Jumat sore Adam datang ke rumah Engkong setelah kegiatan kampus selesai. Tri sudah menunggu di teras dengan tas kecil di samping kaki. Ketika pemuda itu tiba, ia berdiri terlalu cepat sampai tali tas hampir tersangkut kursi. Adam menahannya sebelum terjatuh, lalu menanyakan apakah percakapannya harus dimulai dengan latihan menangkap barang lagi.
'Duduk dulu. Saya yang gugup malah kamu komentari,' jawab Tri.
Adam tertawa, tetapi setelah duduk ia ikut terlihat tegang. Engkong berada di dalam dan sesekali terdengar berbicara dengan Memet. Suara keduanya terdengar bersahutan membicarakan jumlah buah, sementara Tri memandang Adam dan berusaha menyusun kalimat pembuka yang sejak tadi berantakan.
Ia menceritakan pertemuan dengan Lucky sehari sebelumnya. Gadis itu telah menyampaikan keputusan secara langsung, dan Lucky membutuhkan waktu sebelum membicarakan kerja sama lagi. Mengingat kekecewaan pria itu masih membuat suaranya melambat, tetapi ia ingin Adam mengetahui keputusan ini sudah disampaikan dengan jelas.
'Saya memang pernah menyukainya. Sekarang saya sudah mengatakan pilihan saya,' ujarnya.
Adam menatapnya, seolah takut bergerak sebelum mendengar bagian terakhir. 'Pilihan yang mana?'
'Kamu, Adam. Saya ingin menjadi pacarmu, kalau kamu masih mau.'
Pemuda itu membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Tri menunggu, kali ini tidak sanggup menambahkan gurauan untuk menyelamatkan diri dari hening. Adam mengusap tengkuknya dan akhirnya tertawa pendek dengan wajah yang jelas ingin tersenyum lebih lebar.
'Aku masih mau. Tadi aku cuma takut salah dengar.'
'Kalau salah dengar, mungkin saya harus mengulang sambil pakai papan harga.'
'Tulis besar. Jangan seperti angka tujuh di buku jualan.'
Tri memukul lengannya ringan, lalu tertawa karena napas yang sejak tadi tertahan akhirnya bisa dilepaskan. Adam bergeser sedikit lebih dekat, menanyakan apakah ia boleh memegang tangannya. Gadis itu mengangguk dan menyambut telapak yang diulurkan dengan jari masih terasa dingin.
Mereka duduk beberapa saat tanpa buru-buru mengisi setiap jeda. Tri menyadari tidak ada rasa lega karena kewajiban uang telah terbayar lewat jawaban itu. Dua juta masih pinjaman yang harus dikembalikan. Yang membuatnya tersenyum justru bayangan percakapan yang akan dilanjutkan sesudah sore ini, termasuk dua halaman cerita yang masih ingin dikomentarinya.
'Terus janji kita akan selalu sahabat bagaimana?' tanyanya.
Adam menunduk pada tangan mereka. Ia mengatakan dahulu janji itu diberikan setelah dirinya mengaku hubungan yang belum disetujui Tri. Ia memang ingin tetap dekat, tetapi bukan berarti dapat memakai janji lama untuk menetapkan jawaban sekarang.
'Aku ingin tetap menjadi temanmu juga. Sekarang kita sama-sama tahu hubungan ini disetujui berdua.'
Tri mengangguk. Ketika Engkong keluar membawa buku pesanan, mereka belum melepaskan tangan. Lelaki tua itu berhenti di ambang pintu, melihat Adam, kemudian menatap Tri seolah memastikan cucunya tidak kembali mengumumkan pacar sendirian.
'Yang ini bener, atau lu ngaku-ngaku lagi?' tanyanya.
Adam hendak menjawab, tetapi Tri lebih dulu mengatakan benar. Ia yang datang menyampaikan keputusan. Engkong mengangguk puas, lalu menyuruh Adam mengambilkan kacamata yang tertinggal di dalam. Pemuda itu memandang tangan yang masih digenggam, membuat kakeknya mendengus.
'Tangannya bisa dilepas sebentar. Kacamata gue tidak bisa jalan sendiri.'
Tri tertawa sampai harus menutupi wajah. Adam bangkit dengan telinga memerah, mengambil barang yang diminta, lalu kembali ke kursi. Engkong membuka buku seolah tidak memperhatikan lagi, padahal komentar mengenai pesanan buah berikutnya sengaja disampaikan lebih keras dari biasanya.
Ketika Engkong kembali masuk, Adam bertanya apakah sekarang ia boleh mengajak Tri pergi pada Sabtu setelah jualan. Gadis itu menanyakan tujuannya lebih dulu, lalu tertawa ketika ia mengusulkan toko buku. Ia mengaku ingin mencari bacaan dan memperlihatkan rak cerita yang selama ini dibicarakan. Tri bersedia, selama waktu pulang cocok dengan pembagian tugas di rumah. Adam langsung mengeluarkan telepon, kemudian diminta menyimpannya lagi karena mereka belum selesai berbicara. Ia tertawa malu dan meletakkan benda itu di saku. Merencanakan pertemuan kecil ternyata membuatnya lebih gugup daripada membagi tugas kegiatan kampus.
Setelah percakapan mereda, Tri mengatakan ingin memberi tahu Aki dan Nini. Adam bersedia ikut, tetapi menanyakan apakah Emak yang masih tinggal di rumah juga akan mendengar. Gadis itu menjawab tentu, sambil mengingatkan ia tidak perlu membawa pengumuman lamaran. Mereka baru menyepakati hubungan, bukan menentukan hari pernikahan tanpa membahas kehidupan yang masih berjalan.
Mereka berpamitan kepada Engkong lalu berjalan ke kontrakan. Di depan pintu, Adam kembali tampak gugup. Tri menyenggol lengannya pelan dan masuk lebih dulu. Aki sedang duduk dekat Nini, sementara Asih serta Bi Nining menyiapkan minuman di sisi ruangan.
Tri menjelaskan singkat. Ia serta Adam ingin menjalani hubungan dengan serius, dan keduanya tetap perlu bekerja serta menyelesaikan urusan belajar. Nini menatap cucunya, lalu bertanya apakah ini berarti Adam tidak perlu lagi berpura-pura datang hanya untuk membeli vanila.
'Saya memang suka vanila, Ni,' jawab pemuda itu cepat.
'Iya. Nini tidak bilang dilarang membeli.'
Tawa muncul sebelum Asih menanyakan rencana berikutnya. Tri mengatakan ia hendak mengembalikan pinjaman perawatan lebih dulu sambil membangun tabungan kuliah lagi. Adam tetap menjalani kuliah dan menjaga kesempatan yang diperolehnya. Mereka belum menetapkan tanggal menikah. Emak mengangguk setelah sempat melihat Aki, kemudian menyuruh Adam duduk, bukan berdiri seperti tamu yang menunggu keputusan sidang.
Aki mengatakan ia senang mendengar langsung dari keduanya. Ia memandang Adam, kemudian Tri, memastikan cucunya dapat menjelaskan sendiri apa yang diinginkan. Ia ingin Tri dapat menyampaikan keberatan dan didengar, seperti orang lain yang juga mempunyai keinginan dalam hubungan. Adam mengangguk, lalu mengakui ia pasti masih bisa salah bicara dan perlu diingatkan.
Sore itu mereka minum bersama sampai Adam harus kembali mengurus pekerjaannya. Ia berpamitan, mengucapkan salam kepada semuanya, lalu berjalan pulang dengan senyum yang tidak lagi berhasil disembunyikan. Tri mengantarnya sampai pintu, menahan diri untuk tidak tertawa ketika lelaki itu hampir salah mengambil sandal.
Sesudahnya ia membantu Emak membereskan gelas. Nini menanyakan apakah ia senang. Tri mengangguk, kali ini tanpa menambahkan alasan mengenai bantuan, utang, atau kewajiban keluarga. Ia senang karena telah memilih dan dipilih kembali, pada sore yang tidak meminta dirinya menjadi pengganti pembayaran apa pun.