Sabrina tersentak ketika roda kursi melewati sambungan lantai rumah sakit. Andaru menyebutkan bahwa mereka sedang memasuki lorong pemeriksaan, lalu berhenti saat seorang perawat meminta ruang untuk bergerak. Ia ingin terus memegang tangan istrinya, tetapi keinginannya berada paling dekat tidak boleh menghambat orang yang sedang menolong.
“Saya menunggu di depan pintu,” katanya.
“Jangan pergi tanpa bilang, Mas.”
“Iya.”
Aulian duduk bersamanya. Beberapa kali Andaru berdiri ketika mendengar pintu dibuka, lalu kembali duduk setelah mengetahui yang keluar bukan petugas yang memeriksa Sabrina. Ia baru menyadari tangannya kotor ketika Aulian menyodorkan tisu.
“Gue seharusnya menyusul waktu dia pergi.”
“Yang menculik Sabrina bukan lo, Dar.”
“Gue tahu. Tapi gue membentaknya.”
“Itu nanti lo akui. Jangan sampai permintaan maaf lo justru membuat dia harus menenangkan lo sekarang.”
Andaru menunduk. Ia masih ingat Sabrina menginginkan bubur, sementara ia begitu kesal karena rapatnya terganggu. Semua terlihat remeh sebelum berubah menjadi gambar istrinya dibawa empat orang asing.
Ketika diperbolehkan masuk, ia mendapati Sabrina berbaring dengan wajah mengarah ke pintu. Dokter menjelaskan hasil pemeriksaan awal serta hal yang masih perlu dipantau. Tidak ada jaminan bahwa satu pemeriksaan dapat menghapus seluruh akibat kejadian tadi. Sabrina mendengarkan, menanyakan keluhannya, lalu mengulangi kapan ia harus kembali.
Seorang petugas datang untuk memastikan keterangan lanjutan dapat diberikan setelah kondisinya memungkinkan. Kali ini Andaru tidak menjawab semua pertanyaan atas nama istrinya. Sabrina sendiri menceritakan tempat membeli bubur, langkah-langkah yang mendekat, dan suara yang sempat didengarnya sebelum kesadarannya kabur.
Ia tidak mengenali wajah para penculik. Ia juga tidak mengaku mendengar nama orang yang sebenarnya tidak sempat disebut di hadapannya. Andaru melengkapi bagian yang dilihatnya dari rekaman dan menyampaikan kecurigaannya tentang Eshan sebagai kecurigaan yang perlu diperiksa.
Setelah petugas pergi, Sabrina meraba sisi ranjang.
“Mas menangis?”
“Sedikit.”
“Suaranya bukan sedikit.”
Andaru tertawa pendek. Ia duduk lebih dekat setelah Sabrina menemukan tangannya.
“Saya takut terlambat.”
“Sabrina takut tidak ada yang tahu.”
Mereka diam cukup lama. Andaru tidak menyuruh istrinya segera melupakan gudang itu. Ia hanya menjelaskan bahwa Bi Lela sudah mendapat kabar dan Aulian berada di luar jika mereka membutuhkan sesuatu.
“Saya minta maaf karena membentakmu tadi pagi,” katanya kemudian. “Saya sedang takut dan kesal, tetapi kamu yang menerima semuanya.”
“Sabrina sedih, Mas. Kalau Mas menjelaskan, Sabrina bisa mendengar. Kalau cuma dilarang, Sabrina merasa semua keinginannya mengganggu.”
Andaru mengangguk, lalu mengucapkan persetujuannya agar Sabrina tidak harus menebak dari gerakan kepala. Mereka belum menyelesaikan seluruh kebiasaan buruk dalam beberapa menit. Namun, ia dapat mulai dengan berhenti mencari alasan atas satu bentakan yang masih diingat istrinya.
Mereka pulang setelah petugas kesehatan mengizinkan, membawa catatan yang perlu diikuti. Aulian kembali mengantar dengan mobil pinjaman. Andaru tidak mendadak memilih menjadi pengemudi setelah bertahun-tahun menghindari jalan. Ia duduk di samping Sabrina dan memberi tahu saat mereka tiba di depan pagar.
Bi Lela menunggu di ruang tengah. Ia hendak bangkit terlalu cepat sampai Aulian memintanya tetap duduk. Sabrina mendekat mengikuti suara panggilannya, kemudian memeluk perempuan itu sambil menangis lagi.
“Buburnya tidak jadi dibawa pulang, Bi.”
“Bubur bisa beli lagi, Mbak.”
Andaru berdiri di samping mereka dengan mata kembali basah. Aulian menepuk bahunya, lalu mengangkat kantong makanan yang dibelinya dalam perjalanan. Untuk sementara, tidak ada yang perlu memenangkan percakapan. Mereka hanya perlu makan dan membiarkan Sabrina beristirahat.
Malamnya Andaru menghubungi Pak Joko. Ia menjelaskan mengapa sambungan rapat tadi terputus dan meminta waktu mengurus keadaan darurat. Bosnya mendengarkan, kemudian meminta ia mengirim pembaruan pekerjaan yang sedang ditunggu tim.
Andaru tidak menjanjikan akan menyelesaikan semuanya malam itu. Ia menyebut pekerjaan yang sudah ada, yang belum selesai, serta kapan ia dapat memberi kabar berikutnya. Pak Joko menyetujui pengaturan sementara dan mengatakan jadwal selanjutnya akan dibahas kembali. Pekerjaannya tetap ada, dengan tanggung jawab yang perlu diurus setelah keadaan memungkinkan.
Ketika ia kembali ke kamar, Sabrina belum tidur.
“Dimarahi bos?”
“Ditanya pekerjaan yang saya tinggalkan.”
“Terus?”
“Saya jawab. Besok ada yang perlu dikirim, tetapi tidak semuanya harus saya kerjakan sekarang.”
Sabrina menggeser telapak tangan di atas selimut. “Mas sini dulu. Sabrina ingin bilang sesuatu.”
Ia sudah memikirkan perubahan kecil pada tubuhnya sejak beberapa hari terakhir. Ia belum berani menyimpulkan apa pun. Kejadian tadi membuatnya semakin ingin memeriksakan diri, bukan menebak dari selera makan atau menjadikan dugaan sebagai kabar kepada semua orang.
Andaru menawarkan menemani. Mereka mengatur perjalanan berikutnya dengan bantuan Aulian, lalu berhenti membicarakan kemungkinan yang belum mereka ketahui.
Keesokan harinya dokter mendengarkan keluhan Sabrina dan melakukan pemeriksaan yang diperlukan. Ketika hasil awal dijelaskan, Andaru sempat tidak menjawab sama sekali.
Sabrina sedang hamil. Masih awal, dan perkembangannya akan dipantau melalui kunjungan berikutnya.
“Mas?”
“Saya mendengar.”
“Kok diam?”
“Saya sedang mencoba tidak menangis di semua tempat yang kita datangi.”
Sabrina tertawa, kemudian ikut menangis. Dokter memberi mereka waktu sebelum meneruskan penjelasan. Andaru mendengarkan pertanyaan istrinya tentang jadwal dan keluhan yang dialami. Ia membantu mencatat setelah diminta, lalu membacakan kembali agar keduanya memahami informasi yang sama.
Di ruang tunggu, Sabrina merapatkan tas ke pangkuannya.
“Jangan langsung belanja perlengkapan bayi, Mas.”
“Saya belum membuka toko apa pun.”
“Kalau nama?”
Andaru terdiam terlalu lama.
Sabrina tersenyum. “Berarti sudah.”
“Baru terpikir sedikit.”
“Nanti kita pikirkan sama-sama. Sekarang Sabrina ingin pulang dan makan.”
Andaru menyimpan catatan pemeriksaan. Kabar itu tidak menghapus penculikan, tidak membereskan ancaman Eshan, dan tidak membuatnya tiba-tiba mengetahui cara menjadi ayah. Namun, ketika Sabrina mengulurkan tangan untuk mencari lengannya, ia dapat menyebut apa yang dirasakannya tanpa mengubahnya menjadi larangan.
“Saya bahagia,” katanya. “Saya juga takut.”
“Sabrina juga. Sekarang kita jalan pelan-pelan dulu, ya.”
Ia berdiri setelah istrinya siap. Mereka menuju tempat Aulian menunggu, membawa kabar yang akan mengubah hari-hari berikutnya, tanpa melupakan pemeriksaan lanjutan atau perkara yang masih harus ditangani.