Sabtu setelah jualan, Adam benar-benar mengajak Tri ke toko buku. Mereka berangkat sesudah Aki memastikan bisa menemani Nini bersama Emak. Di antara rak, Tri berhenti pada buku masakan, sedangkan Adam bergerak menuju cerita yang sampulnya membuat gadis itu enggan melihat terlalu lama.
'Kalau semua tokohnya masuk rumah kosong, saya tidak mau diajak mencontoh,' kata Tri.
'Kita ke toko buku. Banyak orang.'
'Tetap saja bacaanmu mencurigakan.'
Adam tertawa dan memperlihatkan satu bagian yang menurutnya menarik. Tri mendekat untuk membaca, lalu hampir menjatuhkan buku ketika ada pengunjung lewat membawa tumpukan di belakangnya. Pemuda itu terkejut lebih dulu, membuat keduanya saling tuduh siapa sebenarnya yang takut.
Di rak masakan, gantian Tri memperlihatkan gambar alat yang belum pernah dipakainya. Adam menebak kegunaannya terlalu yakin, lalu ditertawakan setelah penjelasan pada halaman berikut dibaca. Ia menuduh Tri sengaja mengujinya untuk membalas ejekan tentang hantu. Gadis itu menyangkal sambil menahan senyum, kemudian mendekatkan buku agar mereka bisa membaca bersama. Bahu mereka bersentuhan. Adam berhenti bercanda beberapa saat, membuat Tri menoleh dan justru ikut salah tingkah. Ia kembali menunjuk halaman sebelum keduanya berdiri saling memandang lebih lama di tengah jalur orang lewat.
Sesudah berhenti tertawa, mereka memilih bacaan masing-masing dan menyempatkan makan sebelum pulang sesuai waktu yang disampaikan kepada keluarga.
Senin berikutnya Nini menjalani tindak lanjut yang telah dijadwalkan. Keluarga kembali mendengarkan arahan dan tidak menganggap pulang dari rumah sakit berarti semua bantuan dapat dihentikan. Setelah kebutuhan di rumah dibicarakan dengan Aki dan Tri, Asih serta Bi Nining kembali ke kampung pada Selasa. Mereka akan tetap saling memberi kabar dan mengatur kunjungan ketika diperlukan. Aki menemani Nini saat Tri berjualan, sementara jumlah pesanan disesuaikan dengan waktu yang benar-benar tersedia.
Pada Kamis siang, Ana datang bersama Dhifa ketika pembeli mulai berkurang. Tri mengangkat pandangan, merasakan kembali kesal yang belum seluruhnya hilang sejak pembatalan pesanan. Ia menyapa singkat dan menanyakan apakah keduanya hendak membeli.
'Dua kotak. Satu vanila, satu durian,' jawab Dhifa.
Ana tidak langsung ikut bicara. Ia memperhatikan tangan Tri bekerja, lalu mengatakan ingin meminta maaf setelah pesanan selesai. Gadis itu mempersilakan menunggu di sisi meja tanpa menghentikan pelanggan lain yang masih mengambil makanan.
Sesudah dua kotak siap, Ana membayar sesuai harga dan baru memulai kalimatnya. Ia mengakui pembatalan mendadak dilakukan karena kesal terhadap kedekatan Adam dan Tri. Ia tahu bahan sudah disiapkan, tetapi waktu itu sengaja membiarkan Dhifa menyampaikan kabar yang seharusnya dikatakan sendiri.
'Saya marah kepada orang yang tidak melakukan kesalahan dalam pesanan,' katanya.
Tri menutup wadah setelah memeriksa sisa. Ia menjawab bahwa bahan sebagian berhasil dijual, tetapi ada yang harus dibuang dan waktu kerja yang terbuang. Ia tidak menagih seluruh sembilan puluh ribu sebagai kerugian baru, sebab sebagian uang bahan telah kembali. Yang membuatnya masih kesal adalah pekerjaan orang dipakai melampiaskan urusan perasaan.
Ana mengangguk, wajahnya memerah. Ia tidak meminta pesanan mingguan dianggap langsung kembali seperti dulu. Dhifa menyampaikan maaf karena mengira temannya sudah mengabari, kemudian mengatakan jika hendak memesan lagi mereka akan memastikan langsung sebelum meminta bahan disediakan.
Pembicaraan beralih sebentar ketika Ana menyebut Reyhan. Ia sudah bertunangan sejak sebelum semua kejadian ini, dan kini telah berbicara langsung dengannya mengenai hubungan yang tidak sungguh dijalaninya. Mereka sepakat mengakhiri pertunangan, lalu menyampaikan kepada keluarga. Ana mengatakan keluarganya marah dan ia masih harus menghadapi akibatnya; keputusan itu tidak membuat hidupnya tiba-tiba mudah.
'Saya tidak datang untuk bilang sekarang saya bebas mengejar Adam lagi,' tambahnya. 'Saya harus berhenti membawa orang lain ke dalam jawaban yang tidak saya berani ucapkan sendiri.'
Tri mengangguk, tidak menjanjikan persahabatan baru pada saat itu juga. Ia berterima kasih karena permintaan maaf disampaikan langsung. Ketika pembeli berikut datang, Ana dan Dhifa memberi jalan, mengambil dua kotak yang dibayar, lalu berpamitan. Tidak ada tuntutan agar Tri langsung tersenyum seperti pesanan yang dibatalkan tidak pernah terjadi.
Sore itu ia menceritakan kunjungan tersebut kepada Adam di teras Engkong. Pemuda itu mendengarkan, menghela napas ketika mendengar pertunangan sudah diakhiri, lalu mengatakan ia berharap Ana dapat menghadapi keluarganya tanpa kembali menjadikan Tri sasaran. Ia tidak menawarkan mendatangi Reyhan untuk mengatur hidup keduanya.
Tri kemudian menanyakan sesuatu yang lama mengganjal sejak mendengar cerita tentang ibu Adam. Apakah kedekatan mereka membuatnya merasa aman semata-mata karena Tri tidak berasal dari keluarga kaya? Adam terdiam, jelas tidak menyangka pertanyaan itu datang di sela pembicaraan tentang dua kotak pancake.
'Aku memang takut ditinggalkan seperti waktu ibu pergi,' jawabnya pelan. 'Kadang aku terlalu cepat mengira orang yang punya banyak uang pasti akan memperlakukan orang lain begitu.'
'Lucky tidak memperlakukan saya begitu. Saya memilihmu karena saya ingin bersamamu, bukan karena dia kaya lalu pasti buruk.'
Adam mengangguk lama. Ia mengatakan ia tahu Lucky tidak melakukan hal yang sama dengan ibunya. Namun mengetahui sesuatu tidak selalu membuat ketakutan lama berhenti muncul. Ia perlu belajar tidak menjadikan pengalaman itu alasan menghakimi semua orang, termasuk menganggap dirinya selalu lebih baik hanya karena berada dekat Tri setiap hari.
Tri menyentuh punggung tangannya. Ia tidak menjanjikan semua pertengkaran akan dapat dihindari. Ia mengatakan ingin mendengar ketika Adam cemas, supaya ia tidak harus menebak lalu disalahkan atas jawaban yang hanya ada dalam kepala lelaki itu. Adam tersenyum kecil, menanyakan apakah sekarang ia juga boleh mengatakan takut cerita hantunya akan ditertawakan sepanjang mereka pacaran.
'Kalau hantunya bodoh, saya tetap tertawa,' jawab Tri.
Adam mengeluh, lalu membuka buku yang dibawa. Mereka membaca satu bagian bersama, berbeda pendapat tentang alasan tokoh bertahan di rumah kosong, dan akhirnya tertawa ketika Engkong menyuruh mereka mencari rumah yang jelas penghuninya. Saat Tri pulang, ia membawa bacaan yang dipinjamkan dengan sengaja. Hubungan mereka mulai terisi hal-hal yang ingin dikerjakan bersama, sementara pekerjaan, kuliah, dan utang tetap memerlukan usaha setelah sore yang menyenangkan selesai.