Seminggu setelah pemeriksaan yang memastikan kehamilan Sabrina, Andaru menunda satu pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikannya sebelum makan siang. Layar di ruang kerja tetap menyala. Ia justru berdiri di depan lemari, memandang tas yang dahulu dibawa Sabrina ketika datang ke rumah ini.
Di ruang tengah, istrinya sedang mendengarkan bahan untuk mengajar. Suara pembaca layar berhenti ketika Andaru mendekat.
“Mas mencari sesuatu?”
“Aku ingin bicara tentang bapakmu.”
Sabrina meraba tombol jeda sekali lagi, memastikan perangkatnya berhenti. “Ada kabar dari polisi?”
“Bukan kabar penyelidikan. Ada perkataan beliau yang tidak pernah kusampaikan dengan benar.”
Andaru duduk di kursi seberang. Dahulu ia dapat berlindung di balik ketakutannya meninggalkan rumah. Kemudian ia berlindung di balik keinginan menjaga Sabrina. Setiap alasan terdengar lebih baik daripada mengakui bahwa ia telah menggunakan nama orang yang meninggal untuk memperoleh jawaban seorang anak yang baru kehilangan ayahnya.
“Bapakmu meminta aku menitipkan—” Ia berhenti, memperbaiki kalimatnya sendiri. “Beliau menitipkanmu kepadaku. Meminta aku menjagamu. Beliau tidak meminta kita menikah.”
Jemari Sabrina yang berada di atas perangkat tidak bergerak.
“Ulangi, Mas.”
Andaru mengulang dengan suara lebih jelas. Sesudah itu ia membiarkan keheningan berlangsung. Dari dapur terdengar Bi Lela menggeser kursi, lalu suara itu berhenti juga.
“Aku menerima pernikahan ini karena mengira itu permintaan terakhir bapak,” kata Sabrina. “Kamu tahu?”
“Aku tahu.”
“Kamu membiarkan aku mengambil keputusan dari sesuatu yang tidak beliau katakan.”
“Iya.”
Sabrina meletakkan perangkat di meja. Kali ini ia tidak mencari tangan Andaru. “Mengapa menikah? Kamu bisa membantuku dengan cara lain.”
Andaru meremas telapak tangannya sendiri. Jawaban yang paling buruk justru yang sejak tadi paling ingin dihindarinya.
“Aku takut keluar rumah. Aku ingin memenuhi janji menjaga anak beliau tanpa harus mengubah hidupku. Kalau kamu tinggal di sini sebagai istriku, kupikir semuanya lebih mudah diatur. Aku memikirkan caraku sendiri. Aku tidak memberimu keterangan yang benar untuk memilih.”
“Jadi aku dipindahkan ke rumahmu supaya kamu tidak harus pergi?”
Ia mengangguk, lalu sadar Sabrina membutuhkan jawaban yang dapat didengar. “Itu bagian dari alasanku waktu itu.”
“Jangan bilang kamu sudah mencintaiku sejak sebelum bertemu.”
“Tidak. Aku belum mengenalmu seperti sekarang. Perasaanku tumbuh setelah kita hidup bersama. Itu tidak mengubah alasan awal yang kusembunyikan.”
Sabrina menyandarkan punggung. Ada hal-hal baik yang benar-benar terjadi di antara mereka. Ia mengingat tangan Andaru yang gemetar ketika keluar menjemputnya, dan kegembiraan ketika mereka mendengar kabar kehamilan. Ingatan itu tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa lelaki yang dipercayainya membuat pesan ayahnya terdengar berbeda.
“Aku ingin berada sendiri di kamar,” katanya.
Andaru sudah setengah berdiri sebelum menahan gerakannya. “Kamu ingin Bi Lela menemani?”
“Aku akan memanggil kalau perlu. Jangan ikut.”
Ia mengambil tongkat yang diletakkan pada tempatnya dan berjalan ke kamar yang telah dikenalnya. Di ambang pintu, ia berhenti.
“Malam ini kamu tidur di ruang kerja. Aku tidak ingin dipindahkan ke tempat yang belum kuhafal hanya karena aku sedang marah.”
“Baik.”
Pintu tertutup. Andaru duduk lagi, membiarkan kursinya mengeluarkan bunyi keras ketika ia menjatuhkan tubuh. Bi Lela muncul dari dapur dan menanyakan apakah ada yang perlu dibantu. Ia nyaris meminta perempuan itu masuk membujuk Sabrina, lalu menggeleng.
“Tolong jangan menjelaskan niat saya untuk menggantikan yang tadi sudah saya katakan, Bi.”
Bi Lela menatapnya lama. “Kalau Sabrina bertanya, saya menjawab yang saya tahu. Selebihnya kamu yang harus bertanggung jawab.”
Andaru kembali ke ruang kerja. Ia memberi tahu Pak Joko bahwa pekerjaannya akan dikirim sesuai jadwal yang sudah disepakati, kemudian memaksa diri menyelesaikan bagian yang tertunda. Mengetik terasa lebih sulit. Namun ia tidak ingin mengubah penyesalannya menjadi alasan agar seluruh rumah harus mengurus dirinya.
Sore hari, Sabrina meminta Bi Lela membantu menyiapkan makanan yang dapat dibawa ke kamar. Ia makan sebagian, lalu menelepon orang yang mengoordinasikan kegiatan mengajarnya. Jadwal mendatang perlu disesuaikan dengan pemeriksaan kesehatan dan pemulihan setelah penculikan. Ia ingin tetap terlibat, dengan kegiatan yang sanggup dijalaninya.
Andaru mendengar suara panggilan dari lorong tanpa dapat menangkap seluruh percakapan. Ia meneruskan langkah. Mengetahui Sabrina sedang mengatur pekerjaannya sendiri tidak memberinya hak untuk mendengar semua keputusan.
Malam itu ia menggelar alas tidur di ruang kerja. Sebelum tidur, ia mengetuk sekali untuk meminta izin mengambil pakaian. Sabrina mengizinkan setelah selesai berganti. Ia masuk, mengambil yang diperlukan, lalu keluar tanpa mencoba duduk di tepi ranjang.
Dua hari berikutnya mereka membicarakan hal praktis melalui percakapan singkat. Sabrina tetap datang ke meja makan ketika ingin. Andaru memberi ruang ketika ia memilih kembali ke kamar. Bi Lela tidak membawa laporan tentang berapa kali Sabrina menangis atau bertanya. Rasa bersalah tidak memperoleh saluran baru untuk mengawasinya.
Pada pagi ketiga Sabrina meminta Andaru duduk di ruang tengah.
“Aku belum tahu apa yang akan kupilih seandainya dulu kamu jujur,” katanya. “Aku tidak mau kamu sekarang menjawab bahwa hasilnya pasti sama.”
“Aku tidak bisa tahu.”
“Dan aku tidak akan memutuskan masa depan kita hari ini hanya karena ada anak.”
Andaru memandang tangannya yang berada di pangkuan. “Aku mendengar.”
“Aku masih ingin mencoba menjalani pernikahan ini. Tapi aku marah. Kalau nanti aku teringat lagi, jangan tutup pembicaraan dengan mengatakan aku sudah memilih tinggal.”
“Aku tidak akan memakai keputusanmu hari ini untuk melarangmu bertanya.”
Sabrina meminta ia menceritakan pesan Sapto seturut yang benar-benar didengarnya. Andaru menjawab tanpa menambah kalimat restu atau permintaan yang tidak pernah ada. Ketika tidak mengingat kata persis di antara bunyi jalan dan rasa panik, ia mengatakannya. Ia masih mengingat titipan itu; ia tidak berhak menulis ulang seluruh percakapan terakhir demi membuat dirinya terdengar lebih pantas.
Mereka berhenti setelah Sabrina mengatakan lelah. Belum ada pelukan yang mengakhiri kemarahan. Namun sore itu ia meminta Andaru mengambil bahan ajarnya dari ruang kerja dan duduk sebentar ketika ia mencoba alat pemutar. Suaranya masih kaku, sesekali berhenti sebelum sebuah pertanyaan. Andaru menjawab yang ditanyakan.
Malam berikutnya, Sabrina memintanya kembali ke kamar. Ia ingin tidur di samping suaminya tanpa berpura-pura sudah melupakan pengakuan itu. Andaru merapikan alas di ruang kerja lebih dahulu. Ia datang setelah dipanggil, membawa air minum yang diminta, dan meletakkannya pada tempat yang Sabrina tentukan. Pernikahan mereka berlanjut dengan satu kebenaran yang terlambat disampaikan. Kali ini, kelanjutannya tidak boleh bergantung pada kata-kata seorang ayah yang telah mereka kehilangan.