berdiri. “Andrea. Asisten suara yang kubuat.”
“Asisten yang bekerja dari rumah lain?”
“Program, Sab. Bukan orang.”
Sabrina memalingkan wajah ke arah pengeras. Ia tidak langsung tertawa ketika Andaru menyadari kesalahpahamannya. Ada rasa lega yang bercampur malu, dan sedikit jengkel karena telah membayangkan seorang perempuan yang mengetahui hampir seluruh jam kerja suaminya.
“Kamu tidak pernah menjelaskan.”
“Aku mengira kamu tahu karena mendengar suaranya dari komputer. Seharusnya aku bertanya, bukan menebak.”
Ia menawarkan mendemonstrasikan. Sabrina memilih masuk dan duduk di kursi yang disebutkan posisinya. Andaru meminta program membacakan daftar pekerjaan contoh, lalu menghentikannya. Ia menjelaskan bagian yang dibuatnya dan fungsi yang belum dapat diandalkan. Sabrina mendengarkan beberapa menit, kemudian mengajukan pertanyaan yang membuatnya berhenti memandangi layar.
“Kalau alat ini mendengarkan perintah, apakah dia juga mendengarkan percakapanku?”
Andaru menerangkan cara pengaturan yang sedang dipakainya. Sabrina tidak memahami semua istilah, tetapi ia memahami perbedaan antara memberi perintah dan membiarkan alat merekam kehidupan rumah. Ia meminta fungsi yang tidak diperlukan di ruang bersama dimatikan sampai mereka menyepakati penggunaannya.
Andaru melakukannya dan menunjukkan cara mematikan pengeras. Sabrina mencoba tombol yang dipilih, mendengarkan hasilnya, kemudian meminta letaknya tidak dipindah tanpa memberitahunya. Sesudah itu ia tertawa kecil.
“Aku sudah menyiapkan pertanyaan tentang perempuan lain. Ternyata aku harus bertanya tentang komputer.”
“Pertanyaannya tetap membuatku berkeringat.”
“Bagus. Berarti aku tidak sendirian yang bingung.”
Percakapan itu membawa mereka pada urusan rumah yang selama ini diputuskan dengan terlalu cepat. Sabrina menghargai keterangan posisi cangkir atau pintu, tetapi tidak ingin seluruh barang dipindahkan untuk alasan keamanan tanpa diberi kesempatan mencoba. Lorong yang sudah dikenalnya dapat menjadi lebih sulit bila kursi bergeser sedikit saja.
Mereka menghabiskan sebagian sore meninjau ruang bersama. Andaru menjelaskan perubahan yang dipikirkannya. Sabrina menolak dua, menyetujui satu setelah mencoba sendiri, dan meminta rak bahan ajarnya tetap pada posisi lama. Tidak ada perjalanan meraba seluruh rumah dari awal. Ia telah tinggal di sana cukup lama untuk mempunyai jalannya sendiri.
Di dekat pintu belakang, Sabrina berhenti sebelum melangkah ke halaman. Andaru mengatakan tanah masih basah. Ia teringat Motty dan tempat kecil di belakang rumah yang kini tidak lagi mengeluarkan suara mengeong. Kucing itu tidak akan tiba-tiba muncul menggosok kaki mereka lagi. Andaru diam beberapa saat, kemudian mengajak Sabrina kembali masuk sebelum lantai menjadi licin.
Sabrina menyentuh lengannya ketika ia menawarkan. Mereka menuju dapur. Bi Lela sedang memotong buah dan mengeluhkan dua orang yang baru sadar belum makan sejak siang.
“Komputernya tidak bisa mengingatkan makan?” tanyanya.
“Bisa, Bi,” jawab Andaru.
“Kalau begitu, saya saingan dengan benda yang tidak pernah mencuci piring.”
Sabrina tertawa lebih lepas daripada beberapa hari sebelumnya. Ia masih dapat marah tentang pesan ayahnya, sekaligus menikmati keluhan Bi Lela. Rumah tidak harus menghapus salah satunya.
***
Beberapa hari kemudian Bu Zubaidah dan Nabila datang membawa kue. Bi Lela mempersilakan masuk setelah bertanya kepada penghuni rumah. Percakapan awal mengenai kabar kesehatan Sabrina berlangsung singkat. Nabila kemudian meminta waktu berbicara dengan keduanya.
Ia menyampaikan bahwa dahulu ia menyukai Andaru. Perasaan itu disimpannya sebelum lelaki tersebut menikah. Sekarang ia tidak ingin terus mencari arti dari setiap bantuan yang pernah diterimanya.
Andaru menunggu sampai ia selesai, lalu menjawab dengan jelas. “Aku tidak membalas perasaan itu, Nab. Aku mencintai Sabrina dan ingin menjalani pernikahan kami.”
Nabila merapatkan kedua tangan di pangkuan. Ia berusaha tersenyum, tidak sepenuhnya berhasil.
“Aku sudah menduga,” katanya. “Tapi ternyata mendengar tetap berbeda.”
Sabrina tidak menyela dengan penghiburan yang menjanjikan Nabila akan segera menemukan orang lain. Ia mendengar perempuan itu meminta jarak untuk sementara. Andaru menyetujuinya tanpa menawarkan pertemuan khusus untuk membantu melupakan dirinya.
“Pekerjaan yang dulu kamu bantu carikan itu,” Nabila melanjutkan, “aku tidak pernah menganggapnya janji. Aku hanya takut selama ini aku sendiri yang menambahkan harapan.”
“Rekomendasi itu untuk pekerjaanmu,” jawab Andaru. “Tidak ada syarat pribadi. Kalau kamu perlu urusan praktisnya diteruskan melalui orang yang menangani, kita lakukan begitu.”
Bu Zubaidah yang duduk tidak jauh mendengar tanpa mengambil alih jawaban putrinya. Ketika Nabila mengatakan ingin pulang, ia berdiri. Sabrina mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka, lalu membiarkan percakapan selesai. Ia tidak meminta perempuan itu kembali esok hari untuk membuktikan mereka tidak bermusuhan.
Sesudah tamu pergi, Andaru duduk lagi. Ia tampak hendak menjelaskan panjang lebar, tetapi Sabrina lebih dahulu bertanya apakah pernah ada hubungan yang tidak diketahuinya. Andaru menjawab tidak. Ia menceritakan bantuan pekerjaan yang diberikannya kepada Nabila, tanpa mengubah perempuan itu menjadi seseorang yang patut dicurigai karena mengaku mempunyai perasaan.
“Aku tidak ingin tahu semua pembicaraan tetanggamu,” kata Sabrina. “Aku ingin tidak dibuat menebak soal yang memengaruhi pernikahanku.”
“Aku mengerti bedanya.”
“Kita lihat nanti ketika ada hal lain yang sulit dikatakan.”
Andaru menerima kalimat itu. Pengakuan tentang Sapto masih dekat; tidak ada gunanya meminta dipercaya hanya karena berhasil memberi satu jawaban yang benar.
Malamnya Sabrina menyiapkan rekaman pendek untuk kelompok mengajarnya. Seorang peserta menanyakan apakah pertemuan berikut dapat memakai bahan Braille yang telah mereka bahas. Sabrina menjawab melalui pesan suara, mengecek jadwalnya, lalu menyampaikan bagian yang sanggup disiapkannya.
Andaru mendengarkan dari ruang kerja hanya ketika Sabrina memanggil untuk meminta bantuan mengirim berkas. Ia duduk di sebelahnya, menjelaskan pilihan yang muncul, dan membiarkannya menentukan tujuan pengiriman. Setelah tanda terkirim terdengar, Sabrina meminta alat itu kembali.
“Sekarang kamu bekerja lagi,” katanya. “Aku juga masih punya pekerjaan.”
Ia kembali ke mejanya. Beberapa menit kemudian suara Andrea terdengar, kali ini hanya melalui penyuara telinga. Dari ruang tengah, Sabrina melanjutkan pelafalan yang direkamnya, mengulang satu bagian karena bunyi pintu mengganggu. Dua pekerjaan berlangsung dalam rumah yang sama. Tidak seorang pun harus menjadi penonton seharian bagi kehidupan yang lain.