Andaru menekan tombol panggilan begitu mobil gelap itu meninggalkan penjual bubur. Dua kali jarinya salah menyentuh layar. Di monitor kecil, kendaraan yang membawa Sabrina nyaris hilang di belakang sebuah truk.
“Angkat, Li. Tolong angkat.”
“Dar? Gue sedang—”
“Sabrina diculik. Gue lihat dari drone. Empat orang memasukkannya ke mobil.”
Aulian tidak menanyakan apakah Andaru yakin istrinya benar-benar diculik. Ia meminta rekaman dan lokasi terakhir, lalu menyuruh Andaru terus memantau kendaraan itu. Panggilan kedua akan digunakannya untuk melaporkan kejadian dan meminta bantuan petugas.
Bi Lela muncul di pintu ruang kerja dengan wajah pucat. Ia masih belum sehat, tetapi berpegangan pada kusen ketika mendengar nama Sabrina. Andaru menunjukkan layar tanpa sanggup menyusun kalimat lain.
“Ya Allah. Mbak Sabrina tadi cuma mau beli bubur.”
Andaru teringat bentakannya sendiri. Ia melarang Sabrina keluar seolah rasa takutnya dapat diselesaikan dengan membuat semua orang tinggal di rumah. Sekarang istrinya dibawa pergi dan ia bahkan kesulitan mengirim sebuah video.
“Bi, bantu pegang teleponnya.”
Bi Lela duduk di kursi, menerima ponsel yang disodorkan, lalu mengikuti petunjuknya untuk membagikan rekaman. Tangan Andaru tetap mengendalikan drone. Aulian mengabarkan bahwa ia sedang meminjam mobil dari kenalan Lila untuk menjemputnya. Abi sudah menerima salinan gambar dan membantu memperhatikan persimpangan yang mereka lewati.
“Gue ikut,” kata Andaru.
“Tunggu gue di rumah. Jangan mengejar sendirian.”
Andaru berdiri, tetapi kedua lututnya terasa begitu lemah sampai ia harus kembali berpegangan pada meja. Lima tahun menghindari jalan di luar tidak berakhir hanya karena ia sekarang mempunyai alasan untuk berani. Bunyi kendaraan dari pagar depan tetap membuat dadanya menegang.
Bi Lela mengambilkan jaket. “Mas berangkat sama Mas Aulian. Bibi menunggu kabar di sini.”
Ia ingin mengatakan jangan khawatir. Kalimat itu tidak keluar. Bi Lela berhak khawatir, sebagaimana Sabrina mungkin sedang ketakutan tanpa mengetahui apakah ada yang melihatnya dibawa pergi.
Ketika Aulian tiba, Andaru mengikuti sepupunya melewati pagar. Ia nyaris berhenti saat sebuah motor membunyikan klakson. Aulian menunggu di sisi mobil, tidak menarik lengannya.
“Masuk dulu, Dar. Rekamannya masih kelihatan?”
Andaru mengangguk. Ia duduk dengan layar di pangkuan dan menyebut belokan yang baru dilalui mobil gelap itu. Aulian mengemudi mengikuti arah tersebut, sementara laporan lokasi diperbarui melalui telepon. Mereka tidak perlu mengetahui seluruh rencana para penculik untuk mulai meminta pertolongan.
Gambar sempat terputus di belakang deretan bangunan. Andaru menahan napas, takut satu sentuhan yang salah akan membuatnya kehilangan Sabrina untuk selamanya.
“Jangan asal tekan,” kata Aulian. “Kita masih tahu jalan terakhirnya.”
Layar kembali menampilkan kendaraan ketika mereka mendekati kawasan pergudangan. Mobil itu berhenti di balik pagar seng yang sebagian terbuka. Dua orang turun lebih dahulu. Salah seorang membuka pintu belakang dan yang lain membantu menyeret Sabrina masuk ke bangunan.
“Di situ,” ujar Andaru. Suaranya hampir tidak terdengar.
Aulian menghentikan mobil sebelum tikungan. Ia memberikan posisi terakhir kepada petugas yang sedang menuju lokasi. Drone hanya memperlihatkan halaman, pintu, dan atap bangunan; begitu Sabrina dibawa ke dalam, Andaru tidak dapat melihat keadaannya lagi.
Ia membuka sabuk pengaman.
“Dar.”
“Dia ada di dalam.”
“Gue tahu. Kalau lo masuk lalu ikut ditahan, siapa yang memberi petugas rekaman dan arah masuk?”
Andaru menatap pagar. Ia marah karena jawaban Aulian masuk akal. Seluruh tubuhnya ingin bergerak, tetapi gerakan yang salah dapat membuat Sabrina semakin sulit ditolong.
Abi menelepon untuk memastikan salinan video tersimpan. Suara anak itu terdengar lebih muda ketika gugup. Aulian memintanya tetap di tempat aman dan tidak mencoba datang sendiri. Yang mereka perlukan darinya sekarang hanya menjaga salinan yang sudah diberikan Andaru.
Seorang penculik keluar sambil menelepon. Dari tempat mereka berlindung, Andaru hanya melihat gerakan mulutnya. Ia tidak dapat mendengar percakapan itu, apalagi memastikan kepada siapa pria tersebut melapor.
“Mungkin orang Eshan,” bisiknya.
“Sampaikan yang lo lihat dulu. Dugaan kita diperiksa sesudah Sabrina aman.”
Kendaraan petugas berhenti tidak jauh dari tikungan. Aulian mendekat dengan tangan terlihat dan menunjukkan arah bangunan. Andaru menyerahkan rekaman, menjelaskan empat orang yang dilihatnya, lalu mengatakan istrinya tidak bisa melihat. Keterangan terakhir membuat petugas meminta mereka tidak meneriakkan perintah berbeda-beda ketika korban ditemukan.
Mereka menunggu di belakang ketika petugas bergerak menuju pintu samping. Dari jarak yang kini lebih dekat, terdengar bentakan seorang lelaki, benturan kursi, kemudian suara perempuan.
“Tolong!”
Andaru bergerak refleks. Aulian memegang bahunya sebelum ia berlari melewati orang yang sedang mengamankan pintu.
“Kami dengar, Pak,” ujar seorang petugas. “Tetap di sini.”
Pintu terbuka. Lelaki yang muncul mencoba berbalik dan ditahan. Keributan berpindah ke belakang bangunan. Andaru tidak dapat menghitung semua langkah atau memahami seluruh teriakan; ia hanya melihat celah pintu dan berusaha menemukan Sabrina.
Beberapa saat kemudian seorang petugas memberi tanda kepadanya untuk mendekat melalui sisi yang telah diamankan.
Sabrina duduk dengan tangan terikat. Wajahnya pucat, kerudungnya bergeser, dan tubuhnya tersentak ketika mendengar langkah di dekat kursi.
“Sabrina, ini saya. Mas Andaru.”
“Mas?”
Ia berlutut di depannya. Seorang petugas melepaskan ikatan, lalu Sabrina mengulurkan tangan. Andaru menyambut jemarinya yang dingin. Ia baru berani mendekat ketika istrinya menarik tangannya sendiri.
“Mas benar-benar datang?”
“Saya datang. Kita keluar dari sini.”
Sabrina menangis tanpa segera mampu berdiri. Andaru ingin mengangkatnya, tetapi petugas meminta mereka bergerak perlahan setelah memastikan ia dapat mengikuti. Ia menggenggam tangan istrinya sambil menyebut letak ambang pintu.
Di luar, Aulian mendapat kabar bahwa tiga orang sudah diamankan dan seorang lagi melarikan diri melalui belakang. Ia tidak mengajak Andaru mengejar. Ketika sebuah mobil yang dikenalnya mendekati jalan masuk, ia menunjukkan kendaraan itu kepada petugas dan menyebut siapa yang diduganya berada di dalam.
“Eshan,” kata Andaru, tubuhnya kembali menegang.
“Biar kami periksa. Bawa korban menjauh dari lokasi,” jawab petugas.
Sabrina meremas tangannya. Andaru menoleh, melihat istrinya berusaha mengikuti suara-suara yang terlalu banyak, lalu memilih berjalan menuju mobil. Ia akan memberikan keterangan tentang pamannya. Ia tidak perlu membuat Sabrina menunggu di halaman gudang untuk menyaksikan kemarahannya.
Aulian membawa mereka menuju rumah sakit setelah petugas mencatat cara menghubungi mereka kembali. Bi Lela menerima kabar singkat bahwa Sabrina sudah ditemukan dan sedang dibawa untuk diperiksa.
Di kursi belakang, Sabrina masih memegang lengan Andaru.
“Mas ikut sampai sana?”
“Iya.”
Ia tidak menjanjikan tidak akan pernah takut lagi. Tangannya sendiri masih gemetar. Untuk perjalanan ini, ia tetap duduk di samping Sabrina dan menyebutkan ketika mobil mulai bergerak, ketika berbelok, dan ketika istrinya bertanya apakah mereka sudah meninggalkan gudang.